Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Tuesday, October 13, 2026

Aku & Kamu: KITA?

 





Bab 1: Senja di Senggigi dan Pertanyaan yang Menggantung


Langit Pantai Senggigi sore itu perlahan berganti rupa. Warna jingga keemasan meleleh di garis horison, membiaskan cahaya redup di atas permukaan air laut yang bergulung pelan. Angin pantai bertiup lembut, membawa aroma garam dan memainkan helai-helai rambutku yang terurai.

Di atas pasir yang masih hangat sisa siang tadi, aku dan kamu duduk berdampingan. Hanya ada jarak selangkah di antara kami, tetapi rasanya ada jarak lain yang tak kasatmata jarak yang selalu ragu untuk kulompati.

Gawai di genggamanku bergetar pelan. Sebuah pesan masuk di layar, memecah keheningan yang sempat tercipta di tengah deburan ombak.

"... yang kutanya.. nikahanmu kapan?"

Aku melirik ke samping. Kamu sedang sibuk menyesap minuman dinginmu, pandanganmu lurus menatap garis pantai yang perlahan menggelap. Layar gawaimu menyala singkat ketika balasan darimu terkirim.

"Ga bisa jawab, yang minat aja belum tentu ada 😂"

Aku membaca pesan itu, lalu spontan mendengkus pelan sambil menoleh padamu. Kamu hanya terkekeh tanpa berdosa, menyisir rambutmu ke belakang dengan jemarimu seolah jawaban itu hanyalah lelucon biasa yang dilempar saat senja.

"Hhh... menghela nafas paaanjaaaang"

"....jaadii??"

Kamu berpaling menatapku, memiringkan kepala sedikit dengan raut wajah polos yang dibuat-buat.

"Jadi apa?"

Aku menaikkan alis, lalu mengetik cepat di layar sambil membalas pesanmu menggunakan fitur 'swipe-reply'.

".....jadii.. komen utk ini, lalu menghela nafas paanjaaang

(swiped: Ga bisa jawab, yang minat aja belum tentu ada 😂)

Kamu tertawa kecil. Suara tawa khas laki-laki yang selalu familier di telingaku, tetapi entah mengapa sore ini terdengar sedikit berbeda lebih samar, seperti tenggelam di antara gemuruh ombak Senggigi.

"Trus jadinya apa donk 😂"

Jemariku mendadak berhenti di layar.

Aku berpikir keras. Ada jeda panjang yang tercipta di antara ketukan jemari dan desir angin laut. Di dalam dada, ada rasa sesak yang halus namun tajam, seolah ada sesuatu yang pelan-pelan menusuk hatiku.

"Yang minat aja belum tentu ada," katamu.

Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Ed? Sementara perempuan yang berminat padamu, yang memikirkanmu setiap hari, yang duduk tepat di sebelahmu saat ini, bahkan tak pernah kamu sadari keberadaannya? Atau mungkin kamu tahu, tapi memilih berpura-pura tidak tahu?

"Lalu? Tanyaku... memicu sebuah suara di dalam hatiku sendiri.

Aku terdiam sejenak. Pandanganku beralih dari layar gawai ke profil wajah tegasmu yang disinari cahaya keemasan senja. Bibirku terkunci rapat, tetapi jemariku yang sedikit gemetar kembali bergerak, menyusun barisan kata yang tak pernah berani kuucapkan secara langsung.

(terdiam sejenak, menatap laut yang makin gelap...)

"Jadinyyya... kalau yang minat sebenernya berdiri pas di depan matamu, atau duduk tepat di sebelahmu sore ini... apa kamu bakalan tetep menghela napas panjang juga?"


---


Bab 2: Antara Canda, Desir Senggigi, dan Kenangan di Bandara


Pesan itu terkirim.

Empat titik bulat kecil di sudut kanan bawah gelembung pesan berubah menjadi tanda centang biru. Aku menahan napas, pandanganku mendadak berpindah lurus ke arah bukit di seberang Pantai Senggigi, berpura-pura sibuk membetulkan tali celana atau merapikan tatanan rambutku agar rasa gugupku tak terbaca.

Suara deburan ombak yang membentur bibir pantai mendadak terdengar sangat nyaring.

Di sampingku, gerakanmu terhenti. Cangkir minuman dingin yang baru saja ingin kamu angkat kembali kamu taruh perlahan di atas meja kayu café pantai tempat kita duduk. Keheningan merayap cepat.

Aku melirik dari sudut mata. Kamu menatap layar gawai dengan kening sedikit berkerut, lalu perlahan bibirmu mengukir senyum tipis. Senyum yang sulit kuartikan maknanya. Apakah kamu terkejut? Bingung?

Layar gawaimu menyala. Ketukan jemarimu pada kaca layar terdengar tegas.

TING.

Gawaiku di genggaman berdenting.

"Lho... emang ada yang duduk di sebelahku, ya?"

"Bukannya dari tadi aku duduk sendirian sambil nemenin angin pantai? 😜"

Sebuah pesan susulan langsung masuk sesaat kemudian.

"Kalaupun ada... ya kuhela napas panjang dulu lah."

"Soalnya, yang di sebelahku ini sukanya bikin deg-degan mendadak tanpa aba-aba."

Jantungku seperti meloncat satu sentimeter dari tempatnya. Aku menoleh penuh, menangkap tatapan matamu yang kini terpaku padaku. Ada pendar keemasan senja yang memantul di bola matamu. Senyummu makin lebar, penuh kejailan khasmu, tapi ada sedikit nada lembut yang tak pernah kudengar sebelumnya.

"Ngetik apaan sih?" tegurmu pelan dengan tawa renyah, sambil menyenggol bahuku dengan bahumu yang kokoh. "Muka kamu tegang banget, kayak lagi nunggu pengumuman kelulusan."

Aku terkekeh kaku, membuang muka untuk menyembunyikan rona merah yang perlahan menjalar di pipiku. "Ya... lagian kamu jawabnya ngelantur terus dari tadi."

Kamu tidak membalas lagi dengan kata-kata. Kamu hanya kembali menyandarkan punggung ke kursi kayu, menatap laut lepas, sementara kita kembali tenggelam dalam hening yang kini terasa jauh lebih hangat.


---


Kilas Balik: Tiga Hari Sebelum Senggigi


Jika ada yang bertanya bagaimana dua orang teman lama seperti aku dan kamu bisa terdampar berdua di Lombok, jawabannya adalah kombinasi antara kesialan tak terduga dan keberanian nekad seorang perempuan yang sedang jatuh cinta.

Tiga hari lalu, kita seharusnya berada di tempat dan urusan yang berbeda. Aku ada di Jakarta dengan tumpukan dokumen pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, sementara kamu baru saja membatalkan rencana liburan kelompokmu ke Bali karena teman-temanmu satu per satu mundur karena urusan mendadak.

Malam itu, kamu meneleponku dengan suara lesu dari tempat tinggalmu.

"Batal semua," katamu sore itu, dengan nada menggerutu khas laki-laki. 

"Tiket udah dibeli, cuti udah di-acc, tapi mereka malah pada ada acara keluarga. Masa aku liburan sendirian?"

Saat itu, aku yang sedang berada di tengah kepungan tenggat waktu pekerjaan hanya tersenyum mendengar omelanmu dari balik gagang telepon. 

"Ya jalan aja sendiri, kan kamu laki-laki, berani lah."

"Gak mau. Sendirian itu garing," balasmu cepat. 

"Kamu kek... nemenin. Cuti kamu kan masih banyak."

Kalimat itu terucap begitu saja darimu, mungkin setengah bercanda. Tapi bagi seorang perempuan yang sudah menyimpan rasa terpendam selama bertahun-tahun, ajakan bercanda itu terasa seperti pintu kesempatan yang terbuka lebar.

Tanpa berpikir panjang dan tanpa memedulikan tumpukan berkas yang menjerit di meja kerja aku langsung membuka aplikasi perjalanan malam itu juga.

"Lombok aja," kataku saat menelponmu kembali sejam kemudian. 

"Bali udah terlalu biasa. Ke Senggigi yuk? Aku udah beli tiket penerbangan besok pagi."

Aku masih ingat betul bagaimana keheningan panjang terjadi di seberang telepon, sebelum akhirnya pecah oleh tawa tak percayamu bahwa aku teman perempuanmu yang biasanya serba teratur benar-benar nekat mengambil cuti mendadak hanya untuk menyusul rencana liburanmu yang nyaris gagal.


---


Bab 3: Di Bawah Lampu-Lampu Temaram dan Asap Ikan Bakar


Matahari benar-benar telah tenggelam di balik ufuk Senggigi. Lampu-lampu gantung bertali sabut kelapa di sepanjang warung lesehan tepi pantai mulai menyala satu per satu, membiaskan cahaya kekuningan yang hangat di atas meja-meja kayu.

Aroma gurih ikan bakar khas Lombok yang teroles bumbu plecing pedas menyengat lembut udara malam. Di meja kami, piring-piring makanan sudah hampir bersih.

Aku meletakkan sendok, mengusap bibirku pelan dengan tisu, lalu memberanikan diri menatapmu lurus-lurus.

"Ed," panggilku pelan. 

Nadaku tak lagi seringan saat sore tadi di bawah tatapan senja.

Kamu yang sedang memegang gelas es kelapa muda mendadak menghentikan gerakan. Kamu meletakkan gelas itu pelan, lalu menyandarkan kedua sikumu di atas meja kayu, menatapku lurus dengan pandangan mata seorang laki-laki yang siap mendengarkan.

"Pesan yang kamu kirim tadi sore..." 

Aku menggantung kalimatku sejenak, membuat dadaku kembali berdesir kencang. 

"Itu cuma becandaan sebagai balasan atas leluconku, atau..."

Aku tidak melanjutkan kalimat itu, tetapi sepasang mataku menuntut jawaban yang jujur. Keberanian nekad yang membawaku terbang dari Jakarta ke Lombok seolah ditagih habis-habisan malam ini.

Kamu terdiam selama beberapa detik. Keheningan merayap di antara kita, diisi oleh suara ombak malam yang konstan.

"Vie," ucapmu pelan, merendahkan suara bass-mu. 

"Kamu ingat kan, waktu teleponan tiga hari lalu?"

Aku mengangguk pelan.

"Aku tahu kamu bukan tipe perempuan yang nekat ninggalin pekerjaan gitu aja hanya demi liburan," lanjutmu. 

Kamu menatap mataku dalam-dalam. 

"Waktu kamu bilang udah beli tiket ke Lombok, aku kaget sekaligus sadar... nggak mungkin kamu mau melakukan sejauh itu kalau cuma sekadar nemenin temen."

Napasku menyergap pelan.

"Jadi," sambungmu lagi, menyunggingkan senyum tipis yang sangat hangat.

"Soal pertanyaanmu tadi sore... kalau orang yang kamu maksud itu aku, aku enggak bakal menghela napas panjang karena bingung."

"Terus?" bisikku pelan, jantungku berdegup kencang.

Kamu tersenyum mantap. Kamu mengulurkan tanganmu yang besar dan hangat di atas meja, lalu melingkarkan jemarimu menggengam jemariku yang dingin karena gugup.

"Terus... aku bakal bilang makasih karena kamu udah berani menyusulku sampai ke sini. Dan mulai malam ini, kamu nggak perlu nekat sendirian lagi, karena aku yang bakal jagain kamu."


---


Bab 4 (Epilog): Garis Akhir di Lombok, Langkah Baru di Jakarta


Pagi terakhir di Lombok menyapa dengan udara pantai yang segar. Di atas meja kayu teras penginapan, dua cangkir kopi masih mengepulkan uap tipis.

Kamu berjalan mendekat sambil merapikan tali tas punggungmu yang besar.

"Udah siap jalan ke airport?"

"Siap! Tapi sebelum berangkat... swiped foto yang ini dulu dong 😜"

Kamu memperlihatkan layar gawaimu padaku. Di sana terpampang foto kita berdua dari kemarin sore di Bukit Merese. Di foto itu, aku tersenyum malu-malu sambil menyandarkan bahuku padamu, sementara kamu merangkul bahuku dengan senyum bangga.

"Bagus kan foto ini?" tanyamu sambil mendudukkan diri di sebelahku, lalu secara alami mengacak pelan puncak kepalaku.

Aku tersenyum, merapikan rambutku kembali. "Bagus banget. Beda ya, kalau fotonya diambil pas statusnya udah jelas."

Kamu tertawa renyah. "Gitu dong. Jangan kayak kemarin, mau nanya aja pake pura-pura ngirim pesan panjang, menghela napas, terus pakai drama menusuk hati segala."

"Ya kan usaha!" balasku sambil mencibir pelan, tapi tak bisa menahan senyum. 

"Kalau aku nggak nekat gitu, mungkin kamu tetep kicep nggak peka-peka."

"Bukan nggak peka, Vie," ucapmu pelan. Matamu menatapku lembut. 

"Aku cuma nggak nyangka perempuan sehebat kamu mau nemenin laki-laki kayak aku sampai sejauh ini."

Kalimat itu membuat dadaku meletupkan rasa hangat yang luar biasa.

---

Beberapa jam kemudian, roda pesawat yang kami tumpangi menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta.

Saat kami berjalan menyusuri garbarata menuju area kedatangan, kamu melangkah di sampingku, membawakan tas punggungku di satu bahumu tanpa kuminta. Lalu, secara alami, jemarimu yang besar dan hangat menyelip ke dalam genggaman tanganku, menggenggamnya erat dan protektif di tengah keramaian bandara.

Aku menoleh padamu, dan kamu memberikan senyuman paling hangat yang pernah kulihat.

Liburan di Senggigi mungkin telah usai, tetapi perjalanan "KITA" baru saja dimulai.


---


Note:

Senggigi, pantai yang mungkin saat ini mulai kehilangan sedikit kecantikannya, karena ulah tangan-tangan jahil yang mengotori lingkungan. Namun, dari semua perjalananku, ia selalu menjadi saksi bulir-bulir air mata yang memburamkan jendela. Lalu, tetap menjadi lukisan senja yang indah, di ruang hati yang kini tak lagi hampa.