Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Monday, September 21, 2026

Journey 2






Sini.. sejenak dulu duduk di sampingku. Sudah kupilihkan kopi untukmu. Americano kan? Berikan aku waktu sejenak untuk terdiam dan memeluk lenganmu, lalu merebahkan kepalaku di bahumu. Biarkan aku menghela napas agar aku tetap ingin berjuang untuk hidup. 

Aku sudah lama berharap orang-orang di sekitarku bisa memahami aku dengan lebih baik. Tak meminta mereka untuk mengerti. Karena perbedaan pandangan pasti akan selalu ada. Aku yang terlalu drama sama semuanya.

Ingin rasanya tak punya sedalam ini padamu. Namun, berdampingan denganmu... selalu membuatku nyaman dengan diriku sendiri. Maka aku akan membiarkan semuanya mengalir pada waktunya. 

Maka, semoga kamu tidak keberatan meminjamkan bahumu kali ini. Peluk saja erat juga aku kali ini.. Sehingga aku merasa ditemani untuk semua perjalanan yang telah disiapkan Tuhan untukku. Kaca hati yang memburam karena diam... air mata yang selama ini menemani kesendirianku mengalir tanpa henti. Aku sudah berjanji untuk tidak melakukannya di depan orang lain. Hanya bisa terisak di atas sajadah, di sepertiga malamku.

Aku,

Selama ini belajar agar tidak merepotkan siapa pun. Belajar tampil kuat dengan senyum yang terus mengukuhkan keseharianku. Hingga tak ada yang menyadari betapa aku belajar membangun diri yang kuat ini, dengan banyak jatuh. Namun, kuputuskan untuk selalu bangkit dan menyisihkan tenaga untuk belajar lebih giat setiap hari. Dan kini... aku berada di titik ini...

Tak mengharapkan validasi atas semua pencapaian ini. Karena aku sudah selesai dengan semuanya. Ketika aku mengatakan "see you on TOP" kepada semua orang, itu (hanya) menjadi kata penguat saat aku rapuh. 

Ini bukan tentang mereka. Sepenuhnya milikku..

Dan, kini aku sadar..

Perjalanan kali ini, begitu indah dan layak untuk kujalani. Tak ada yang berhak menghakimi, karena ini urusan antara aku dan kamu. Teman yang saling menguatkan dan berjalan bersama. Yang tetap berdebat tentang semua perbedaan yang tiba-tiba muncul, dan pada akhirnya kita tetap tertawa lepas. Lalu saling menerima dengan lapang dada di setiap persimpangan jalan itu agar bisa melanjutkan perjalanan bergandengan di sampingmu. Tidak di belakangmu kecuali di jalanan sempit yang tidak memungkinkan kita berjalan berdampingan.

Tahukah kamu bahwa di sepanjang jalan itu, saat tanganmu menggandengku erat, hal itu memiliki makna yang tak terhingga. Karena selama ini yang kujalani hanyalah bagaimana sseorang laki-laki itu menunjukkan egonya dengan sangat kuat. Memposisikanku disampingmu adalah bentuk kesetaraan yang belum pernah kujalani. Genggaman erat yang hangat itu menjadi penguat yang mengalir di pembuluh darah, hingga terasa seperti cahaya di sisi gelap hati yang terus tertutup tabir hitam.

Semua percakapan yang kita lakukan sejak pagi hingga kita merebahkan penat di atas peraduan itu, selalu membuktikan dukungan yang tanpa sadar terjalin di atas perbedaan. Tak ada yang mampu menolak, jika itu memang terbukti secara logika dan nalar. 

Seperti yang pernah kukatakan, semua ini seperti jawaban atas semua do'a yang pernah kulangitkan dengan air mata kepada-Nya. Permintaan yang kulakukan saat kecewa selalu menjadi bagian dari keseharianku. Pertanyaan: "Apakah aku (masih) layak bahagia?" atau "Apakah aku (masih) berhak bahagia?".

Karena padamu, semua jawaban yang kutunggu selama 2 tahun itu. Seperti melihat Saturnus di Tata Surya atau kesempatan untuk melihat Galaksi Andromeda. Penantian yang lama itu ternyata bermuara pada sesuatu. Bahkan untuk semua perbedaan yang ada saat ini. 

Mungkin hampir tidak ada orang yang berdoa untuk perbedaan dalam hidup mereka. Namun bagiku, perbedaan itu akan menjawab semua pertanyaan yang ingin kulihat sejak awal. Kedewasaan dalam menyikapinya, dan bagaimana kita bernegosiasi mengenai semua hal tersebut. 

Matamu menghadirkan semua keindahan yang ingin kulihat dalam kedalaman jendela hati. Berbinar memancarkan harapan yang mungkin masih terlipat di jeda waktu. Di sana, kulihat semua keindahan yang berbingkai. 

Aku, (hanya) perempuan yang terbiasa menahan rasa. Ketika lelah dan airmata itu jatuh, aku tetap harus berdiri. Luka yang dalam kupendam rapat. Dan airmata selalu kuhapus dalam diam.

Banyak yang melihatku kuat, padahal kekuatan ini bukan karena aku tidak pernah runtuh. 

Aku sering hancur dan goyah, tapi aku tahu tidak ada pilihan selain terus berdiri.. Meski hati penuh luka!

Dan inilah aku, perempuan yang tampak tegar di luar, namun menyimpan ribuan pertempuran di dalam dada. 

Pertempuran yang (hanya) aku sendiri yang tahu..

Semoga.. 

Takkan ada kata-kata "sampai jumpa..", karena kita mampu melewati semuanya dengan saling menghargai dan memeluk semua itu dengan keindahan pelangi di langit setelah hujan. Lalu merenda semua mimpi dengan warna kita masing-masing di cakrawala yang sama. 

Kebebasan yang terus akan memupuk kebersamaan dengan visi dan misi yang sama. Terus menjalani keseharian dengan pelukan damai yang menenangkan..

4:44