Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Sunday, June 16, 2013

TEPIAN WAKTU

 Words are the most powerful drug used by mankind  - Rudyard Kipling -

Pendidik yang baik adalah yang memiliki hati, mengantarkan ilmu bagi peserta didiknya.
Hidup bukan untuk diri sendiri, tapi sebaik-baik hidup adalah bermanfaat bagi orang lain.

Passion dalam jiwa akan membuatku kembali hidup, dengan mata yang berbinar..

Yang bisa melahirkan dan membunuh keinginan itu.. hanya  diri sendiri...
Maka,
Laki-laki harus memperjuangkan wanita yang dicintainya..
Bagai pendakian ke puncak gunung...  #FilmJokowi



Haiii... 
Paaaaggiiii...

Hayy... haayy.... Masih ingat.. Vie ga..niiyyy...?? Haahahahahaha... maaf yaa.. listener, harus tumbang dan menyembuhkan diri dulu... jadi berapa hari harus menghilang.
Makanya... 
Kalimat-kalimat motivasi di atas.. Vie bagi dari beragam sumber untuk membangkitkan semangat pagi ini...
Wuuiihh... ga terasa yaa.. Sudah jelang malam minggu, so... siapkan dirimu sebaik mungkin.. nikmati selagi masih ada waktu dan kesempatan yaaa......
Boleh yaa... Vie putarkan "Here Without You" dari Three Doors Down, untuk buka pertemuan kita..
Titip niihh... ingin sampaikan pesan..

Well, setengah memaksakan kondisi... Aku memang datang ke studio.  Tak ada yang bisa menahanku hari ini.  Jiwa dan hatiku ingin terbang membebaskan keinginan, melambungkan angan.
Mbak Anis dan Mas Pranoto pun hanya tersenyum..
Badanmu masih panas... Vie, bisik Mbak Anis ketika menyapaku dengan pelukan hangat, harusnya tak kau paksakan.

Yaa... itulah aku.
Masih ingat....?  Bahwa dulu.. jika aku kecewa atau sedih.. akan kudaki gunung atau menepi di pinggir pantai.  Hanya untuk menyaksikan sunrise atau sunset.  Atau mendapat kesempatan berteriak lepas.
Namun... itu dulu..
Kini... aku belajar mengurangi kebiasaan itu.  Bukan karena tak mampu.  Tapi rasanya... menepi dengan meminum kopi sambil melihat Bandung View itu luar biasa menenangkan.
Yaa... tetap mendaki, hanya tidak jalan kaki.  Pakai angkot sajalah... hehehe, tersenyum simpul.

Jika ada waktu terluang, rasanya kalian bisa mampir di Kafe Kopi Ireng.  Tak akan kecewa oleh pemandangan terhampar yang kini aku nikmati.  Bandung dari ketinggian.  Bahkan awan hujan yang akan kalian lihat di sini, akan sangat berbeda dari apa yang biasa terlihat dari bawah.
Bersama netbookku terus kutulis cerita pendek ini.  Hanya untuk menguraikan benang kusut otak.  Melegakan fikiran ribetku.  Itu yang kulakukan hari ini, setelah siaran.  Tak ada teman berbicara, juga penantian yang panjang kali ini.  Karena aku memang datang sendiri.  Masih memesan hal yang sama, Jahe Pletok dan Pisang Goreng dengan Saus Kacang.  Bukan kopi...
Hahahahahaa..... nantilah, bisikku perlahan..
Karena aku tanpa kopi, adalah keajaiban.  Berarti kram otakku sudah mematikan syaraf normalku.

Menyelesaikan apa yang telah dimulai, memang tak butuh waktu yang lama buatku. Pagi ini... sebelum berangkat, aku menikmati cerita perjalanan wanita hebat yang ada di satu TV swasta.  Sangat inspiratif.
Tadi... sebagian kalimatnya kugunakan untuk memotivasi pendengar radioku.
Yaa... profesiku memang membutuhkan kemauan selalu mencari informasi.  Hampir sama seperti reporter atau wartawan.  Selalu mengejar informasi, banyak membaca dan belajar menuliskannya kembali.

Hahahahahahaa.... terkadang keterampilan menjadi motivator ini merepotkanku.  Karena sebagian besar yang terkagum dengan apa yang aku sampaikan, baik ketika siaran atau pun memberi konsultasi di kampus, adalah kaum Adam.

Yaaa.... itulah hidup kan?

Tak ada yang salah dengan cinta, karena ia datang tak diundang.
Jarak yang terbentang, seharusnya tak memudarkannya.
[Hanya] selama kau meyakininya.

Inilah yang selalu aku ingatkan pada Dy... untuk menjawab sebagian besar ketakutanku, dan mungkin hanya sebagian kecil ketakutannya juga.  Aku selalu katakan.. bahwa apa yang mengalir ini... unlimited.
Seperti apa yang ia lakukan untukku semalam.  Pengalaman yang terlalui memang tak pernah terbayangkan.  Walau sedetik pun.  Dy menemani hingga aku tertidur, dengan tetap berbincang melalui HP dan headset yang melekat di telinga, juga mendengarkannya menyanyikan lagu-lagu.  Thanks.. Dy, berbisik dengan mata terpejam.  Benar kulakukan berulang-ulang.  Tak terfikirkan.. apakah ia mendengar atau tidak.  Aku hanya ingin mengucapkan itu.

Karena tak pernah aku menerima perlakuan semanis ini.  Belum bisa menjawab banyak tanya yang tetap berkecamuk dalam fikiranku.  
Kenapa banyak pengalaman manis dan selalu merasa menerima perlakuan yang teramat manis, ketika bersama Dy?   

Hhhhmmmmmmm.... kutaburkan tanya di angin, ketika beranjak ke tepi balkon, melihat pemandangan yang terhampar. 

Yang kuinginkan, hanya ingin... Dy tahu, kehadirannya amat berarti.  Tak ingin terjaga sendiri.  Tak juga terbayangkan, bangun tanpa bisa melihat dirinya lagi.  Walau aku tak bisa menahannya di sini, tetap di sisiku. Karena jika Dy inginkan meninggalkanku dengan mimpi bersamanya.  Maka, andai pun terasa teramat berat, akan harus kulakukan juga.  Karena itulah janjiku... dulu.. Aaaaahh... promises, promises...

Aaahh.... iya, tiba-tiba terlintas jika aku memesan kopi di sini, hanya di sini, maka aku bisa mendapatkan Brown Sugar.  Teringat itu, aku kemudian memesan Black Cappucino.  Yaa... Jaheku juga sudah habis kuteguk.  Sangat dingin di sini.  Maka kehangatan segera terasa, karena ada rempah-rempah yang dicampurkan.
Yaa.. ini benar aku.. Vie yang sulit berpisah dari kopi.. tersenyum simpul menutup hari.
Membenarkan letak kacamata, yang tiba-tiba saja berembun.

Bosankah... aku sendirian di sini?
Aku selalu bersolo karier.  Kata teman-temanku dulu.  Tak pernah tergantung pada orang lain.
Iya lah.. karena kebiasaanku, memang sedikit berbeda dengan wanita lain.  Aku bisa menulis berjam-jam.  Tahan membaca berhari-hari.  Atau hanya window shopping saja.  Yang membuatku berbeda.. adalah batasan waktu yang kudisiplinkan.  Rencana hidup detil yang kubuat.

Uuuuupppss...
Jujur.. ada sedikit kebosanan.  Karena tak ada tawa hari ini.  Masih kram otak.. konslet jiwa..
Hahahahahahahaa.... hanya itu yang kuketik, sebagai jawaban sms singkat Dy siang ini.
Namun, yang tak ia ketahui... menepikan diri dan fikiranku di sini.  Memang sedikit mengurangi kepenatan.

"Ke mana... Vie? Langsung pulang yaaa.... jangan kelayapan.  Masih panas tuuuh... badannya," pesan Mbak Anis ketika aku pamit meninggalkan studio.

"Sebentar saja... Mbak.  Pengen menepi sesaat di Dago," jawabku.
"Oke... lakukanlah.. jika itu memang bisa menyembuhkanmu.  Tapi... batasi waktunya."
"I will... Mbak." (without crossed fingers,  karena aku memang ingin benar-benar berjanji padanya)

Melangkah.. tetap dengan semangat.  Menunggu angkot, karena hanya ingin bersantai.  Duduk dan menanti sampai ke tujuan.  Walau pun akibatnya, tujuan yang terbatas dan berhadapan dengan kemacetan lalu lintas.
Bandung.. memang menjadi destinasi wisata orang-orang yang tinggal d Jakarta.  Hingga jika week end, ruas-ruas jalan di seluruh wilayah di kota ini, akan penuh sesak.
Aku pun memutuskan datang ke sini, menghitung waktu.  Waktunya harus tepat, karena tempat ini akan menarik, jika mendapatkan tempat di balkon.  Very cozy place and recommended.
 
Dan... di sinilah aku...
Duduk di balkon menatap pemandangan indah yang terhampar dengan tatapan nanar dan berkabut..
Kembalilah sendiri...
Menepi di tepian waktu..

Terasa kehilanganmu... hari ini.. Dy (sangat) 
@Kopi Ireng

Saturday, June 15, 2013

KEINDAHAN HATI

"Mbak... maaf aku ga bisa siaran pagi ini... Demam...," kabarku pada Mbak Anis.
"Oaalaaa.... Vie, kamu terlalu memaksakan diri yaa... minggu ini??," tanyanya khawatir.
"Yaa... bagaimana.. Mbak.  Semua harus aku jalani kan?? Dua kali tes... di sela-sela waktu," ujaku menenangkannya. "Hari Minggu... akan menjalani banyak rencana.. Mbak.  Jadi harus dipaksakan beristirahat hari ini."
"Ok.. Vie, take your rest time yaa...??.  Benar-benar diam di rumah...," pesannya.
"Iyyaaa.... Mbak, paling aku menulis saja... tak bisalah.. aku benar-benar diam," sanggahku.
"Iyaa..." tutupnya di percakapan kami.

Aku tersenyum ketika menyatakan itu, karena buatku (benar) diam adalah separuh mati.  Itu yang selalu buatku lalai jika fisikku mulai memberikan tanda.  Tanda harus beristirahat.  Berhenti sejenak dari kepadatan aktifitas dan fikiran yang terasa "kram".   Sambil bergurau... aku katakan pada Dy, maaf kalau memang sedikit error... lagi kram otak.  Jadi minggu ini kalau agak 'nyeleneh'.
Akhirnya aku tumbang juga.  Menyerah pada batasan .

Sejak Senin, sebenarnya aku sudah merasakan gejalanya.  Tapi kuabaikan.  Karena terlalu memikirkannya.  Dan butuh energi untuk menjadikannya positif.  Tidak mudah. Itu saja.. yang kurasakan.

You say... 
You love Rain, 
But you use umbrella to walk it..
You say..
You love Sun,
But you seek shade when it is shining..
You say..
You love Wind,
But when it comes you close the window..
So..
That's why I'm scared..
When You say...
You care about me,
Because honestly..
I couldn't stand anymore for your leaving..

Ini yang menjadi pemikiran yang melelahkan, ketika melihat fakta yang terhampar memang tak mungkin.  Aaahhh... resah yang membadai ini buatku semakin ringkih dan rapuh.  Rapuh menjalani hari yang memang tengah pekat.  Dan seperti takut kehabisan waktu... kukejar semua yang ingin kujalani dengannya.  Karena terlalu indah.  Namun biarlah waktu yang akan memberi jawaban.

Tak pernah bisa membayangkan, jika mimpi akan memisahkan.  Jarak yang teramat panjang.  Mimpi yang terlalu jauh untuk disamakan.  Hmmmmm.... lelah rasanya, memikirkan ini.  Yang kuingin, menata lagi fikiran, membuatnya positif.  Promises, promises.... bisikku menenangkan diri.  Harus berhenti di titik ini.  Titik khayalan yang melelahkan otak dan hati.

Come on... Vie, jalani saja hari per hari.  Tak perlu kau tentukan kemana arah angin membatasi.  Yang datang, akan pergi.  Tetap berjanji untuk selalu kembali, itulah pribadinya.  Yakini dan jalani.. dengan ketenangan hati.

Aku benar menghibur diri, untuk semua yang harus dijalani ini.  Kuulang kembali semua perjalanan yang kujalani.  Ada dua ujian, tetap siaran, dan banyak aktifitas tambahan lain.  Benar-benar petualang sejati.

Dari semua hari yang kujalani, hanya satu yang tak pernah terhenti.  Aku senang menepi bersama Dy, di antara kesibukan kami masing-masing.  Hanya untuk bicara, berbagi dan tertawa bersama.  Menceritakan beragam topik.  Benar-benar melintasi batas ruang dan waktu.  Memang sangat menyenangkan, jika bisa membagi cerita, di akhir kesibukan, bersama orang yang perduli.  Benar menutup kesempurnaan hari.
Peka terhadap semua perubahan yang hanya terlihat oleh jiwa yang menyatu.
Dalam rasa, jiwa dan hati.

Ini yang seringkali dilupakan banyak orang, manakala terjebak dalam kegiatan dan pekerjaannya.  Bersama Dy, aku belajar makna berbagi.  Tak perlulah selalu di tempat yang indah.  Karena hakikatnya bukan masalah tempat, yang penting adalah kebersamaan yang tak pura-pura.  Kebersamaan yang penuh makna.

Dan memang.. tak ada yang sempurna.
Jika terjadi perdebatan hati.. maka dalam komunikasi pun bisa menemui jalan buntu.  Dua hari aku mencoba memahami Dy, dengan kesalahpahaman di antara kami.  Tak mudah... tapi bukan tak mungkin.
Yang terpenting... jangan letih belajar...
Apa pun adanya.... akhirnya keterbukaan dan kejujuran untuk menembus jeda, itu adalah kesejatian komunikasi.   Belum pernah terlihat keindahan ini di kehidupanku sebelumnya. 
Dan... semuanya memang akhirnya kembali baik-baik saja.  Hanya hati yang selalu memaafkan dan terus belajar mengerti, serta memahamilah yang mampu menyelesaikan masalah dengan bijak.

Really missed you all the time.... Dy, terus kubisikkan itu di antara kesibukan yang mendera.

Semua selalu berawal dari, berhenti.... duduk.... dan berbagi cerita...
Indah kan...??

Dan,
Keindahan itu pun kembali mengalir...
Di tempat favorit kami.. tempat yang tenang untuk menepi..
Aku terlalu mengantuk, dan dalam terlelap pun... kerinduan itu tak pernah terhenti.  Meminta izin Dy, untuk bisa berbaring di pangkuannya.  Sesaat.. benar bisa.  Dan kemudian berganti di bahunya.. mendapatkan rasa yang lebih nyaman karena bisa terlelap dengan memegang tangannya.  Aku memang ribet kalau mau tidur... Dy... bisikku.  Selanjutnya... apa yang dikatakan Dy, hanya kujawab dengan gumaman lirih, karena aku memang sudah setengah tertidur.
Sudah beberapa hari... aku memang tak bisa tertidur dengan nyenyak.
Hingga kedamaian yang kurasakan kini, terasa sangat bermakna.
Mungkin... Dy bertanya dalam hati, kenapa aku memunggunginya.. hanya memegang erat tangannya.

Tak pernah ia tahu betapa... sebenarnya..
Takkan bisa kutahan diriku, jika bersandar di bahunya, dengan bisa mendengarkan degup jantungnya.  Harus benar kutahan tidak melakukan ritual yang sangat kusuka.  Selalu kulakukan untuk menyatakan rasa yang terdekap.  Membisikkan kata-kata lembut di telinganya, dan mengecup pipinya.  Maka semua itu akan menutup malamku dengan sangat sempurna.
Hahahahaa.... angan itu terkubur bersamaku yang mulai terlelap.

Hanya sekejap saja...
Sebentar saja... Dy,
Karena hanya (sebentar) yang bisa kuharapkan...
Tapi jika kau tahu.. itu semua mampu merebahkan hati yang lelah, dan terpendar duka yang dalam.  Kubiarkan sejenak angan melayang, meninggalkan beban yang menggelayut di langit jiwa.
Membebaskan rasa.
Seperti mengerti semua itu... Dy mengusap kepalaku.. dengan sentuhan yang indah.
Hmmm... jawabku lirih, ketika ia mengatakan kalimat yang tak berapa kudengar.
Aku hanya minta padanya waktu sejenak... karena aku memang hanya ingin sesaat saja merasakan semua.
Bukan karena aku tak suka, tapi karena aku mengerti dan memahami... Dy dan hidupnya.

Terimakasiiiihh..... sebenarnya takkan pernah cukup, untuk mengurai hal-hal yang teramat manis yang kau bagi untukku... Dy..
Izinkan saja... terus kukenang itu, nikmati itu dalam penggalan waktu kebersamaan kita kini.  Tak apalah jika kulepas kau pergi menjemput mimpimu..
#selalu kembali saja..
Bagaimana pun caramu kembali..

Perjalanan pulang yang teramat manis,  seperti biasa...
Tak ingin kukatakan apa yang berkecamuk, biarlah saja tertiup angin malam yang memang teramat dingin, oleh guyuran hujan.
Aaahhh... biarkanlah... Vie,
Bebaskan rasamu...

Pelukan yang kuberikan ketika melepasnya pulang, selalu menyelipkan do'a penutup "Terimakasih... Yaa Rabb, masih kau izinkan aku bersamanya menikmati hari ini."
Aku memang terbiasa melakukan itu... dulu..

Kemudian.. selesai sholat subuh.... kutuliskan untuknya melalui pesan singkat...

Kupanggil kau Bintang, bukan tanpa alasan..
Walaau ia tak seterang Bulan, atau sebesar Matahari..
Tahukah kau...
Bahwa ia adalah Pemandu Nelayan yang tersesat,
juga selalu jadi Sahabat bagi Petualang yang kesepian,
Dan itulah arti hadirmu dalam hidupku...
Di malamku, 
Kau jadi penerang hati bersama Kunang-kunang..
Di siangku,
Kau Sahabat yang menjabat erat..
Di hari-hariku,
Kau adalah embun yang menyejukkan..
Maka,
Izinkanlah aku meminta..
Terulah temani dan dampingi langkah-langkahku... BINTANG,
#tanpalelahdanjeda

Paagiiii.... Mentari...
Sapa Dy yang sangat khas..

Paaagiii...
Karena aku sangat menyukai pagi.  Kukatakan itu pada mahasiswa yang menghubungiku untuk melakukan konsultasi.  Tak ingin aku menyimpan sendiri semua ilmu yang kupunya.  Keindahan berbagi selalu menjadi semangat menjalani hari.  Semangat yang selalu ada.. walau hati tetap berkecamuk dengan kerumitannya.

Andai Dy ada di sini..
Akan kembali kukecup pipinya, dan kubisikkan.. "I love you...." yang akan membuatnya terjaga dari tidurnya, dan kemudian pasti akan kulanjut dengan do'a "Terimakasih... Yaaa Rabb, hari ini aku masih bisa menghabiskan waktu bersamanya... lagi."
Seperti yang kutulis...
Aku selalu melakukan itu.. dulu..

Buatku...
Kehidupan itu memang harus dinikmati per detik, per menit, per jam dan per hari saja.  Itulah yang membuatku.. selalu ditanya Dy... berapa lama waktu yang merentang kala kami tak bersama.
Mungkin... tak ada orang lain yang melakukan itu.
Mungkin.. karena mereka tak tahu makna kehilangan dan belum pernah kehilangan.
Tidak seperti diriku...
Yang selalu terjebak dan terperangkap dalam rasa "takut" kehilangan...

Hari ini... (seharusnya kutulis kemarin),
Keterlambatan tes yang harus kujalani... membuang semua keresahan yang ditimbulkan oleh banyak ketidaknyamanan hidup yang ada.
Aaahhh... man shobaro dhofaro...
Kesabaran itu memang tak berbatas, karena batasan ada dalam fikiran han hati kita saja, desahku.
Pertemuan dengan Teh Dya, membuatku kembali semangat menjalani proses meretas mimpiku ini.
Walau kutahu... sangat bisa mengerti.. ini akan semakin merentangkan jarak antara aku dan Dy.

Biarlah waktu yang mengalirkan cerita ini, menepikan waktu.. yaa...
Jalani juga hidup dan mimpimu... Dy,  jelasku padanya hari ini.

Sssttttttttttttttt..... jarimu menutup bibirku untuk lanjutkan kalimat yang telah kususun.

Kami tetap bisa berkomunikasi, melalui rentangan kecanggihan teknologi, melalui satelit.  Dan inilah nanti cara kami.  Selalu beda... Vie, enak kalau ketemu, keluhnya ketika itu.  Aku tertawa.   
Sudahlah... bagaimana kalau nanti kau juga ikut menyusul..., gurauku sambil menyembunyikan kekhawatiran yang sama.   Memang tak akan pernah sama... Dy, gumamku.  Sentuhan itulah yang membongkar jarak antara kita.  Mendobrak jarak antara kita.  Benar-benar membuat komunikasi yang teramat indah dan manis.   Seperti Brown Sugar.. yang tak lagi kita temukan selain di Kopi Ireng.

Hahahaha... enaknya yaa.. Dy, jika kita duduk dan berbagi, kukirimkan pesan padanya, di tengah kesibukanku membantu Nana menyelesaikan tesisnya.
Say... bukan begitu.... jelasku pada Nana, ketika aku melihatnya melanjutkan editanku, memotong pesan yang akan kukirim, karena Dy memang rupanya juga ingin kami bertemu.
Duuuh.... betapa berat yaa.. Dy, buatku (menurutku) untuk tak menghabiskan satu pertemuan untuk bisa duduk dan bercerita bersama.  Membagi tawaku yang hanya bisa muncul lepas, jika bersamamu.  Percayakah kau... Dy??

Kelelahan yang muncul di wajahku pagi ini, terhapuskan oleh gurauan aku dan Nana, dengan mengirimkan SMS pada Yuni yang akan menikah, menanyakan apakah kami di bagi seragam panitia.
#beingbeingonly
Sudahlah... panik nanti diaa.... mereka menyiapkan semua persiapan pernikahan ini sendiri.. Say, kataku pada Nana, yang terus terbahak melihat respon Yuni.
Akhirnya... kuketikkan, don't bother with that.. dear, we (me+Nana) are in deep depression.  It's all just the jokes.  dan kembali lega karena membaca respoon yang positif.

"Say... gue turun di sini yaa... ", kataku tiba-tiba ketika melihat Taruna Bakti.
"Do you have an appointment with someone?," tanya Nana penuh curiga dan keterkejutan.
"Yes.."
"Ok.. just don't go home late... Say..," pesannya.
"I will....," jawabku ringan.


Tak lama berselang... aku membelakangi jalan raya, dan kudengar seseorang memanggil, "haaaiii...."
Aku sontak menoleh dan kemudian mendapati wajahnya.. yang di selalu kurindukan.  Wajah yang lelah, wajah yang sepertinya menahan sakit.
"Are you okay?," itu selalu kutanyakan. 
Namun  Dy selalu menjawabnya ringan.. "Yes.."

Hmmmmm.... Dy, seharusnya tak perlu kau sembunyikan kesakitanmu dariku.
Tak tahukah dirimu... Kau akan tetap jadi Dy yang terhebat yang kumiliki, walau kau menangis, lelah atau mengatakan sakit.

Dan waktu pun melesat dengan cepat...
Kami pun harus mengakhiri perjalanan waktu hari ini, setelah panjang bercerita.  Begitu lepas.  Membuang semua jarak.  karena sejak kemarin kami dengan bebasnya berbagi makanan dan minuman, dengan sendok, garpu, gelas dan sedotan yang sama...  (kutuliskan semua yaa... Dy).

Dan hari ini setelah hampir 24 jam, waktu yang terlalui tanpa menutup kesempurnaan hari ini dengan pelukan hangat dan bisikan yang buatku tenang.  Kulepaskan semua keresahan ini di dingin air yang mengguyurku dingin.  Meredam suhu badan yang meninggi.  Aku akan baik-baik saja.

Mungkin...
Jika ini kulihat dengan jalan deJa Vu,  kujadikan ini kesempatan kedua memperbaiki kesalahan yang telah kuperbuat pada Dy dulu.  Mungkin.... Aku tak pernah merasakan asing pada Dy, sejak awal berjumpa dua tahun yang lalu.  Tak ada kebetulan itu... always reason behind something..
Jika kini apa yang ingin kulakukan itu, mengadaptasi kebiasaanku (dulu).. hanya kuharap Dy mengerti...
Aku telah berdamai dengan masa laluku.. Tak harus melepaskannya, dengan jebakan emosi... hanya berdamai dengan kemarahan yang dulu pernah ada.

Dy..
Aku adalah aku..
Bukan masa laluku...
Jika kau izinkan... aku tak akan keberatan membagi semua tentang aku.
Hanya kuminta.. tetaplah ada di masa kini... karena di masa inilah aku ada kini bersamamu..

"Vie.... kau baik-baik saja??," tanya Mbak Anis yang seharian memang tak kukabari apa-apa.
"Baiik... Mbak, membaik sajalah.....  Aku tak pernah benar beristirahat," Aku sambil tersenyum dan menahan kesakitanku.  Aku tak ingin orang yang menyayangiku ini memiliki kekhawatiran yang berlebih.

Maaf yaa... Mbak, tak ada niat menutupi semuanya, bisikku dalam hati.

"Oke... jangan lupa makan dan minum obat yaa.. Vie," ingatnya padaku yang sering melewatkannya.
"Baik.. Mbak... makasiyy....," tutupku di ujung percakapan tetap dengan keceriaanku.
"Besok aku siaran yaa...??
"Vie... lihat kondisimu.. besok yaa...??  Jangan memaksakan..."
"hehehehehe... oke.. oke.." jawabku dengan tawa renyah.

Di ujung malam ini...
Kuterhenti hati ini dalam titik nadir... untuk kembali ke horizon pagi yang penuh keceriaan (lagi).
Semua yang kutuliskan...
Untukmu...
Kekhawatiran dan ketakutan itu selalu ada menghantui diriku, jika kurasakan sesuatu.. tentangmu..
Selalu ada...  Tak pernah kusampaikan.  Kejujuran yang baru kemarin kusampaikan pada Dy.
Walau coba kuhilangkan dengan mengatakan "He'll be fine.. always be fine... Vie", seperti apa yang selalu dikatakannya.   Hmmmm.... Saling percaya sajalah... Vie,,


Perkenankanlah... Vie yang telah berdamai dengan masa lalu ini... 
Terus kau izinkan..  menemanimu.. Dy,
@Impian

Monday, June 10, 2013

@"Here Without You"_ Three Doors Down



A hundred days have made me older
Since the last time that I saw your pretty face
A thousand lies have made me colder
And I don't think I can look at this the same
But all the miles that separate
Disappear now when I'm dreaming of your face

I'm here without you, baby
But you're still on my lonely mind
I think about you, baby
And I dream about you all the time
I'm here without you, baby
But you're still with me in my dreams
And tonight it's only you and me

The miles just keep rollin'
As the people leave their way to say hello
I've heard this life is overrated
But I hope that it gets better as we go

I'm here without you, baby
But you're still on my lonely mind
I think about you, baby
And I dream about you all the time
I'm here without you, baby
But you're still with me in my dreams
And tonight, girl, its only you and me

Everything I know, and anywhere I go
It gets hard but it won't take away my love
And when the last one falls
When it's all said and done
It gets hard but it wont take away my love

I'm here without you, baby
But you're still on my lonely mind
I think about you, baby
And I dream about you all the time
I'm here without you, baby
But you're still with me in my dreams
And tonight, girl, its only you and me


Aku tak pernah membayangkan.. satu hari tanpa mendengar kabarnya, bisikku dalam hati hari ini.  Rasanya ada yang hilang.  Ternyata.. ada bedanya...
Lagu yang sekarang mengalun jadi penutup siaranku malam ini, membuatnya berbeda.

Mas Pranoto dan Mbak Anis.. tersenyum simpul.
"Sudah move on-kah... Vie?," tanya Mbak Anis sambil menepuk pundakku.  Aku yang tengah membereskan tas dan memasukkan netbook, hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan senyuman.

"Iiihh... kepo deeh... Mbak Anis sama Mas Pranoto.  Ga bisa lihat Vie tenang.... sedikit," keluhku.
"Eeeh... kami senang kok.. Vie," kata Mas Pranoto, jadi kan... suaramu jadi lebih hidup," lanjutnya.

"Oke.. oke... lihat sajalah lagi nanti yaa..  Pasti kalian orang pertama yang tahu," pastiku.
"Aku jalan dulu.. yaa.. Mbak.. Mas," pamitku.

Dan, di sinilah aku, di jalanan Bandung.  Kembali kuputarkan lagu "Here Without You" yang mengisi relung hatiku.  Ada sedikit sakit, di sini.. entah di ruang mana dalam hatiku.  Tapi terselip pula rindu yang memang selalu ada untuknya.

Yang tak pernah kufikirkan adalah... sebuah kenyataan yang rasanya tak terbantahkan bahwa kebersamaan persahabatan yang sudah berjalan hampir dua bulan ini, memang menyisakan rasa yang teramat dalam.  Sangat menyentuh..

Kuputuskan untuk berhenti sesaat di Nanny's Pavilion, untuk meredakan kegelisahan karena memang menunggu kabarnya.  Mencari sofa yang enak... hingga aku bisa melanjutkan tulisanku.  Memesan Chocolate Pancake saja.. walau aku ingin memesan Blueberry Pancake yang pernah Dy pesan di sini.  Hanya... aku ga akan sanggup mencium aroma ice cream vanilla, yang menjadi toppingnya.
Waktu aku ke tempat ini, bersama Dy... kupaksakan menahan aroma susu yang tajam dari ice cream vanilla.  Dan terpaksa kuhentikan.. karena mual.  Aku memang tidak menyukai susu sejak kecil.
Appricot Lemonade, tetap jadi juara di hatiku.. mengingatkanku pada masa kecil yang memang indah.

Aku duduk sendiri.. memperhatikan keadaan, menerawang membayangkan perjalananku ke sini yang memang tak mudah, karena terhadang kemacetan yang memarah.  Sekarang.. hari Minggu bukan hari yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu bersantai.  Sebaiknya memang di rumah.

Tapii... setelah tadi ada penyiar yang berhalangan hadir, yaaa... sudahlah, kuambil kesempatan itu.  Sekedar untuk membuang kejenuhan yang memang menyergap hatiku.
Aku benar merindukannya.  Bagai merindukan oksigen untuk mengisi paru-paru hatiku.
Menuliskan ini, untuk melepaskan apa yang menyesakkan dalam dada.

Maaf.. yaaa... Dy, jika aku merindukanmu lebih dibandingkan yang seharusnya.. Aku tahu, aku pernah mengatakan "never say it again... #maaf yang berulang-ulang", tapi kali ini rasanya aku memang harus melakukannya.
Merasa... mungkin tak seharusnya kulambungkan kerinduan dan rasa yang kumiliki ini di langit jiwamu.
Tapi.. aku memang belum pernah membahas ini denganmu langsung.  Maka jika nanti kita bertemu, ingatkan aku untuk melakukannya.. Dy.

Perlahan kunikmati menu yang kupesan, melihat tempat yang kami duduki ketika datang ke tempat ini.  Aaaaahh.... kerinduan itu teramat sangat terasa.  Masih jelas terbayang, bayangan kami duduk berdua, sangat dekat.  Dan malam itu kukatakan jujur, Dy terlihat berbeda..

"Beda gimana.. Vie?," tanyanya.

"You look so mature and hansome.. Dy.  It didn't mean that you're not handsome before, just look different," kataku, kebiasaan yang tak mudah hilang, karena jika mengungkapkan perasaan 'lebih', selalu menggunakan bahasa Inggris.  Bukan merasa sok bule, tapi rasanya lebih tepat dan kaya makna.

Aku pun refleks menyentuh pipinya.  Dan tak bosan menikmati wajahnya malam ini.  Memandangnya. Tetap melakukan yang biasa kulakukan.  Mendekapnya erat, dalam perjalanan pulang menembus kegelapan malam.  Keindahan yang (benar) tanpa jeda ruang dan waktu.

Itu ketika aku bersamanya.  Sangat berbeda dengan kondisiku kini.  Hanya sendiri, menikmatinya sendiri.
Gelisah.  Terus menatap layar monitor netbook dan HP, menunggu.....
Aaaarrgghh.... menanti itu bukan masa yang menyenangkan untuk dilalui.

Aaah... sudahlah.  Kunikmati saja sisa hari ini, dan tetap menanti kabar darinya.
Dua hari ini memang kubiarkan mengalir tanpanya.  Mencoba menepikan hari dan kuisi dengan kegiatan yang biasa kujalani.. sendirian.  Karena memang aku hanya sahabatnya, yang saling menjabat hati.
Kami tetap punya kehidupan yang harus dijalani sebagaimana mestinya.
Berdamai... itulah kata yang bisa mewakili keadaan yang harus kupilih untuk menguatkan hati melalui sisa hari ini.

Walau, kunikmati hari ini tanpanya, tak sedetik pun, aku luangkan tanpa berhenti mengingatnya.
Maka lirik lagu yang mengalun di telingaku ini, benar mewakili perasaanku.  Tak terbantahkan.. jika aku selalu memimpikannya.  Bisa mendekapnya... adalah hal terindah yang bisa kujalani.

Hari ini pun... aku bisa memasak dengan ditemaninya.  Bingung?  Maksudku.. bersama aroma parfum yang selalu digunakannya, yang teramat melekat di jaket coklatku.  Yang kini pun aku kenakan..
Aku sendiri heran, kenapa aromanya begitu lekat, dan tak hilang berhari-hari.  Mungkin memang mewakili kerinduanku yang teramat lekat pekat.  Sepekat coklat yang hadir di pancake yang kumakan.
Andai.. aku bisa bersamanya di sini..., bisikku lirih, mungkin tak akan sesepi ini.
Bisa tertawa bersamanya sepanjang hari, adalah kenikmatan yang jarang kurasakan.

Berulang kali ia mengatakan "no" untuk permintaan maaf yang kuketik dalam SMS atau YM.
Aku hanya ingin mengatakan, jika kerinduan yang kuhadirkan baginya terlalu berlebih (menurutnya), seharusnya Dy bisa mengatakan "no" juga.

hmm.... akan kukatakan jk itu trjadi..k?

k.. thx.. Dy,

klw mmg drmu rindu terlalu banyak (utk ku) & aku diam..artinya... rindu ku jg sama bnyak nya.,jd 
ga ada yg berlebih.. gmn?

k.. deal!  makaasiyyy....  Dy 

ur wlcome

Itulah bentuk komunikasi yang biasa kami lakukan.  Jawaban yang jelas, dengan makna yang sama-sama kami mengerti tegas.  Semua dilakukannya sebelum memasak.
Well, rasanya... baru kali ini aku berkenalan dengan pria yang senang memasak.  Benar melengkapi kesempurnaannya.
Jadi... jika ada wanita yang menolak kehadirannya.. Aaah, pastilah mengalami kram otak, karena ia akan benar-benar merugi, bisikku sambil tersenyum.

Menantinya... lagi, dengan menulis, itulah caraku mengisi hari Dy.., pernah kukatakan itu padanya.
Maka... menulislah aku, merangkai kata-kata dalam kalimat yang kemudian tersusun di paragraf, mengalirkan cerita yang tak bosan kubaca.  Aku tak berharap muluk untuk apa yang kulakukan.  Karena aku sudah cukup banyak menyaksikan pengkhianatan berbentuk persahabatan yang penuh kepura-puraan.  Menikam dari belakang, menggunting dalam lipatan.  Itulah alasanku, selektif memilih teman dan sahabat.

Dan.. ingin sekali, satu saat nanti... akan kujadikan kumpulan cerpen yang terbukukan. Pasti..., janjiku menyusun mimpi baru.

Sudah sore...
Maka kulipat netbook, menghabiskan makanan lalu menutup dengan meneguk minuman.  Bergegas menuju kasir, untuk membayar.  Mudah-mudahan tak terjebak kemacetan, kataku dalam hati.  Dan, otakku pun berputar untuk segera menentukan jalan pulang tercepat.

Assalamu'alaikum...

Sepi.. tak ada yang menjawabnya seperti kehidupan yang biasa aku jalani.  Membuka pintu kamar, di kos ini.  Yaa... tempat yang memang kutempati setelah memutuskan untuk hidup sendiri lagi.  Meninggalkan kenyamanan yang sudah lama kubangun.  Aku belum mengatakannya, pada siapa pun.. termasuk Dy.  Karena kufikir.. biarlah waktu sembuhkan lukaku dulu, baru kukabari keputusanku ini.

Kurebahkan badan sejenak, setelah membuka netbook dan menanti bootingnya selesai.
Sambil menatap langit-langit kamar, air mata menitik perlahan.
Tak berapa lama... Dy menyapaku.  Sudah selesai masak rupanya...

Situasi ini terasa seperti masa-masa kuliah lagi.  Dan pernah terbayangkan ada di level ini lagi, situasi ini lagi.
Kembali sendiri.  Menjalaninya benar-benar sendiri.  Meninggalkan kehidupan yang telah terjalani selama ini.
Biarlah....

Tanpa kata yang banyak, kututupi perasaan yang berkecamuk ketika berbincang dengannya kini.
Hanya ingin meninggalkan pesan terselubung di sini.

Bahwa...
Semua yang pernah terjalani ini, memang menghadirkan hidup baru.  Walau kuyakin... kami akan melanjutkan hidup dan mimpi yang (mungkin) berbeda.

Maka, jika itu terjadi...
Aku akan menjalaninya dengan caramu saja... yaa Dy.
Kumohon (benar) padamu untuk hal ini.
Tetap mengalirkan keindahan waktu seperti ratusan jam yang pernah kita nikmati bersama, serta kilometer yang telah dan akan kita lalui.  Tak perduli apa yang nanti terjadi... biarkan saja waktu yang akan menjawabnya.

Kesendirianku kini... akan menutup mimpi buruk, pengorbanan yang (harus) kubayar untuk melanjutkan mimpi yang akan kuretas.  Usai sudah perjalanan masa lalu yang memang akan kutinggalkan di belakang.
Tak ingin meninggalkannya dalam kemarahan, mencoba berdamai dan hidup berdampingan saja.

Mawar memang tak mungkin tumbuh di tegarnya karang.
Tapi jika ia tumbuh di sana, hanya kekuatan takdir Tuhanlah yang menyemai benihnya, dan mengizinkan semua itu terjadi.

Dan.. jika jumlah rinduku dan semua rasaku padamu... Dy, sama dengan rindumu dan semua rasamu padaku... izinkan saja aku ada.  Biarkanlah semua tetap ada di tempatnya, tanpa mengganggu kehidupan yang telah kau miliki sebelum mengenalku.

Tetap lambungkan angan dan mimpimu, kemana pun akan kau lakukan itu.
Karena jika kutambahkan mimpi dan anganku kini, tak akan sama banyak dengan jumlah mimpi, angan dan cita-citamu.  Maka... kembangkan layarmu, kepakkan sayapmu... dan terbanglah kemana pun kau inginkan itu.

Dan...
Tetaplah jujur... untuk katakan.. jika apa yang kuinginkan ini, terlalu (lebih) dan teramat banyak (menurutmu).
Percayalah..
Kau tetap ada dalam fikiran dan jiwaku, terdekapmu lekat... sepekat coklat yang kumakan tadi di Nanny's Pavilion.  Semanis Brown Sugar yang ternikmati di Kopi Ireng.  Atau sesegar salad yang kita nikmati di SG7.  Bahkan semenantang Kopi Joss di Angkringan..

Well...
Perjalanan yang indah dalam petualangan kita.. yang tanpa batas ruang dan waktu ini..
Memang (hanya) milik kita kan??

(Terpaut dalam kerinduan yang menjadi kertas, dengan tinta kasih, 
untuk mengukir perjalanan hati)



Sunday, June 9, 2013

@BANDUNG VIEW'S NIGHT


Aku terdiam menyaksikan pemandangan yang begitu ajaib di depan mataku.
Apa yang ingin kubagi bersama Dy.. petang ini benar-benar mewujud. 
Penantian selama sebulan itu terbayarkan sudah.

Jika kupasangkan profil Bandung View, karena memang itu yang belum pernah aku lihat semenjak menginjakkan kaki di sini. 
Semua untuk bisa berdamai dengan masa lalu.
Yaa.. berdamai dengannya, bukan melupakan dan menghapusnya.
Aku tak ingin kehilangannya lagi.  Kehilangan waktu untuk mengertinya. 
Terlambat untuk menyadari bahwa keberadaannya memang bermakna dalam hidupku kini.

Aaahhh... Cinta itu persahabatan.  Semakin kau mengenal seseorang, maka izinkanlah rasa itu menemani perjalanan kalian.

Itulah sepenggal kalimat yang kubaca di novel yang kubawa untuk menantinya.

Pukul 14.00
Aku berjalan dengan langkah yang bergegas, karena agenda yang telah kususun berantakan.  Kemacetan yang menghiasi Bandung, karena long week-end ini memang selalu menyiksa.
Hanya bisa ke ITB saja akhirnya, bisikku menghibur diri.  Karena dari semua rencana yang kususun, setelah selesai siaran pagi hari ini, tujuan utamaku memang ke sana.  Selebihnya hanya rencana yang mendadak saja.
Hahaha.. aku memang orang yang tak pernah terlalu detil.

Begitu keluar dari ITB, kulihat kemacetan yang menyergap kota Bandung begitu parah.  Maka kuputuskan untuk tidak melanjutkan rencanaku selanjutnya.
Dago adalah tujuanku, mencari tempat yang telah aku searching di internet untuk bisa menyaksikan Bandung View dan sunset.  Sementara Dy memang belum tahu itu.  Aku memang merencanakan kejutan untuknya.

Aku tak ingin mengganggunya terlalu banyak hari ini, karena yang kurasakan.. seperti ada hal yang mengusik pikirannya.  Mungkin.. itu hanya perasaanku saja.
Taapiii.. hari ini, rasanya.. ada perbedaan dari caranya berkomunikasi denganku.
Aaahh... sudahlah.. kutepis semua pikiran negatif tentangnya.
Mungkin banyak pekerjaan, kuputus semuanya.


Jaadii.. masih di ITB ini teh??  SMSnya masuk mengaburkan lamunan yang sesaat mampir.
Ga.. jalan.. jawabku pendek.

Aku memang sedang berjalan menyusuri jalan setelah terminal Dago.  Aku cukup familiar dengan daerah ini.  Namun pengalaman tersesat dua kali, untuk menemukan tempat yang kami inginkan itu menjadi pelajaran yang luar biasa.  Dengan flat shoes, kesukaanku, aku melangkah ringan.  Aku memang bukan tipe girly yang hobi menggunakan high heels.

Walau pernah Dy berkomentar.. Cewek banget yaa.. sepatumu ini, ketika menyadari model flat shoes yang sebenarnya telah sering aku kenakan.
Hahahahaha... baru nyadar gitu.. Dy.  Walau seringkali aku mempertanyakan kewanitaanku, seleraku tetap cewek kok. Kadang.. jawabku sekenanya.

Dy selalu tersenyum simpul dan menatapku hangat.   Aaah.. tatapan itu yang teramat aku suka.
Banyak kehangatan yang disampaikannya untukku di dalamnya.  Membuatku sejenak melupakan semua gundah yang menggelayut.

"Mau kemana... Teh?," tanya wanita muda yang mendengar pertanyaanku pada pemuda yang tengah menanti angkot.
"Ke Bukit Dago Pakar.. Teh.  Ke Kafe Kopi Ireng," jelasku.
"Waaahh.. naik angkot saja.. masih jauuhh...." Ia seperti menangkap kegilaan yang akan kulakukan.
"Iyaa.. sihh.. Teh, cuma memang trauma.. nyasap wae, ga ketemu...," kataku malu.
"Udaah.. naik saja angkot ke arah Ciburial.  Minta ke sopirnya untuk diturunkan di mana... sebutkan.  Bayarnya dua ribu.." Ia menjelaskan dengan rinci.
"Hatur nuhun... Teh." dan kemudian ia menghilang di gang menuju rumahnya.

Waaduuuhh... sudah 30 menit berlalu, keluhku... menanti angkutan yang tak kunjung datang.
Aku memang melihat... angkutan itu selalu penuh.  Maka mengisi waktu untuk menjawab SMS Dy yang sesekali masuk.  Mungkin ia cukup khawatir, akan tujuan yang belum aku ceritakan menjelang bubaran kantornya.  dan aku memang berjanji belum akan menjelaskan alamatnya, karena harus kutemukan dulu.

Aaahhh... itu dia, hampir angkot penuh jurusan yang kutuju terlewatkan.
Menaikinya dan dengan siaga, melihat jalanan, untuk tak lengah agar perjalanan ini tak sia-sia.
Dan... semua deretan Kafe yang memang aku tahu dari internet, mulai terlihat satu persatu.

Maaanaaa.... aku sudah mulai resah, karena takut tersesat lagi.  Dan sudahlah... jika tak ditemukan.. tinggal ikut angkot ini lagi dan mengganti tujuan, hiburku.

Tiba-tiba... kulihat logo yang sangat kukenal.. bangungan yang berbentuk Rumah Joglo yang khas, dengan tangga batu yang cukup terjal, dan membutuhkan upaya keras untuk sampai di terasnya.

Kiirii... kataku pada supir angkot.
Akhirnya...
Pukul 14.30, kulirik jam tanganku.. dan sejurus melihat spanduk yang menuliskan jam buka Kafe ini.
Ooaaalaaahh.. untung tadi ga sampai terlalu cepat, karena Kafe ini memang baru buka.

"Berapa orang.. Mbak?," tanya ramah pegawainya.
"Dua orang... tapi masih menunggu..pulang kantor," jelasku.
"Ke balkon di sebelah kanan... Mbak.."

Aaaahh... balkon, memang itu alasan aku sampai lebih cepat.  Agar bisa mendapatkan tempat duduk di sini.
Segera kulemparkan pandangan, menyapu pemandangan indah Bandung di siang menjelang sore itu.   

Aaahhh... Dago telah tersaput mendung dan kabut..

Yaa Rabb... izinkan kali ini,  jika Kau turunkan hujan.. maka buatlah saat ini.  dan cerahkanlah.. cuaca malam nanti,  sepotong do'a yang terpanjatkan.

Sambil meminum Jahe Pletok dan Mix Omelette yang hangat kuisi waktu menunggu Dy.
Jarak yang cukup lumayan ia tempuh dari kantornya.  Taapii... worthed lah.

Dy.. aku benar-benar liat Dago view.
Liat Dago View? dari bawah dong? dari Pasopati?

Bandung View... @Kopi Ireng Bukit Dago Pakar 1

Jadi.. nanti aku ke sana?

Kalau dirimu mau.. kalau ga.. memangnya bisa maksa...
(jawaban ini kulontarkan untuk melepas keraguan yang kurasakan hari ini... sebenarnya Dy..)

Gimana siihh... dirimu teh? protes Dy melalui SMSnya merespon keraguanku.

Sambil memberikan arahan yang sejelas-jelasnya untuk tak membuatnya tersesat lagi, lalu kujawab protesnya dengan memohon.. datanglah.. deeh yaaa..

Dy,
Jika kau tahu... saat menunggumu itu.. semua rasa benar-benar membuncah, mempertanyakan semuanya.  Apakah kau akan datang.. karena memang hujan mengguyur deras.  Aku menuliskannya dalam catatan dengan tulisan tangan, karena memang tak kubawa netbookku.
Huuufttt.... betapa waktu menunggu itu melelahkan, keluhku sambil mendengarkan lagu melalui HP dengan headset, yang tiba-tiba mati mendadak ketika adzan Ashar berkumandang.  Mungkin memang itu yang seharusnya aku lakukan.

Pukul 17.10
Kulihat kau memarkirkan motormu, dan aku masih menghiasi buku catatanku dengan sentuhan gambar-gambar kecil, untuk mengisi waktu.  Maka aku pun menunggumu.. (lagi)..
Telah kupesankan Jahe Pletok, untuk bisa langsung menghangatkan badanmu yang mungkin... akan kedinginan menembus hujan.
Walau jika kuberikan dekapan... pasti lebih hangat yaa...
Hahahahaa... tawaku kecil sendiri memecah kebekuan hati yang dingin, terguyur hujan lebat tadi.

Tawamu memecah kesunyian yang sejak tadi melingkupi hari, mungkin kau fikir bisa mengagetkanku.
Sudah tahu kookk... kalau sudah datang... kataku sambil tersenyum, kelihatan...

"Ini untukmu... biar hangat..., menunjuk gelas yang ada di atas meja, Pesannya tunggu diriku yaa... mo sholat Ashar dulu.," jelasku sambil meninggalkannya menuju mushola di belakang Kafe.
Kutinggalkan notes kecil yang selalu kubawa, dan novel di atas meja yang memang sedikit berantakan.
Di sana kutuliskan.... tentangnya,

Tepian Waktu

Hujan yang mengguyur..
Memang dingin..
Tapi, jujur..
Belum pernah kulihat seindah ini..
Ingatkan aku, 
Yang begitu sarat dengan luka dan cerita,

Menepilah sang waktu,
mengantarku ada di sini...
Dan ada 'Bintang'


Menatapmu dengan tatapan nanar,
Dalam jiwa yang rapuh..
Ada sepenggal do'a yang tak pernah ku katakan..


Aku hanya ingin meniti hari..
Detik-detik yang indah denganmu..
'ntah apa yang terjadi..
Hanya damai yang kuinginkan kembali (lagi)..
@Kopi Ireng
'Dy 'n Vie'
07/06/2013



Telah kutuliskan banyak perjalanan pahit dan kegundahan jiwaku pada Dy, sahabat yang selalu menemaniku kini.  Tapi... hari ini.. aku memang berjanji.. pada diriku sendiri.   Hanya akan menghadirkan keceriaan baginya.  Untuk menemaninya. Menyaksikan... tujuan awal perjalanan yang telah kami sepakati bersama.
Yaa... kami memang punya banyak cerita manis untuk mengawali atau mengakhiri hari-hari yang terjalani.
Mengalir saja.. begitu indahnya..
Karena.. walau tangan kami selalu menggenggam erat menahan rasa yang selalu membuncah, tapi seolah tanpa kata.. kami saling berjanji untuk belajar saling mengerti dan menerima apa adanya saja.

Seperti hari ini..
Kami menjalaninya masing-masing... dan aku mengikuti apa yang dikatakannya tanpa beban.. untuk menjalani hari ini untuk beristirahat di rumah saja. 
Seolah bisa ia baca bahwa kemarin malam... walau bisa memandangi keindahan malam..  Fisikku belum berapa kuat menjalani hari.  Namun. mungkin yang ia tak ketahui...
Walaupun liburanku kali ini... tak kujalani dengan istirahat yang lengkap, karena banyak panggilan mahasiswa yang membutuhkan konsultasi padaku.  Namun di ujung harinya.. selalu ada keindahan yang menutup.
Keindahan yang luar biasa begitu banyak, hingga takkan mungkin tercatat di sini... Cukup di hatiku saja.


Aku memang benar-benar berjanji pada diriku.. untuk mengajaknya menemaniku melihat keindahan ini.  Ditemani kopi kesukaan kami.  Suasana yang terasa begitu...  romantis.

Lekat kutatap punggungnya.
Aaah... selalu kurindukannya, tak henti, bisikku.
Dan kemudian kudekati untuk mengajaknya berbincang.  Hangat.. semua perbincangan yang kami lakukan.

"Lunas yaa... Dy.  This is our first destination.  Leeegaaa...... banget untuk bisa mewujudkannya," ujarku menepuk punggungnya.  "Ga nyangka yaa.. indah bangeet.  Rasanya ini sama dengan pemandangan yang kita dapatkan jika pergi ke Bukit Bintang."

"Yaa..," jawabnya singkat, sambil sejurus kemudian menyentuh lembut pundak dan mengusap kepalaku, lalu menyentuh pipiku.

Aaaaah... Dy, tahukah kau... aku selalu sekuat tenaga menahan airmata ketika kau melakukan semua kebiasaan yang "teramat manis" itu.
Kenapa.. semua yang kau lakukan padaku itu, selalu jadi pengalaman pertama bagiku.
Walau telah banyak cerita yang kulalui dalam hidupku.  

Maka tak ingin aku menjalani apa yang terjadi.. sedetik pun, seperti yang tertuang dalam lirik "Setelah Kau Tiada" dari Cakra Khan, yang tadi kuputar berulang-ulang.

Yaa.. penyesalan memang akan hadir, belakangannya.. setelah semuanya terjadi.
Karena kalau di awal, maka namanya bukan penyesalan, tapi pendaftaran kan?
Itulah sebagian gurauan yang kusampaikan ketika memberikan tutorial atau konsultasi pada mahasiswa yang menghubungiku.
Maka takkan kubuang masa... untuk tak pernah menyadari makna kehadirannya dalam hidupku.
Selalu kuingat... bahwa Dy..
Akan selalu menjadi udara yang kuhirup, untuk mengisi ruang rindu hatiku.

Mas Pranoto tadi sempat tersenyum geli.. karena aku meminta lagu itu diputar sebagai lagu pembuka, dan kemudian ia pun mendengarkannya kembali di HPku.  Dari syairnya, kita bisa memahami, betapa berat hidup dengan rasa penyesalan.  Dan aku tak mau menjalani hidup seperti itu.. tak sedetik pun... apalagi bersama Dy..

Tak sempat ku mengerti
Kau tunjukan arah saat ku tersesat
Beri cahaya saat ku sendiri dalam gelap
Namun waktu tak pernah rela menunggu
Hingga akhirnya kau pun pergi

Terlambat ku sadari kau teramat berarti
Terlambat tuk kembali dan tuk menanti
Kesempatan kedua yang tak kan mungkin pernah ada
Baru ku teringat kau hembuskan angin
Saat ku bernafas 
Siramkan air saat aku dalam kekeringan
Namun tak pernah aku hiraukan semuanya
Hingga kini pun kau tiada

Terlambat ku sadari kau teramat berarti
Terlambat tuk kembali dan tuk menanti
Kesempatan kedua yang tak kan mungkin pernah ada
Biarkan ku hidup dalam penyesalan ini
Sampai nanti kau akan kembali
Terlambat ku sadari kau teramat berarti
Terlambat tuk kembali dan tuk menanti
Kesempatan kedua yang tak kan mungkin pernah ada

Terlambat ku sadari kau teramat berarti
Terlambat tuk kembali......
Dan tuk menanti
Kesempatan kedua yang tak kan mungkin pernah ada
Yang tak kan mungkin pernah ada 


Sejenak kuhentikan ketikanku ceritaku.. untuk mengambil jaket coklat kesukaanku.  Ini kulakukan karena memang kurasakan lagi dingin menggigilku.  Seharian ini... kurasakan lagi sakitku.
Hmmmm... ada parfum Dy yang cukup melekat di sana.
Dan jaket inilah yang baru bisa membuatku benar-benar terlelap ketika terkapar seharian penuh hanya tidur manis sepanjang hari kemarin.  Terasa terdekap hangat dirinya.

Sejenak terlelap.. karena kurasakan kelelahan jiwa yang luar biasa.
Ingin benar-benar menutup perjalanan kali ini, dan bergerak maju, melanjutkan hidup.
Biarlah.... berjalan dengan apa adanya saja..
Dan lalu bangkit... coba selesaikan tulisan ini.
Mencoba merangkai kejadian yang memang layak untuk dikenang.
Dan melambungkan angan serta lamunan...jauh ke awan biru.

Sedang apa dia kini... yaa... tanya yang kutitipkan pada angin.

Dan waktu melesat tanpa gerak... lama sekali kini, fikirku..
Tak seperti kemarin..  Yang serasa begitu singkat, walau ketika kutuliskan kini.. ternyata banyak sekali perjalanan manis yang mengisi relung hati.

"Hahahahaha... ada lagi tidur manis.. Vie,"  Dy tertawa lebar untuk istilah yang kugunakan untuk menceritakan kondisiku sepanjang hari kemarin.
Sambil mengusap kepalaku.. dan lalu tangannya turun menyentuh pipiku.

"Yaa.. apa coba istilah yang tepat.. Dy..  Aku bukan orang yang jarang duduk manis, karena mobilitasku yang tinggi.  Diam bagiku adalah separuh mati.  Maka ketika harus menikmati sakit, dan bisa berbaring sepanjang hari.. kukatakan saja itu tidur manis," jawabku sekenanya.

Kami terus menyaksikan pemandangan indah yang terhampar di hadapan.  Keindahan nyata yang selama ini hanya bisa disaksikan melalui gambar yang kuunduh dari internet.
Sesekali kuusap punggungnya dan melingkarkan tangan memeluknya.
Hhhmmmmm... ingin rasanya benar-benar menghabiskan malam di sini.

"Enak yaa... Dy.  Punya rumah di sini.. karena bisa selalu menyaksikan keindahan ini." 
Kukatakan itu sambil menyandarkan kepala sejenak di bahunya.   Aku sangat menikmati bahunya selama ini, sepanjang perjalanan kedekatanku yang mengalir bersamanya.  Yang selalu kurasakan hangat mengalir dalam darahku, menembus relung kalbu.

Ketika duduk di kursi yang dipilihkannya, pun ia terus memberiku kenyamanan yang menurutnya [harus] dilakukan.  Belum sempat kutanyakan memang ketika ia menuliskannya semalam.

Beratnya mengakhiri malam, terus menemani perjalanan pulang kami.
Ide yang dilontarkannya untuk melepas helm, kuikuti dengan tawa lepas.
Benarlah....
Menikmati dinginnya malam, bersama...
Secara bebas menikmati kesempatan mengusap lembut kepalanya dan  .... setelah itu hanya......keindahan tanpa kata.... terus mendekapnya, membelah malam.
Seperti biasa Dy mengantarku pulang.. memastikan bahwa aku baik-baik saja.
Selalu memberi kesempatan padaku untuk merasakan menjadi wanita yang terlindungi saja.. dan bukannya sebagai  wanita lemah..


Aaahhh..... rasanya tak cukup kata dan kalimat yang kemudian bisa kususun dalam paragraf dalam cerita yang kutuliskan kini.  Terlalu banyak keindahan dan terasa amat manis... walau "ga giung"... Dy..

Tersenyum simpul ketika ia mengatakan itu...
Dan ketahuilah... senyum itu yang selalu hadirkan kupu-kupu kerinduan, kunang-kunang penerang dan setetes embun kehidupan... di langit jantung jiwaku.

Benar Dy..
Aku sendiri.. tak mengerti, mengapa banyak keindahan yang terjalani yang memang baru pertama aku rasakan dalam hidupku.
Mungkin... itulah salah satu bentuk keadilan yang ditunjukkan Alloh SWT padaku.
Membuatku tak henti bersyukur menemukanmu.. seperti tertuang dalam Perahu Kertas.
Kehadiranmu menghiburku dengan segala perjalanan waktu yang manis, di antara kepahitan yang ada.
Melengkapi waktu dengan suka, yang terkurung duka.
Merangkai bunga keindahan, di antara onak duri.

Bagaikan.... do'a-do'a yang terjawab.. seperti yang kutemukan dalam buku "The Answered Prayer".

Maka..

Dy,
Tetaplah saling mengerti, berjalan apa adanya dan terus berkomunikasi dengan manis..
Semanis Brown Sugar (gula merah yang tak merah... dalam gurauan kita), dan tetap terasa enak.. walau bercampur Black Cappuchino yang kunikmati semalam.  Dan seindah Zigzag Cappuchino yang menggambarkan perbedaan nyata.. namun menyatu dalam rasa.

Jika kita sepakat bilang rasa yang sesungguhnya tak mudah didapat..  perlu ada pengorbanan dan perjuangan... maka itulah yang disampaikan Budi Doremi dalam Cinta Nusantara, maka jarak yang terbentang tak akan membatasi semuanya.
Tuliskan saja semua cerita yang takkan kita lupa dengan indah, terucapkan atau tidak bersama di bawah langit senja.
Kita nyatakan saja pada mereka...

Rasa inilah kesejatian Persahabatan Hati, yang kemudian menjabat indah keseharian lewat detik-detik kehidupan yang terjalani.  Menggusik renungan yang menggeliatkan hati, mengulang kenangan... saat Cinta menemui Persahabatan.

Di siang dan malammu..
Rindumu... selalu memanggil namaku.
Semua yang terasa ini akan kutumbuhkan di keabadian..., 
Karena aku tak pernah pergi selalu ada dalam hatimu, 
seperti dirimu yang selalu kembali di sini... di hatiku.
Semua sentuhan keindahan yang terasakan ini... 
benar-benar menyentuh lembut hingga ke sukma.
Mengalirkan kehangatan yang takkan lekang oleh jeda ruang dan waktu...

Dan...
seperti yang pernah kau ketikkan pesan seperti lirik lagu itu...


Aku tanpamu Butiran Debu....


(Kenanglah semua dalam dekapan kenangan tanpa akhir.... #selaludisini)

Wednesday, June 5, 2013

#Lumpuhkan Ingatanku_Geisha

Paaggiiii... Guys,

Catatan ini memang kubuat pagi ini...
Benar-benar fresh from oven, seperti roti lapis yang kubuat pagi ini,
Pernahkah kau belajar untuk selalu memahami dirimu, sebaik yang kau lakukan untuk memahami orang lain.

Tak ada yang bisa kulakukan,
Hanya terduduk di lantai dan benar-benar menatapnya lekat, selekat dulu aku penatapnya pertama kali.
Yaa Rabb,
Walau cinta itu sudah kuiizinkan pergi lama dari hatiku... tak bisa kupungkiri hatiku yang membisik betapa aku masih menyayanginya..
Kejujuran yang tak bisa kuhapus dari ingatanku.

Sebentar..
Harus kuhentikan dulu catatan ini, karena kacamataku buram tersaput airmata.

Mungkin...
Aku hanya bisa menduga, dari bahasa tubuh yang disampaikannya...
Ia (lebih) ingin menjauh dariku, berlari meninggalkan aku... daripada bersama mengurai pasang yang terasa pahit ini.

Maafkan... aku,
C'est la vie...

Aku memang bukan mawar yang cantik,
Seperti pernah kau katakan padaku...
Aku lebih mirip 'Edelweiss' yang walau tak seindahnya, tetap dicari banyak orang dengan penuh perjuangan untuk memetiknya, karena perlambang CINTA ABADI.
Bunga yang tak pernah layu...

Aku memang tak sempurna,
Mungkin tak sesempurna wanita yang pernah kau puja dulu.
Aku hanya wanita yang berusaha mengerti apa yang kau inginkan,
Hanya...
Berusaha menjagamu, menyayangimu dan menemanimu sepanjang waktu yang kupunya..

Maaf..
Jika itu tak cukup buatmu kini...

Maaf pula ....
Catatan ini tak pernah selesai kuuraikan...
Karena terlalu sakit dituliskan..
Airmata yang tumpah terlalu banyak menyakiti hatiku,
Karena tak kuasa kukatakan ini berakhir....
Seperti mudah kau tinggalkan aku..


tetap Paaagiiii... 
yaaa... Guys..

Di mana pun Vie..
pasti selalu... Paaagiiii...


Tak pernah usai.. dan terhapuskan... semuanya...

Vie


Tuesday, June 4, 2013

RENUNGAN

Jika kau sempat berfikir, jika orang yang ada di sampingmu kini adalah orang yang salah....
Coba kau renungkan lagi...
Semua perjalanan yang telah kalian rangkai selama ini,
Keindahan cinta dan sayang yang sejati, takkan pernah pudar hanya karena kelemahannya,
Siapa pun manusia, tak kan pernah mencapai kesempurnaan,
Karena itu HANYA milikNya.

Jika kau pernah berbisik "jenuh" menjalani hari-hari di kekinian..
Belajarlah untuk mengerti...
Tak ada masalah yang bisa menyurutkan ombak kerinduan yang mengalun perlahan dalam hati,
Namun.. 
Memang semua akan membutuhkan pengorbanan pemahaman yang luar biasa.
Karena yang tak kau ketahui..
Alloh SWT hanya akan memberikan kebaikan yang berlipat, pada hambaNya yang teruji.

Jika kau ingin meninggalkannya...
Rasakan perasaan sedih yang akan terukir dalam hatinya,
Karena kau pernah merasakan kedekatan bersamanya,
Dan ingatlah selalu...
Angin perubahan rasa itu hanya kau matikan sendiri, hanya karena kau terlalu egois untuk memulai mengerti,
Tapi kuakui..
Bahwa perjalanan waktu yang tak dilengkapi keikhlasan menerima kekurangan,
Akan mudah menghentikan hatimu untuk selalu menemani hari-harinya.

Maka,
Jika kau masih ingin bertahan..
Belajarlah.. 
Mengertilah..
Memahamilah
dan,
Berdamailah...
dengan dirimu sendiri dulu..

Karena,
Sebenar-benarnya..
dan,
Sejujur-jujurnya..
Itulah jawaban semua RENUNGAN yang kutuliskan ini..
Sama seperti yang kulakukan.
Salam,
Vie


Haaaaiiii...
Paaaggiiii... dan selalu pagi buat Vie, yang tak henti menemanimu kini..
Ingat yaa...
Pagi adalah asa yang terbangun dari mimpi lelah semalam..
Dan belajar... yaa.. belajar... 
bukan mencoba (karena itu kelemahan),
90 menit ke depan.. Vie akan temani di kesibukan atau masih terjebak kemacetan..
Oh yaa..
Tadi Vie memang buatkan sedikit renungan, untuk belajar mengerti yaa..
aaaah.. mudah-mudahan bisa diterima saja.. deh..
Ok..

Lagu Cinta Sejati dari BCL kucoba putarkan untuk membuka siaran hari ini.
Mas Pranoto memang menyiapkan itu di playlist, karena sangat tahu seleraku.
Ia mengacungkan jempolnya.

"Hebaaatt... Vie.  Sejak kapan bisa bikin kata-kata yang indah begitu. Dalam banget.. Ehhmm.. jangan-jangan nyanyian hati niiihh...," selorohnya.

"Aiiihh... Mas Noto, aku memang bisa nulis kalii.. Meni baru nyadar.." sanggahku dengan wajah memerah.

Yaa... semua yang kutulis sebenarnya, untuk mengusir kegundahanku yang mulai menuju titik nadir (benar).
Kuingin mulai semua di lazuardi pagi.. bukan sunset seperti yang kutulis di cerita-ceritaku sebelumnya.
Memang.. terjemahan lazuardi itu bisa berari langit biru, atau langit kemerahan.

Karena memang semalam kusampaikan pada Dy, bahwa kesiapanku untuk memulai lembar baru dengan atau tanpanya tinggal duapuluh persen.
Pagi ini.. kugenapi semua menjadi seratus persen saja, sebab kutahu.. aku pun memang (tak) ada lagi dalam hati dan harinya.
Benar-benar kembali bagai dua orang asing itu... bukan bagian adegan dari sinetron yang tayang stripping, atau telenovela semata.  Semua kualami sendiri.
Tapi... sudahlah, waktu akan terus berjalan dengan perubahannya kan?
Tak akan ada yang sama.
Karena yang kutahu, cinta itu PERJUANGAN.  Dan jika kuurai lagi (definisiku) itu akan menjadi dua kata penting yaitu perjuangan yang dilengkapi pengorbanan.
Rasanya memang ga ada kebahagiaan yang tak melalui perjuangan yaa.. guys, ingat itu, terus mengalirkan udara positif untuk kuhirup.

Jujur.. semua memang ga mudah dijalani, bisikku sambil terus menulis untuk mengisi kehampaan.
Tadi pagi, ketika tahajjud, mohon sedikit kekuatan dan keikhlasan padaNya, aku masih tetap menangis.
Yaa.. karena aku ternyata (memang) perempuan.
Ketegaran yang selalu kulihat di karang, jika menghabiskan hari di pantai, itu ternyata memang akan terkikis juga oleh kesedihannya terkena air asin laut dan gelombang pasang yang menghantamnya tanpa henti.

Apalagi.. aku, guys..
Yang mungkin sok tegar,  aku berhenti ketika menuliskan kalimat ini, dan tersenyum kecil.
Aku memang sering "angkuh" menjalani hidup, sok tegar, sok ceria dan banyak hal lain.
Mungkin karena memang urat maluku sudah terputus sejak kecil, hingga yang tersisa kini hanya.... butiran debunya saja, dan malu-maluin...
Hahahahahaa....
Bahuku terguncang sendiri, dan aku terhenti menulis, karena merasa ada yang memperhatikanku.

Mas Pranoto...
Ia melihatku, dan hanya tersenyum, kemudian mengacungkan dua jempolnya.
"Aku senang kau bisa tertawa lagi... dengan tulus.. Vie," katanya lembut.
Aahh..

Di luar studio, kulihat juga Mbak Anis yang mulai bisa tersenyum lagi.  Berhari-hari ia terjebak di kesedihanku.  Karena jika tak kupinjam bahu Dy, aku pasti ke rumahnya, mengganggu waktunya.

Kutahu...
Kini.. tak mungkin kuminta ia tinggal dan memohon jangan pergi..
Karena jika itu hanya dariku.. maka, apa yang kulakukan itu kesia-siaan.
Bagai menepuk angin, dengan sebelah tangan kan?
Maka...
Dengan lapang dada, kulepas ia pergi tadi pagi..
Tak akan aku mengemis cinta, untuk menghilangkan luka hatiku.
Dan, aku berjanji memguatkan diri, kembali menjalani hari-hariku sendiri (lagi).
Tak ada sepi..
Karena yang kutahu.. bukan aku yang menghapusnya dalam hidupku.  

Pagi ini,
Sebelum aku siaran.. di antara kesibukanku mengecek email baru yang masuk, rasanya aku terkejutkan banyak hal.
Menawar lara.. bisa kukatakan seperti itu.
Maka, ketika kepahitan itu datang kemudian, tak kurasakan pedih.  Biasa saja..

Paaagggiiiiii...  #maaf.. jika butuh waktu utk bisa sarapan seperti definisimu/org lain.. Dy..

Kenapa minta maaf.. Vie?

Karena aku minta waktu Dy.. untuk melakukannya

Bukan aku nyuruh dirimu sarapan kok..Vie


Aku tahu..

Cuma ingatkan utk tetap makan, walau bukan sarapan seperti biasa orang lain lakukan, tapi dirrmu tetap manusia, yang tetap juga perlu makan,


Iyyyaaa.. makaasiiyy.. Dy,


Maaf,  (lagi) sekedar ingatkan dirimu saja..

Selagi aku masih bisa dekat denganmu, ga akan bosen juga aku ingatkan ini & itu.. karena yang kutahu..itu ga pernah dilakukan oleh 'dia'..  Karena kalau dirimu sudah pergi dengan mimpimu,. pasti sulit untuk seperti ini.. so...Take care.. ok?


Betapa sedikit merasa berarti lagi, dalam hidup.. jika aku memang masih dianggap ada.  

Kalau kau baca, selalu kugunakan kata "sedikit' dalam setiap harapan yang kusampaikan, bukan karena pesimis.  Tapi memang menjaga aliran energi positif yang ada dalam hatiku.
Kutahu, Tuhan akan mengabulkan do'a.
Hanya mengatakan pada diri sendiri... bahwa apa yang terjadi dalam hidup adalah yang terbaik.

Apa yang ditulis Dy, pagi ini.. membuatku seperti benar-benar baru terjaga, bahwa di antara kesederhanaan yang ada keperdulian yang luar biasa.  Teramat manis.. seperti senyumnya.

Dari perjalanan hari ini, memang melengkapi kehangatan yang kurasakan semalam, begitu merasuk dalam relung jiwa, mengaliri nadi dengan kepekatan harapan yang menyeruak ke permukaan. Begitu kepalanya yang tersandar di bahu kananku, dan...................
Waktu yang berjalan begitu cepat,  menghabiskan kebersamaan yang teramat indah.

Di antara kelam malam itu, akan muncul terang BINTANG yang meneranginya.
Maka.. 
Jika tersaput kabut yang menutupi keindahan senyummu.. tetap sajalah hadirkan keceriaanmu MENTARI, dan katakan Paagggiiiiii...

Oke... listener,
Vie pamit mundur dulu yaaa....
nikmati harimu tetap dengan hadirkan senyum, karena itu akan meringankan langkahmu.
Sebagai lagu penutup...
Vie putarkan Perahu Kertas yaa..
Carilah kebahagiaanmu dengan radarmu,
Paaaagiiii.. guys,
Cheers up the day!

Senyumku mengembang dan meninggalkan studio, diiringi senyum lega Mas Pranoto dan Mbak Anis.
Yaa.. hidup akan terus berjalan.
Manakala duka itu telah tergenapi.. apapun adanya melangkahlah pasti!

Thank you... over and over again.. Dy, for caring....

 


















Kan kutemukan langit biru itu, 
Walau harus kususuri jalan penuh onak dan duri.....
@LangitBiru

Love,
Vie

Sunday, June 2, 2013

SURAT UNTUKMU (lagi)

Sahabat Hatiku,

Pernahkah kau fikirkan rasa bosan bahwa ketika kau tenggelam di kesibukanmu, aku selalu sedikit mengganggumu dengan canda dan tawa untuk menghiburmu dari kejenuhan dan tekanan pekerjaanmu?

Tak pernahkah... 
Terlintaskah ingatan bahwa kau salah memilihku menjadi sahabatmu, karena aku selalu merepotkan dengan permintaan menemaniku jika kegundahan menghampiriku?

Atau,
Mungkinkah terhinggap perasaan jenuh, oleh kebersamaan di antara sisa waktu luang dengan kelelahan setelah bekerja seharian?

Ingatlah... 

Sahabat Jiwaku,

Takkan cukup terimakasih yang selalu kusampaikan, untuk semua kata-kata yang selalu bisa membangkitkanku dari keterpurukan.

Bahkan tak ada ungkapan yang dapat kuhadirkan untuk keikhlasanmu mengiringi langkah-langkahku dan terus mendampingi hari.

Pun juga takkan pernah ada kata yang bisa wakili hatiku, untuk bisa menyatakan kebersamaan yang kita jalani itu membuatku merasa ditemani dan tak sendiri. 

Maka..

Sahabat Sukmaku,

Dekapan hangat yang terasa dan terus kuberikan sepanjang waktu untukmu itu bukti kehangatan yang terjalin ini bukan sandiwara.

Genggaman tanganmu itu mengalirkan kebahagiaan dalam kehidupan kita dan bukanlah perjalanan yang singkat yang sesaat.

Kelembutan sentuhanmu yang hadir untuk saling menguatkan itu bisa mendamaikan gumpalan kegelisahan karena kerapuhan hati dalam hidup.



Sahabat Rasaku,

Tahukah dirimu...

Bahwa jika kau terlelap, tak pernah terhenti kekhawatiran menghinggapi diriku yang selalu ingin memastikan kau tetap terdekap hangat kebahagiaan.

Selalu kuantarkan setangkup do'a di setiap detik, menit dan jam yang terlewati ini,  agar dapat mewujudkan serta benar-benar terengkuh dalam kesejatian rasa yang tak lekang.

Aku hanya mengharapkan sedikit waktu dalam hidupmu, untuk bisa menghadirkan senyummu yang bisa menerangi hari.
Ya, sedikit saja.. 
Karena tak ingin aku merampas kehidupan yang telah kau miliki sebelum mengenalku.

Dan..

Sahabat Sejatiku,

Semoga kebersamaan ini bisa mewakili Mentari dan Bulan yang selalu menghadirkan rindu di setiap perjumpaannya yang singkat.

Harapan  terus menemani tanpa jeda dan tak lekang waktu bagi makna yang terangkai tanpa henti, bagai Bintang yang tak lelah menerangi gelap malam.


Jadikanlah nyanyian melodi hati ini, terus terjalin dalam kesederhanaan perasaan yang menyampaikan kesejatian cinta di keikhlasan hidup yang dihadirkan awan yang dihembuskan angin, untuk meneduhkan sukma.

Semua memang terasa mudah.. karena hadirmu itu [benar] NYATA.

#SelaluKembali
#SelaluAda

(Sungguh) Rindu hadirmu...malam ini,