Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Tuesday, October 13, 2026

Aku & Kamu: KITA?

 





Bab 1: Senja di Senggigi dan Pertanyaan yang Menggantung


Langit Pantai Senggigi sore itu perlahan berganti rupa. Warna jingga keemasan meleleh di garis horison, membiaskan cahaya redup di atas permukaan air laut yang bergulung pelan. Angin pantai bertiup lembut, membawa aroma garam dan memainkan helai-helai rambutku yang terurai.

Di atas pasir yang masih hangat sisa siang tadi, aku dan kamu duduk berdampingan. Hanya ada jarak selangkah di antara kami, tetapi rasanya ada jarak lain yang tak kasatmata jarak yang selalu ragu untuk kulompati.

Gawai di genggamanku bergetar pelan. Sebuah pesan masuk di layar, memecah keheningan yang sempat tercipta di tengah deburan ombak.

"... yang kutanya.. nikahanmu kapan?"

Aku melirik ke samping. Kamu sedang sibuk menyesap minuman dinginmu, pandanganmu lurus menatap garis pantai yang perlahan menggelap. Layar gawaimu menyala singkat ketika balasan darimu terkirim.

"Ga bisa jawab, yang minat aja belum tentu ada 😂"

Aku membaca pesan itu, lalu spontan mendengkus pelan sambil menoleh padamu. Kamu hanya terkekeh tanpa berdosa, menyisir rambutmu ke belakang dengan jemarimu seolah jawaban itu hanyalah lelucon biasa yang dilempar saat senja.

"Hhh... menghela nafas paaanjaaaang"

"....jaadii??"

Kamu berpaling menatapku, memiringkan kepala sedikit dengan raut wajah polos yang dibuat-buat.

"Jadi apa?"

Aku menaikkan alis, lalu mengetik cepat di layar sambil membalas pesanmu menggunakan fitur 'swipe-reply'.

".....jadii.. komen utk ini, lalu menghela nafas paanjaaang

(swiped: Ga bisa jawab, yang minat aja belum tentu ada 😂)

Kamu tertawa kecil. Suara tawa khas laki-laki yang selalu familier di telingaku, tetapi entah mengapa sore ini terdengar sedikit berbeda lebih samar, seperti tenggelam di antara gemuruh ombak Senggigi.

"Trus jadinya apa donk 😂"

Jemariku mendadak berhenti di layar.

Aku berpikir keras. Ada jeda panjang yang tercipta di antara ketukan jemari dan desir angin laut. Di dalam dada, ada rasa sesak yang halus namun tajam, seolah ada sesuatu yang pelan-pelan menusuk hatiku.

"Yang minat aja belum tentu ada," katamu.

Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Ed? Sementara perempuan yang berminat padamu, yang memikirkanmu setiap hari, yang duduk tepat di sebelahmu saat ini, bahkan tak pernah kamu sadari keberadaannya? Atau mungkin kamu tahu, tapi memilih berpura-pura tidak tahu?

"Lalu? Tanyaku... memicu sebuah suara di dalam hatiku sendiri.

Aku terdiam sejenak. Pandanganku beralih dari layar gawai ke profil wajah tegasmu yang disinari cahaya keemasan senja. Bibirku terkunci rapat, tetapi jemariku yang sedikit gemetar kembali bergerak, menyusun barisan kata yang tak pernah berani kuucapkan secara langsung.

(terdiam sejenak, menatap laut yang makin gelap...)

"Jadinyyya... kalau yang minat sebenernya berdiri pas di depan matamu, atau duduk tepat di sebelahmu sore ini... apa kamu bakalan tetep menghela napas panjang juga?"


---


Bab 2: Antara Canda, Desir Senggigi, dan Kenangan di Bandara


Pesan itu terkirim.

Empat titik bulat kecil di sudut kanan bawah gelembung pesan berubah menjadi tanda centang biru. Aku menahan napas, pandanganku mendadak berpindah lurus ke arah bukit di seberang Pantai Senggigi, berpura-pura sibuk membetulkan tali celana atau merapikan tatanan rambutku agar rasa gugupku tak terbaca.

Suara deburan ombak yang membentur bibir pantai mendadak terdengar sangat nyaring.

Di sampingku, gerakanmu terhenti. Cangkir minuman dingin yang baru saja ingin kamu angkat kembali kamu taruh perlahan di atas meja kayu café pantai tempat kita duduk. Keheningan merayap cepat.

Aku melirik dari sudut mata. Kamu menatap layar gawai dengan kening sedikit berkerut, lalu perlahan bibirmu mengukir senyum tipis. Senyum yang sulit kuartikan maknanya. Apakah kamu terkejut? Bingung?

Layar gawaimu menyala. Ketukan jemarimu pada kaca layar terdengar tegas.

TING.

Gawaiku di genggaman berdenting.

"Lho... emang ada yang duduk di sebelahku, ya?"

"Bukannya dari tadi aku duduk sendirian sambil nemenin angin pantai? 😜"

Sebuah pesan susulan langsung masuk sesaat kemudian.

"Kalaupun ada... ya kuhela napas panjang dulu lah."

"Soalnya, yang di sebelahku ini sukanya bikin deg-degan mendadak tanpa aba-aba."

Jantungku seperti meloncat satu sentimeter dari tempatnya. Aku menoleh penuh, menangkap tatapan matamu yang kini terpaku padaku. Ada pendar keemasan senja yang memantul di bola matamu. Senyummu makin lebar, penuh kejailan khasmu, tapi ada sedikit nada lembut yang tak pernah kudengar sebelumnya.

"Ngetik apaan sih?" tegurmu pelan dengan tawa renyah, sambil menyenggol bahuku dengan bahumu yang kokoh. "Muka kamu tegang banget, kayak lagi nunggu pengumuman kelulusan."

Aku terkekeh kaku, membuang muka untuk menyembunyikan rona merah yang perlahan menjalar di pipiku. "Ya... lagian kamu jawabnya ngelantur terus dari tadi."

Kamu tidak membalas lagi dengan kata-kata. Kamu hanya kembali menyandarkan punggung ke kursi kayu, menatap laut lepas, sementara kita kembali tenggelam dalam hening yang kini terasa jauh lebih hangat.


---


Kilas Balik: Tiga Hari Sebelum Senggigi


Jika ada yang bertanya bagaimana dua orang teman lama seperti aku dan kamu bisa terdampar berdua di Lombok, jawabannya adalah kombinasi antara kesialan tak terduga dan keberanian nekad seorang perempuan yang sedang jatuh cinta.

Tiga hari lalu, kita seharusnya berada di tempat dan urusan yang berbeda. Aku ada di Jakarta dengan tumpukan dokumen pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, sementara kamu baru saja membatalkan rencana liburan kelompokmu ke Bali karena teman-temanmu satu per satu mundur karena urusan mendadak.

Malam itu, kamu meneleponku dengan suara lesu dari tempat tinggalmu.

"Batal semua," katamu sore itu, dengan nada menggerutu khas laki-laki. 

"Tiket udah dibeli, cuti udah di-acc, tapi mereka malah pada ada acara keluarga. Masa aku liburan sendirian?"

Saat itu, aku yang sedang berada di tengah kepungan tenggat waktu pekerjaan hanya tersenyum mendengar omelanmu dari balik gagang telepon. 

"Ya jalan aja sendiri, kan kamu laki-laki, berani lah."

"Gak mau. Sendirian itu garing," balasmu cepat. 

"Kamu kek... nemenin. Cuti kamu kan masih banyak."

Kalimat itu terucap begitu saja darimu, mungkin setengah bercanda. Tapi bagi seorang perempuan yang sudah menyimpan rasa terpendam selama bertahun-tahun, ajakan bercanda itu terasa seperti pintu kesempatan yang terbuka lebar.

Tanpa berpikir panjang dan tanpa memedulikan tumpukan berkas yang menjerit di meja kerja aku langsung membuka aplikasi perjalanan malam itu juga.

"Lombok aja," kataku saat menelponmu kembali sejam kemudian. 

"Bali udah terlalu biasa. Ke Senggigi yuk? Aku udah beli tiket penerbangan besok pagi."

Aku masih ingat betul bagaimana keheningan panjang terjadi di seberang telepon, sebelum akhirnya pecah oleh tawa tak percayamu bahwa aku teman perempuanmu yang biasanya serba teratur benar-benar nekat mengambil cuti mendadak hanya untuk menyusul rencana liburanmu yang nyaris gagal.


---


Bab 3: Di Bawah Lampu-Lampu Temaram dan Asap Ikan Bakar


Matahari benar-benar telah tenggelam di balik ufuk Senggigi. Lampu-lampu gantung bertali sabut kelapa di sepanjang warung lesehan tepi pantai mulai menyala satu per satu, membiaskan cahaya kekuningan yang hangat di atas meja-meja kayu.

Aroma gurih ikan bakar khas Lombok yang teroles bumbu plecing pedas menyengat lembut udara malam. Di meja kami, piring-piring makanan sudah hampir bersih.

Aku meletakkan sendok, mengusap bibirku pelan dengan tisu, lalu memberanikan diri menatapmu lurus-lurus.

"Ed," panggilku pelan. 

Nadaku tak lagi seringan saat sore tadi di bawah tatapan senja.

Kamu yang sedang memegang gelas es kelapa muda mendadak menghentikan gerakan. Kamu meletakkan gelas itu pelan, lalu menyandarkan kedua sikumu di atas meja kayu, menatapku lurus dengan pandangan mata seorang laki-laki yang siap mendengarkan.

"Pesan yang kamu kirim tadi sore..." 

Aku menggantung kalimatku sejenak, membuat dadaku kembali berdesir kencang. 

"Itu cuma becandaan sebagai balasan atas leluconku, atau..."

Aku tidak melanjutkan kalimat itu, tetapi sepasang mataku menuntut jawaban yang jujur. Keberanian nekad yang membawaku terbang dari Jakarta ke Lombok seolah ditagih habis-habisan malam ini.

Kamu terdiam selama beberapa detik. Keheningan merayap di antara kita, diisi oleh suara ombak malam yang konstan.

"Vie," ucapmu pelan, merendahkan suara bass-mu. 

"Kamu ingat kan, waktu teleponan tiga hari lalu?"

Aku mengangguk pelan.

"Aku tahu kamu bukan tipe perempuan yang nekat ninggalin pekerjaan gitu aja hanya demi liburan," lanjutmu. 

Kamu menatap mataku dalam-dalam. 

"Waktu kamu bilang udah beli tiket ke Lombok, aku kaget sekaligus sadar... nggak mungkin kamu mau melakukan sejauh itu kalau cuma sekadar nemenin temen."

Napasku menyergap pelan.

"Jadi," sambungmu lagi, menyunggingkan senyum tipis yang sangat hangat.

"Soal pertanyaanmu tadi sore... kalau orang yang kamu maksud itu aku, aku enggak bakal menghela napas panjang karena bingung."

"Terus?" bisikku pelan, jantungku berdegup kencang.

Kamu tersenyum mantap. Kamu mengulurkan tanganmu yang besar dan hangat di atas meja, lalu melingkarkan jemarimu menggengam jemariku yang dingin karena gugup.

"Terus... aku bakal bilang makasih karena kamu udah berani menyusulku sampai ke sini. Dan mulai malam ini, kamu nggak perlu nekat sendirian lagi, karena aku yang bakal jagain kamu."


---


Bab 4 (Epilog): Garis Akhir di Lombok, Langkah Baru di Jakarta


Pagi terakhir di Lombok menyapa dengan udara pantai yang segar. Di atas meja kayu teras penginapan, dua cangkir kopi masih mengepulkan uap tipis.

Kamu berjalan mendekat sambil merapikan tali tas punggungmu yang besar.

"Udah siap jalan ke airport?"

"Siap! Tapi sebelum berangkat... swiped foto yang ini dulu dong 😜"

Kamu memperlihatkan layar gawaimu padaku. Di sana terpampang foto kita berdua dari kemarin sore di Bukit Merese. Di foto itu, aku tersenyum malu-malu sambil menyandarkan bahuku padamu, sementara kamu merangkul bahuku dengan senyum bangga.

"Bagus kan foto ini?" tanyamu sambil mendudukkan diri di sebelahku, lalu secara alami mengacak pelan puncak kepalaku.

Aku tersenyum, merapikan rambutku kembali. "Bagus banget. Beda ya, kalau fotonya diambil pas statusnya udah jelas."

Kamu tertawa renyah. "Gitu dong. Jangan kayak kemarin, mau nanya aja pake pura-pura ngirim pesan panjang, menghela napas, terus pakai drama menusuk hati segala."

"Ya kan usaha!" balasku sambil mencibir pelan, tapi tak bisa menahan senyum. 

"Kalau aku nggak nekat gitu, mungkin kamu tetep kicep nggak peka-peka."

"Bukan nggak peka, Vie," ucapmu pelan. Matamu menatapku lembut. 

"Aku cuma nggak nyangka perempuan sehebat kamu mau nemenin laki-laki kayak aku sampai sejauh ini."

Kalimat itu membuat dadaku meletupkan rasa hangat yang luar biasa.

---

Beberapa jam kemudian, roda pesawat yang kami tumpangi menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta.

Saat kami berjalan menyusuri garbarata menuju area kedatangan, kamu melangkah di sampingku, membawakan tas punggungku di satu bahumu tanpa kuminta. Lalu, secara alami, jemarimu yang besar dan hangat menyelip ke dalam genggaman tanganku, menggenggamnya erat dan protektif di tengah keramaian bandara.

Aku menoleh padamu, dan kamu memberikan senyuman paling hangat yang pernah kulihat.

Liburan di Senggigi mungkin telah usai, tetapi perjalanan "KITA" baru saja dimulai.


---


Note:

Senggigi, pantai yang mungkin saat ini mulai kehilangan sedikit kecantikannya, karena ulah tangan-tangan jahil yang mengotori lingkungan. Namun, dari semua perjalananku, ia selalu menjadi saksi bulir-bulir air mata yang memburamkan jendela. Lalu, tetap menjadi lukisan senja yang indah, di ruang hati yang kini tak lagi hampa.

Monday, September 21, 2026

Journey 2






Sini.. sejenak dulu duduk di sampingku. Sudah kupilihkan kopi untukmu. Americano kan? Berikan aku waktu sejenak untuk terdiam dan memeluk lenganmu, lalu merebahkan kepalaku di bahumu. Biarkan aku menghela napas agar aku tetap ingin berjuang untuk hidup. 

Aku sudah lama berharap orang-orang di sekitarku bisa memahami aku dengan lebih baik. Tak meminta mereka untuk mengerti. Karena perbedaan pandangan pasti akan selalu ada. Aku yang terlalu drama sama semuanya.

Ingin rasanya tak punya sedalam ini padamu. Namun, berdampingan denganmu... selalu membuatku nyaman dengan diriku sendiri. Maka aku akan membiarkan semuanya mengalir pada waktunya. 

Maka, semoga kamu tidak keberatan meminjamkan bahumu kali ini. Peluk saja erat juga aku kali ini.. Sehingga aku merasa ditemani untuk semua perjalanan yang telah disiapkan Tuhan untukku. Kaca hati yang memburam karena diam... air mata yang selama ini menemani kesendirianku mengalir tanpa henti. Aku sudah berjanji untuk tidak melakukannya di depan orang lain. Hanya bisa terisak di atas sajadah, di sepertiga malamku.

Aku,

Selama ini belajar agar tidak merepotkan siapa pun. Belajar tampil kuat dengan senyum yang terus mengukuhkan keseharianku. Hingga tak ada yang menyadari betapa aku belajar membangun diri yang kuat ini, dengan banyak jatuh. Namun, kuputuskan untuk selalu bangkit dan menyisihkan tenaga untuk belajar lebih giat setiap hari. Dan kini... aku berada di titik ini...

Tak mengharapkan validasi atas semua pencapaian ini. Karena aku sudah selesai dengan semuanya. Ketika aku mengatakan "see you on TOP" kepada semua orang, itu (hanya) menjadi kata penguat saat aku rapuh. 

Ini bukan tentang mereka. Sepenuhnya milikku..

Dan, kini aku sadar..

Perjalanan kali ini, begitu indah dan layak untuk kujalani. Tak ada yang berhak menghakimi, karena ini urusan antara aku dan kamu. Teman yang saling menguatkan dan berjalan bersama. Yang tetap berdebat tentang semua perbedaan yang tiba-tiba muncul, dan pada akhirnya kita tetap tertawa lepas. Lalu saling menerima dengan lapang dada di setiap persimpangan jalan itu agar bisa melanjutkan perjalanan bergandengan di sampingmu. Tidak di belakangmu kecuali di jalanan sempit yang tidak memungkinkan kita berjalan berdampingan.

Tahukah kamu bahwa di sepanjang jalan itu, saat tanganmu menggandengku erat, hal itu memiliki makna yang tak terhingga. Karena selama ini yang kujalani hanyalah bagaimana sseorang laki-laki itu menunjukkan egonya dengan sangat kuat. Memposisikanku disampingmu adalah bentuk kesetaraan yang belum pernah kujalani. Genggaman erat yang hangat itu menjadi penguat yang mengalir di pembuluh darah, hingga terasa seperti cahaya di sisi gelap hati yang terus tertutup tabir hitam.

Semua percakapan yang kita lakukan sejak pagi hingga kita merebahkan penat di atas peraduan itu, selalu membuktikan dukungan yang tanpa sadar terjalin di atas perbedaan. Tak ada yang mampu menolak, jika itu memang terbukti secara logika dan nalar. 

Seperti yang pernah kukatakan, semua ini seperti jawaban atas semua do'a yang pernah kulangitkan dengan air mata kepada-Nya. Permintaan yang kulakukan saat kecewa selalu menjadi bagian dari keseharianku. Pertanyaan: "Apakah aku (masih) layak bahagia?" atau "Apakah aku (masih) berhak bahagia?".

Karena padamu, semua jawaban yang kutunggu selama 2 tahun itu. Seperti melihat Saturnus di Tata Surya atau kesempatan untuk melihat Galaksi Andromeda. Penantian yang lama itu ternyata bermuara pada sesuatu. Bahkan untuk semua perbedaan yang ada saat ini. 

Mungkin hampir tidak ada orang yang berdoa untuk perbedaan dalam hidup mereka. Namun bagiku, perbedaan itu akan menjawab semua pertanyaan yang ingin kulihat sejak awal. Kedewasaan dalam menyikapinya, dan bagaimana kita bernegosiasi mengenai semua hal tersebut. 

Matamu menghadirkan semua keindahan yang ingin kulihat dalam kedalaman jendela hati. Berbinar memancarkan harapan yang mungkin masih terlipat di jeda waktu. Di sana, kulihat semua keindahan yang berbingkai. 

Aku, (hanya) perempuan yang terbiasa menahan rasa. Ketika lelah dan airmata itu jatuh, aku tetap harus berdiri. Luka yang dalam kupendam rapat. Dan airmata selalu kuhapus dalam diam.

Banyak yang melihatku kuat, padahal kekuatan ini bukan karena aku tidak pernah runtuh. 

Aku sering hancur dan goyah, tapi aku tahu tidak ada pilihan selain terus berdiri.. Meski hati penuh luka!

Dan inilah aku, perempuan yang tampak tegar di luar, namun menyimpan ribuan pertempuran di dalam dada. 

Pertempuran yang (hanya) aku sendiri yang tahu..

Semoga.. 

Takkan ada kata-kata "sampai jumpa..", karena kita mampu melewati semuanya dengan saling menghargai dan memeluk semua itu dengan keindahan pelangi di langit setelah hujan. Lalu merenda semua mimpi dengan warna kita masing-masing di cakrawala yang sama. 

Kebebasan yang terus akan memupuk kebersamaan dengan visi dan misi yang sama. Terus menjalani keseharian dengan pelukan damai yang menenangkan..

4:44 


Thursday, August 13, 2026

Hening 2

 


Aku, kembali ke pantai ini denganmu. Hening tanpa suara karena saat ini aku sedang mencerna semua luka yang pernah singgah. Engkau berkata, "Kamu harus move on." Sejenak otakku membeku, membayangkan suasana kamar yang temaram kala itu. Apakah selama ini aku memang masih berjalan di tempat, tanpa beranjak sedikit pun. Atau aku memang tidak peka?

Adakah tanda yang selama ini tak terbaca?

Yang terselip di antara jeda kita dan aku kurang peka?

Saat ini aku melihatmu masih terlelap dengan napas yang sangat tenang. Damai..

Ingin mengusap kepalamu lembut, lalu berkata, "Sayang.." lalu mengecup pipimu, membisikkan, "..aku cinta kamu"..

Merebahkan kepala di dadamu, mendengarkan detak jantungmu. Sejenak merasa bahwa kali ini aku tidak salah ketika menitipkan rasa dan cinta yang memang sudah tak utuh. Tercemar polusi luka yang sebenarnya sudah kering. Namun, perjalanan waktu selalu mengoreknya hingga membuat luka itu kembali berdarah.

Jeda itu, masih ada dalam anganku..

Rasa yang tak bisa kugambarkan dengan baik..

Menatap punggungmu yang perlahan menghilang, membaur dalam pekatnya malam itu.

Terima kasih, sudah hadir dalam hidupku.

Monday, July 27, 2026

RASA

 


Aku,

Mengenalmu di waktu yang sempat terjeda oleh sunyi.. 

Menyentuhmu seiring perjalanan kebersamaan kita.

Banyak sisi yang harus kita pelajari.

Keterbukaan mendekatkan agar selaras di horison yang sama.

Berjuang melawan kerasnya badai RINDU yang terus menggerus..


Tanpa kusadar,

Tak setiap sedetik pun melepaskan ingatan tentangmu…

Seharusnya, aku tak perlu melepaskan terikatan yang melekatkan begitu cepat.

Cerita panjang itu selalu mengalir, hingga mengaburkan garis batas yang masih kugambar.


Maka,

Kamu..

Kembali yaa..

Jika memang semua akan berjalan seperti yang terbaik dari-Nya..

Tak perlu kamu terus berlari mengejar!

Karena kesejatian RASA tak perlu dipaksa..

Ia,

Akan hadir bersama JIWA yang terus berpasangan dengan RUMAH


Izinkan aku bersandar di bahumu sejenak…

Melepaskan semua penat yang masih memelukku ketika Matahari terbenam.

Lalu, biarkan aku menggenggam tanganmu erat

Merasakan hangat yang mengaliri nadi yang dingin..


@SenjaDibatasKota



 

Tuesday, June 23, 2026

Ini AKU!

 Hari ini kucatatkan niat dalam hati..

Menghapus semua jejak luka berdarah itu!

Takkan lagi kubuka semua cerita lama, membakarnya dengan api keabadian tanpa sekam. Cerita-cerita itu telah usai. Sakit yang masih terasa membuat sesak paru-paru untuk menghirup oksigen yang murni.

Cukup!

Semua jejak itu seharusnya telah terhapus lama. 

Tak sepantasnya tetap kunyanyikan kekesalan itu memuncak. Di antara jeda yang tak seharusnya jadi gelisah. Ribuan kilo itu sudah menjadi cerita yang usang. 

Sudahlah.. Vie, hidupmu lebih bahagia kini kan?

Langkahmu sudah jauh menjelajah Jepang, menuliskan cerita baru dengan karier dan karya yang luar biasa. 

Genggam dunia dan bahagia itu tanpa cela..

Jika terasa letih dan penat..

Istirahatlah..

Janji yaa..

Mundur sejenak menenangkan diri itu tak apa, lalu melesatlah menapaki semua cerita dengan hati yang sepenuhnya bahagia..

Matsumoto 2026/05/28

Sunday, May 17, 2026

Dear Sahabat..

​Selamat pagi..

Detik yang mendentang, mengingatkanku untuk mulai belajar bergerak lebih aktif kembali. Cedera itu menimbulkan sisi rapuhku.

Namun aku tak ingin kembali terpuruk di sisi gelap diri, hanya ingin terus belajar menjadi orang baik. Yang menerima semua perbedaan dengan lapang jiwa.

Aku belajar berdiri lagi, bernafas dengan baik..

Sempat merasa sendiri menjadi semua pahit di di tenang jiwa yang nampak di permukaan.

Aku menyimpan rindumu..

Agar tak lagi memaksa kuat..

Maukah kamu sebentar memberikan bahumu, untukku sejenak bersandar

Menyeka air mata..

Wednesday, April 15, 2026

Persahabatan

​Aku menatap punggungmu yang bergerak menjauh..

Melepaskanmu, adalah sebuah keharusan yang memang menjadi cerita kita.

Ujung yang tak ingin kutuliskan seperti ini..

Namun..

Hari ini aku merasakan, berapa jarak memang selama ini ada!

Atau memang aku hanya terlena..

Lepaskanlah..

Maka perlahan kuhadapi hari-hari ini dengan semua kepastian sendiri. Memeluk diri dengan lebih erat.

Karena sejatinya..

Cerita kita tak melekat!

Bahagialah..

Menggenggam jemari lekat.

Di ujung jalan ini kita berpisah..