Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Tuesday, March 12, 2019

Love in Motion

Aku tetap mencintaimu dalam jeda jarak ruang dan waktu.
Selalu (belajar) memahami dalam ketidaksempurnaan.
Menjalani ketetapanNya yang sudah menjadi garis takdir Illahi.

Alloh tak pernah salah menitipkan rasa pada hambaNya. Dia hanya ingin kita terus saling mendekap keimanan dan ketakwaan dalam do'a.

Abang,
Aku telah menemukanmu dalam do'a yang terjawab. Semua akan aku jalani dengan keikhlasan dan ketakwaan.
Dalam jarak..
Aku merindukanmu dalam hamparan sajadah. Menjadi Imam yang melantunkan ayat-ayat cintaNya yang tertuang dalam kitab suci yang menjadi pegangan.

Jika mataku memburam karena bulir bening yang tak terasa mengalir. Itu hanya upayaku menahan kerinduan yang tak biasa.

Yaa..
Perjalanan kita bukanlah perjalanan biasa.
Banyak waktu belajar yang harus diluangkan untuk saling memahami.

Sejenak aku tertegun, menatap nanar langit kamar yang jauh dari bintang.
Aku mencium aroma tubuhmu.. sayang.
Seolah Abang berbaring disampingku.

Yaa..
Kini aku mahrammu, makmummu.
Yang selalu menantikan saat kita memghamparkan sajadah, melantunkan alunan ayat-ayat Al-Qur'an secara bergantian. (Maafkan kalau aku masih seringkali lupa.. Bang)

Aku merindukanmu dengan caraku. Menengadahkan tangan.. meminta Pencipta kita mendekatkan jarak. Memudahkan hati. Melabuhkan tangis dalam pelukan do'a.

..... jika kukatakan aku semakin mencintaimu dalam ketidaksempurnaanmu adalah benar adanya. Aku, menemukan kedamaian dalam pelukanmu, percakapanmu, nasehatmu.

Masih terekam jelas semua dalam ingatan. Serius. Dan pada akhirnya ditutup dengan kecupan hangat.
I love you.. my hubby. Imamku. With all my heart..😘💕

Mommy...
Igau Aira, sejenak memberi jeda dalam tulisanku. Mengusap airmata. Membenahi selimutnya. Mengecup lembut keningnya.
*_Yaa.. sayang, tidurlah nyenyak. Mommy ada disini._*
Mengusap-usap tangannya yang sejurus mengenggam tanganku. Seperti enggan untuk melepaskannya. Harapan.

Menatap wajah polos itu..
Mengingatkanku pada Abang.
Aku selalu memandangi wajahmu dalam hening malam. Mengusap pipimu. Lalu tak kuasa menahan sang waktu.
Aku selalu merindukanmu. Ketika dekat, apalagi jauh.
Entahlah..
Dan rasanya tak perlu memperdebatkan alasan kenapa.
Karena aku tak tahu jawabannya... 😁

Abang,
Aku sedih..
Karena di saat-saat melepasmu dalam jarak, kita tak sempat meluangkan percakapan yang dalam.
Tentang kita.
Aku selalu ada menemanimu.
Membantu semampuku.
Tapi.. mungkin aku tak sanggup memintamu untuk sejenak meninggalkan hobimu bermain game di ujung waktu. 😁
Karena sejatinya aku bimbang, ragu, dan takut..

Waktu yang kita punya hanya sedikit setelah ini. Semua sudah di ujung lidahku. Ingin memintamu memelukku.
Namun tak sanggup rasanya..
Aku melihat kebahagiaanmu disana..
Maka yang bisa kulakukan hanyalah menemanimu, memelukmu. Dan ujungnya aku terlelap duluan..

Maafkan aku yaa.. Bang,
Dalam semua senyum yang terekam, ternyata aku masih sering menyembunyikan bulir bening yang hanya mampu kutumpahkan di atas sajadah ketika jarak selalu memisahkan.
Jika dirimu jeli..
Maka sebenarnya aku pernah menangis ketika memelukmu. Hanya saja itu mungkin luput dan tertutup oleh euforia permainanmu.

Aku..
Berusaha baik-baik saja disini sayang..
Walaupun sebenarnya tidak begitu. Aku menikmati jeda ruang ini tetap dengan caraku. Memakai topeng, dan mengabarkan pada dunia.. bahwa aku baik-baik saja.

Ohyaa..
Lupa aku mengatakan bahwa aku bahagia. Teramat bahagia menjadi pendampingmu, sahabatmu.
Itulah kebenaran dari topengku.
Tak dibuat-buat.
Aku menerimamu dalam ketidaksempurnaan.
Seperti dirimu yang mengatakan *_I love you what the way you are.. sayang_*

Masih di sepertiga malam, aku terjaga. Masih berusaha menyelesaikan proses perpindahan ini sendiri.
Di sisa waktu itu.. sebenarnya aku ingin meminta Abang membantu. Tapi.. aku melihat.. bahwa dirimu pun butuh waktu untuk memahami perubahan yang datang. Kelu lidahku. Tak mampu mengatakan bahwa aku membutuhkanmu. Bantuanmu sayang..

Kembali maafkan aku..
Itu semua kulakukan untuk tidak menjadi beban tambahanmu.. sayang.

Aku...
Aku angkuh untuk mengakui bahwa aku rapuh. Terlalu arogan.. untuk menyatakan aku lelah. Ingin meletakkan kepala di bahumu. Sejenak beristirahat dari semua beban yang selama ini telah kujalani sendirian. Hanya denganNya...
Semoga ketika aku sanggup menceritakan semua, itu takkan menambah bebanmu. Yang kutahu.. memang tak mudah dan ringan.

Abang,
Jika nanti.. ada kesempatan untuk membagi waktu denganku, bolehkah ku memintamu tak larut di permainan gamemu terlalu lama?
Aku dan Aira, punya banyak​ cerita untukmu. Kita duduk menatap langit dan terus membagi tawa. Sambil membakar marshmallow, jagung, sosis..
Asal jangan membakar rumah orang yaa.. Bang?
Dirimu masih boleh kok.. check in di Chicken Dinner. Hanya batasi saja yaa..😁😀

Hidup terlalu singkat untuk dilalui..

Kami merindukan Abang di sini. Memeluk sepi dengan aroma tubuh yang masih tertinggal.
Baik-baik yaa.. Bang.
Take your time.
Kata-kata manismu (selalu) kutunggu..
Itu teramat menenangkanku hari ini. Ketika lelah menyergapku sepulang kerja.
*_I miss you so badly, till the moon and back.. sayang._*

....

Vie?
Vie?

Panggil Sheilla, di tengah kesibukanku menuliskan cerita dalam notes di gawai. Aku menengadah.

Yaa.. ada apa Shel? , jawabku sambil menatapnya.
"Are you okay, Vie?"
"Yaa.. okay Shel. Hanya kangen aja..
Biasa ada Abang, sekarang jauh..
Itu doang..
Aku belum bisa menyampaikan semua perasaan ke Abang. Masih belajar.. Shel. Terlalu lama sendiri gini niih.." jelasku sambil memeluknya.
Sahabatku inilah yang kini menemaniku.
Keputusan memilih Abang, membuat Uci membuat jarak. Yaa.. aku berusaha memahaminya. Memeluk perbedaan pendapat dengan damai.

"Lo ga pulang.. Vie?"
"Ini baru mau pesan ojek online. Mau ambil paket dulu di kantor Abang..
Lo masih siaran yaa? Sampai jam berapa Shel?"
".. sampai bosan laah Vie, Mas Bono lagi ijin.. hahaha..."
Aku suka melihat tawanya.
"Eehh.. driver gw udah datang Shel. Duluan yaa.. take care, bye..
See you tomorrow yaaa.."
Aku memeluknya dan beranjak pergi.
"Iyaa.. you too, take care.. salam buat Abang dan Aira yaa.." katanya sambil melambaikan tangan.

Makasiihh sahabatku..
Sudah sedikit meringankam rinduku.

Abang,
Aku rindu..
Ingin memelukmu erat..
Dan ingin dipeluk hangat, 💕😘

Yaa Robbil Izzati..
Ringkaskan jarak, mudahkan jalan kami untuk bertemu. Lembutkan hati orang-orang yang ada di sekitar kami...
Maafkan aku yaa Robb, masih sering meminta.

... dan kepalaku teramat berat. Pening.. Bang. Ini biasa terjadi jika aku terlalu dalam berpikir. Tak perlu cemas..
Karena aku akan baik-baik saja.

Adzan pertama sudah berkumandang. Bangun.. Bang.
Tahajjud bareng yuuk.. jadilah Imam. (Selalu seperti itu yaa.. Bang?)
Kopimu pun sudah siap.. sayang,
I love you Abang...

#cintadalamjarak #soulmate #lovelightandrays #pecandusastra #120319

Monday, March 11, 2019

Point Blank

Aira sudah terlelap dalam tidurnya. Memeluk Baymax yang baru kubelikan.
Menghiburnya dari sebuah kehilangan yang teramat membekas.
Tak mudah baginya untuk melupakan.
Baymax, robot perawat yang ada di Big Hero 6, adalah impiannya.

Kami selalu melihat filmnya bersama-sama. Jika aku tak terperangkap di kesibukan yang seringkali membunuh kebersamaan dengannya.
Aira, maafkan Mommy.
Damailah sayang..
Semua tawa hanya milikmu.
Sementara rasa lainnya biarkan milik Mommy..

Ada kepedihan yang tak mampu ku ceritakan. Dari perjalanan hari ini.
Aku melihatnya.
Bersama dengan orang yang selalu menemani langkahnya. Dari titik nol.
Melihatnya di kejauhan. Aku takut. Menggigil.
Ingin menyapanya, tapi.. kembali takut.

Lalu.. otakku memberondong ribuan tanya.
Sementara aku?
Siapa aku?
Vie?

Perlahan, bulir bening mengalir hangat. Membasahi kornea yang terpapar debu. Aku tengah merapihkan kamarku. Berusaha membuang semua sisa perjalanan lalu.
Perlahan bangkit, memperbaiki waktu.
Berdamai dengan luka dan sembilu.
Belajar melepaskan, mengikhlaskan, merelakan, dan memaafkan.

New hope?
Bersamanya?
Beribu tanya menyeruak. Menemani aku yang terjaga. Ada Arsenal vs Manchester.
Menatap Aira yang tersenyum dalam tidurnya. Merapihkan selimut yang mulai menyingkap.

Aku disini..
Masih menunggunya dalam hening. Menjadi bayangan yang tak terlihat. Menyembunyikan cinta dalam gelap.
Tetap menghadirkan senyum. Menyamarkan semua realita yang ada.
Aku memang mempunyai ribuan topeng untuk menyembunyikannya.
Sudah teramat terlatih.

Mungkin hanya sedikit yang mampu menerjemahkannya. Aku membungkus semua dengan sangat baik.
Kepedihan, kesedihan..
Biarlah menjdi cerita dalam hening. Seperti ketika membuangnya di api unggun. Bersama wangi marsmallow yang tersentuh api. Hangat meleleh di mulut.

Kali ini aku (benar) takut. Banyak yang telah kubaca tentang pilihanku kali ini.
Semua berujung pedih.
Sakit. Kecewa.

Apa yang bisa aku lakukan?
Mengemis cinta?
Meminta pengertian?
Menuntut tanggungjawab?

Tak lah..
Walaupun perih, aku hanya ingin dimengerti. Bahasa yang kusampaikan dalam diam. Memintanya mengerti kedalaman cinta yang sudah kuikatkan padanya.

Aku?
Siapa aku? 
Pecundang?

Yaa Robbana..
Mengapa Kau meletakkan aku di jalan yang terdapat pilihan ini?
Memilih dengan tak mudah..
Apa salahku?
Apa aku begitu pendosa, hingga masih pula harus Kau uji (lagi)?
Apakah aku harus selalu diuji?
Terus menerus?
Dengan kadar di atas rata-rata?

Semua pikiran itu terus berkecamuk, sambil melihat wajahnya. Semua ada di keyboard hp. Tatapannya. Senyumnya. Aroma tubuhnya. Parfum dan keringatnya pun sudah melekat dalam alam bawah sadarku.
Aku (benar) merindukannya.

Sayang,
Apakah di ujung hari ini, terselip kerinduan padaku dan Aira?
Atau benar..
Semua cerita yang pernah kudengar. Bahwa pada akhirnya, aku dan Aira akan dibiarkan larut dalam sunyi dan sepi?
Tak dianggap ada..
Apalagi ketika harus dipaksa memilih.
Maka takkan pernah ada aku dan Aira.

Krik..krik..krik..krik..
Aku menatap layar gawai, langsung berselancar.
Menelisik.

Saat ini, aku hanya ingin satu kata darinya.
Sebagai bentuk bahwa aku memang ada dalam hidupnya.
"Malam"

Itu saja..
Bagai cinta kayu pada api, yang menjadikannya abu..
Aku, mengorbankan diriku..

Aku tak pernah menuntutnya. Selalu ingin.. satu saat dia mampu mengerti. Memahami aku. Bisa merasakan apa yang aku rasakan kini. Yang berusaha menahan banyak hal dalam diam. Karena tak ingin menyulitkannya dalam permasalahanku.
Aku (hanya) ingin dia memahaminya. Bahasa langitku.  Detil rasanya..
Memintanya mengerti, tanpa harus kuminta. Karena semua seharusnya jelas tertulis sebagai tanggungjawabnya.

Sudahlah.. Vie, tenangkanlah pikiranmu. Resahmu.
Jangan pernah meminta orang lain memahamimu. Belajar saja mengerti.
Mencerna semua dalam kesabaran, akan lebih melegakan jiwa.
Pemahaman akan hadir ketika kita sepenuhnya memahami. Pengertian akan lahir seiring kita yang mengerti.
Hentikan semua..
Mengalirlah,

Hhh...
Nafas yang panjang terhela. Untuk mengusir semua gundah.
Dan, aku masih terisak. Tertidur dalam tangis. Dadaku sesak menahan semua rasa yang berkecamuk.

Vie, Vie..
Bangun..
"Bukannya kamu harus pulang, Vie? Kasihan Aira."

Perlahan mataku terbuka. Ternyata aku masih di meja siaran. Mimpi.
Tapi seperti nyata. Sesaknya.
Airmatanya.
Lantunan lagu Rindu dari Virzha masih terputar. Ada Shella di seberang ruang, melambaikan tangan. Pulang..
Begitu kubaca gerakan bibirnya.

Mas Bono mengguncang pundakku.
"Ayolah...,bareng pulang.." gamitnya sambil membawa ranselku.
"Kalau ga dipaksa.. kamu akan terus disini..
Jalani saja yaa De, kamu pasti bisa melaluinya. Aku selalu ada buatmu dan Aira. Keep strong for her."

Mas Bono terus menarikku, membukakan pintu, mamaksaku duduk di dalam mobilnya.
"Aku kenal Poer. Dia tak seperti lelaki kebanyakan. Mungkin, dia masih  belajar menyesuaikan.. ya? Berilah waktu.."
"Semua ada masanya.. ya De?"

Kata-kata Mas Bono, seperti menyuntikkan ribuan energi yang menghangatkan hatiku yang dingin. Dia memang teman dekatnya ketika kuliah di Tamansari.
Aku mengenalnya ketika menjadi penyiar. Tak juga tahu bahwa kemudian aku mengikat janji dengan sahabat karibnya. Dunia memang sempit.

Mas Bono mengantarkanku hingga depan kostku.
"Tenangkan hatimu.. De. Yakin sajalah.. Poer akan mencari cara untuk menghubungimu."
Kami bersalaman ala Baymax dan Hiro.
Masih ingat ketika mengajari Abang tentang hal ini. Tertawa terbahak aku dan Mas Bono, karena gerakan Abang kocak.
"Take care.. De."

Mobilnya pun berlalu. Aku masih menatap hingga tak terlihat.
Abang,
Aku rindu..
Terlalu banyak yang terpendam dalam sekam.
Apakah aku (benar) ada?
Benar nyata?
Menapak di realita?

Dan,
Inilah aku..
Yang kini terjebak di cintamu.
Yang mungkin (bukan) untukku.
Sebenarnya..
Sebenar-benarnya, aku teramat mencintaimu. Dan aku takut. Ketika berulangkali menanyakan hal konyol yang selalu hadir dalam otakku.
Otak biruku yang tak pernah diam.

Apa aku ada.. Bang?
Apa dirimu ingat bahwa aku ada sekarang? Kenapa tak kau katakan,
"Take care sayang.." ketika meninggalkan Bandung. Aku takut. Teramat takut.
Untuk sebuah rasa yang selalu menghantui..

Malam ini,
Aku terpuruk. Terlempar ke ruang gelap hati.
Kembali menanyakan hal yang sama. Apakah dirimu akan kembali? Menemaniku dan Aira.
Tak apa sejenak. Karena kami tak pernah meminta lama. Semampumu saja. Hanya....
Hhh.. tak sanggup menyelesaikan semua pekerjaan. Aku terua menangis. Terisak perlahan. Tak ingin mengganggu Aira dan mimpinya.

Dimanakah dirimu.. Bang?
Berikan ujung untuk semua ini. Sebentar saja. Tanpa aku memintanya..
Aku hanya ingin dirimu menyapaku..
Untuk menenangkanku.
Aku takut.. akan menggerus hari-harimu jika terus mengirimkan pesan.
Aku gelisah, manakala semua senyap.
Sendiri memang menenangkanku. Tapi lama-lama kesepian juga.. 😥

Dimanakah Abang?
Di planet manakah?
Haruskah Grot dan Guardians of Galaxy mencarimu?

Abang...

#kopidanaku #pecandusastra #novelku #100219 #titiknol

Friday, January 11, 2019

Titik Balik

*02:00 AM*
Detik waktu membangunkanku. Membuka mata, melihatnya, Abang masih terlelap pulas dengan damai. Sejenak menyempatkan mengamati wajah yang telah menitipkan sayang di ruang jiwa. Ingin mampu mengusap lelahnya di ujung harinya.
Terimakasih Tuhan, untuk satu hari lagi kesempatan mencintainya. Menyayangi Abang. Tak terasa, mataku memburam meneteskan airmata dalam diam..

Berikanlah kemudahan, kelapangan rizki baginya.. yaa Robbana.
Sisipkanlah kelembutan hati, untuk selalu bisa menemaninya.
Tak pernah mudah bagiku untuk tenang ketika malam menjelang, dan belum menerima kabar Abang.. *_m home_ ...*
Karena jarak dan waktu yang ditempuhnya tak dekat. Sepenggal kata yang selalu kutunggu sebelum merebahkan RINDU.

Yaa Robb,
Terimakasih untuk titipan RASA dalam jiwaku. Yang menghentikan pencarianku. Abang telah mampu menghadirkan senyum yang memukau di setiap hari yang terlewati bersama. Beberapa menit berjumpa pun telah mampu membahagiakan. Hanya duduk dan berbagi cerita. Semua hal yang sederhana. Karena bahagia bukan tentang apa. Tapi dengan siapa dan bagaimana menikmati setiap helaan nafas bersama.

Mengusap lembut, lengan tangan Abang, membisikkan, *"Abang.. mari kita sejenak bersama tahajjud dan tadarus."* ..atau *"Abang.. Shubuh jama'ah yuuk."* ..adalah hal yang ingin aku lakukan. Begitu damai ketika berada di belakangnya. Menjadi makmumnya.
Bahkan aku sempat meteskan airmata dan terisak ketika pertama kali melihatnya menjadi Imam di sholat Maghrib di kantor lamanya. Semua membasuh kerinduan...

Masih duduk disampingnya. Menatap wajah Abang yang masih dibuai mimpinya. Damai. Begitu menyukai menatap dalam wajah Abang. Karena dari sana, semua cerita berasal. Walau tak selalu seirama dalam langkah.. Terimakasih Abang.. untuk semua hal yang menjadikanku lebih baik.
Abang benar.. rupanya pencernaanku sensitif dengan pedas. Hal yang seringkali aku sangkal.

Aroma Kopi yang tadi kubuat, memenuhi rongga hidung. Rindu menyesapnya bersama Abang. Tapi pagi ini.. aku hanya membuat untuk Abang.
Kembali mengusap tangannya. Mencium pipinya dan keningnya...
Berbisik *_banguun.. Abang, adzan Shubuh. Kopimu pun telah siap_*

*Illahi Robbil Izzati..*
*Jagalah Abang..*
*Berikanlah kesehatan, mudahkan semua langkahnya hari ini..*
*Semua do'a terbaik untuknya. Aamiinn yaa Robbal'alamiin* 😇

I love everything of you.. Abang,

Tuesday, January 1, 2019

1a: RINDU

Kehidupanku begitu berwarna. Semua datang silih berganti.
Seperti kilasan cahaya. Menyembunyikan warna pelangi dalam kilatannya.

Aku, yang mungkin tak terlihat menyembunyikan banyak pertanyaan. Meninggalkan jejak hitam, seperti jejak Shiro setelah menginjak lumpur sawah.
🐾🐾🐾
Jelas terlihat di atas ubin yang baru dipel dengan susah payah.. 😂

Ini ceritaku. Tentang kita. Cerita yang baru akan kutulis bersamamu.
Lembar baru dalam hidupku.
Hampir 6 tahun merasakan pedih dan perih. Walaupun mungkin dalam secarik kertas, yang tertulis baru 4 tahun. Baru kali ini aku berani mengatakan "bismillah" untuk sebuah perjalanan kehidupan (lagi)
Memulainya..

Andai saja semua orang tahu..
13 tahun perjalanan untuk mampu memutuskan. 6 tahun di kesendirian dalam penggalan waktu.
19 tahun? Gosh.. 
Siapa yang sanggup menahan "jatuh" selama itu.

Maka, jika ada yang mengatakan kehidupanku begitu indah. Penuh dengan tawa. I dare you.. please be me, and I believe that you can't survive even a second.

Mostly, I passed through all steps alone..
Lot of deep sadnesses. 
Tak mampu menceritakan pada siapapun. 
Ya, menggunakan topeng adalah cara yang kupilih untuk menyembunyikan pilu.
Seperti jendela kamar yang hanya memburam kala hujan mendera.

Kembali pada ceritaku hari ini..
Di saat kerinduanku sudah tak terbendung. Benarlah.. jika banyak orang berkata: ikhlas itu tak semudah mengatakannya.

Abang, I miss you so badly..
Jika rasa itu sudah tak mampu kutuliskan.. maka pelukan di ujung waktu adalah hal yang mampu menenangkanku.
Sementara jarak masih menjadi batas pertemuan.

11:11 berdetak waktu yang masih mendekapku dalam hening. 
Sudikah kau menjadi sahabatku.. Bang?
Teman perjalanan hidup dalam menjelajah indahnya dunia. Dengan semua dinamikanya. Selalu berkenan menggandeng tanganku, mengajakku menikmati ritme kehidupan.

*_"Dek, kita tak bisa menahan perasaan orang terhadap kita. Hanya bisa mengendalikan bagaimana respon kita atas hal itu."_*

Itu salah satu pernyataan yang aku ingat dari Abang. Belajar mengendalikan respon untuk semua hal yang terjadi dalam hidup.

Mudah? Tak lah.
Semua selalu menjatuhkanku dalam perjuangan untuk bangkit. Mulai belajar memilah dan memilih. Mencarikan sebuah alasan yang paling rasional untuk sebuah keputusan. 
I'm observer. It's always take long to make adaptation. 
Namun sesekali memang kita pun harus melambat. Tak perlu merespon terlalu cepat. Jika tidak terkait dengan nyawa.

Kelemahanku, selalu tentang RINDU. Jarak yang harus kudamaikan dengan hati.. seringkali membuat otakku lelah.
Pening.

Tik..tik..tik..
Aku terus melihat jam. 
Masih ceklis satu. Ada apa.. Bang? ..are you okay? Aku khawatir.. It's something bad happened? 
..oh no, no, no,
I don't want to think anymore..
Worries..

.....................

✅✅ Akhirnya semua kembali dalam keadaan normal.. semua #FAQ terjawab.
But.. I ain't normal yet,
Tersenyum sendiri.
What's up with me?

Mungkin aku kurang terkena matahari. Sedikit berkarat dan berjamur. 😂😁
Dalam makna kiasan tentunya. Karena aku selalu mandi.. 
Aku memang lebih suka diam di kamar kost yang sudah kutempati 4 tahun terakhir. Dan semakin berwarna sejak menemukan Shiro.
Inilah yang membuatku banyak merenung.
Menimbulkan semua tanya yang tak begitu penting. Konyol dan receh..
Sepele..
Namun tetap menyerbu akal sehatku.
Sepele, tapi memang cukup menggerus semua energi positifku.

Efek purnama ketigabelas. Universe clearity.
It sounds crazy but actually so real when you can feel it.
Tubuh ini melemah di titik terendah. Seperti tak menapak. Ini adalah sebuah penjelasan bagi Light Workers. Ketika semesta telah melebur dalam energi yang tak terbaca oleh kebanyakan manusia lain.
Jadi.. 
Seringkali tubuhku dropped. Tak kuat menyangga semuanya. Sendiri.

Yaa.. bersamamu,
Perlahan aku mulai merasakan begitu banyak warna yang mampu kulukis dalam kanvas. Tak melulu monokrom.
Mencoba kembali pada AKU. Yang tak lagi memaksakan topeng untuk sebuah kebahagiaan yang memang layak aku miliki.

RINDU,
Bisakah kau selalu memberikan kabar? Tak apa jika harus kau titipkan pada angin, awan, hujan, angin, batu, bintang, atau semesta. Karena aku selalu tak mampu menenangkan hati. Selalu ingin bertanya, _.. r u okay?_
Dan pun sering terjebak dengan takut _if you're angry_

Hhfft, terlalu menuntutkah aku?
Hanya ingin ketenangan jiwa.. 😪😫

Dan yakinlah.. Bang,
Jika kita masih menatap langit yang sama, kabarmu akan sampai padaku. Dimanapun perjalanan penjelajahanku.
Hingga waktunya nanti..
Aku ingin dirimu bisa menemani dan menjagaku di setiap detik langkah-langkahku.
Perlahan saja, karena kita tak sedang menunjukkan superioritas ataupun kehebatan diri. 
Perjalanan ini untuk melantunkan tasbih, tahmid, dan takbir, atas indah ciptaanNya. Puncak adalah bonus. Kebersamaan adalah tujuan.

................

Awal 2019, hari pertama.

Aku percaya.. ketika meyakini sesuatu, kita pasti akan diuji dengan itu. Semua selalu ada hikmahnya.
Ini seperti _trial_ dari besarnya masa depqm yang akan kau alami  nanti Vie. Kuat atau tidak.. nasehat Mang Udi, sebelum aku mengakhiri sesiku.

Bang,
Kenapa aku mudah cemas? ..gampang terjebak pada kerinduan yang luar biasa...
Aku hanya ingin mendengarkan sedikit kabar darimu.
Karena tak pernah seperti ini. Belum pernah begini. Hujan mulai menambahkan rindu yang pekat. Dimanakah dirimu Abang sayang?

Sejurus bangkit dari tidur, dan berusaha melawan pening yang sudah mencengkeram kepala sejak kemarin.
Aku takkan mengatakan apa-apa pada Abang. Karena aku tahu, bahwa itu hanya akan membuat Abang cemas.
Seperti yang Abang sampaikan..
Membuat Abang merasa tak bermanfaat.
Deg..
Sakit rasanya, membuat Abang merasakan semua kecemasan tanpa bisa melakukan apa-apa.
Maafkan aku yaa..
*Benar* maafkan aku, untuk semua kecemasan tentangku.

Bang,
Sedih tak terperikan, manakala tahu itu yang Abang rasakan. Duuh.. maafkan aku yaa Bang. Terlampau pula jujur..
Aku memang banyak menahan rasa sakit sendiri. Menangis dalam hening.
Maka di satu titik, aku sering jatuh sakit. Ketika badanku tak sanggup menahan beban pikiran.
Kenapa? 
Mengapa semua harus berulang, kembali ke titik nol. Aku dan kesehatanku yang selalu seperti rollercoaster.

Aku, selalu ingin sembuh. Karena jika sakit pun, selama ini sendirian. Seringkali harus berjalan perlahan, menyiapkan makanan sebelum meminum obat-obatan yang kusembunyikan pada semua orang.
Aku selalu ingin baik-baik saja.
Aku ingin lebih lama hidup.
Menemanimu dan Aira..

Aira, gadis kecil itu pastinya akan bahagia mengenalmu. Dia tak pernah bertemu sosok 
_ayah_ yang baik sepertimu.

Sh*t... ingatanku tetiba melesat pada ba**ng** itu,

Lesatan masa laluku, kerap menghadirkan anxieties yang over dosis. Menyiksaku sendiri. Menggerus kesehatan kepala dan ususku. Maafkan aku untuk itu yaa.. Bang,
Semua kesalahanku, yang membuatmu cemas.

Aku ingin menuliskan banyak cerita tentangmu. Tapi mataku terlalu lelah. Merasa kantuk yang luar biasa. Dan hanya sanggup menuliskan, *_Aku mencintai mu_*
Sekian.

Bang,
Dimana dirimu kini?
Cemaskah juga dirimu? Ketika jarak ruang begitu memisahkan kita?

Aku kembali membenahi playlist yang ada d komputer. Rio sudah siap. Melambaikan tangan menyapaku. Tersenyum.
Ini pekerjaanku. Penyiar Radio.
Profesi yang selalu mampu _menyembuhkan dan menyembunyikan_ pilu.
Dalam deretan lagu yang kuputar.

Dan selalu bisa memaksaku untuk sembuh. Belajar tersenyum ikhlas. Walau seringkali siaran dalam kondisi sakit. Kepala berat yang berputar berat.
Tubuhku memang sedang dalam kondisi terendahnya.

Banyak yang tak mampu aku ungkap pada keluargaku sendiri. Pada banyak orang. Tentang diagnosis yang disampaikan padaku ketika itu. Apakah ini waktuku?
Aku dan otakku. Kelemahanku.
Yang pernah terbanting, membentur trotoar depan Mirota Kampus.
Pun, sejak 4 tahun lalu.. 
Pencernaanku pun berontak dalam diam. Seringkali harus bedrest.
Semua cerita tentangku ini, tak pernah jelas kuceritakan. Semua terbungkus dalam diam.
Hening..

Aku, ingin selalu bisa menemani Abang. Always be there.. when you need the supports on what you do. Stand by your side.
I love you, handsome..

Berjanjilah untuk tetap ada disampingku,

Menggandeng tanganku, mengajariku sebuah perjalanan kehidupan (lagi)..

Dari sisi lain,  sisi yang sangat penuh warna..

Never ever let me down..

Hold me tightly

Promise?

Sunday, December 23, 2018

Chapter 1: Light, Love, and Rays (New Beginning)

Dear Abang,
Tak mampu menahan bulir bening yang memburamkan jendela hatiku, walau aku sudah berusaha menenangkan hati.
Ada rasa pedih yang belum selesai.
Jika saat ini, Abang ada di depanku, maka aku hanya akan diam menatap Abang dengan linangan airmata.


Begitu terhenyak kaget, karena semua status yang kutulis di WA adalah untukmu.
Kerinduan yang tak mampu kubendung jika dirimu jauh.
Bersamamu..
Aku (benar) belajar bagaimana *_ikhlas_* ..
Cukup menenangkanku bahwa Abang baik-baik saja _at home_ ..


Semalam,
Terbangun pukul 00:00, dan _Abang pasti sudah sampai, dan sedang bersama keluarga nya_ bisikku menenangkan diri.
Tapi, akhirnya hanya mengetikkan _safely landed_ menenangkan hati. Dijawab atau tidak.
Menatap TV yang memang belum dimatikan. Selalu menyalakannya untuk mengurangi rindu..


Ada Love, Rosie
Cerita tentang perjuangan memiliki, menaklukkan ego.
Tetiba aku teringat Abang, mencari gambar tentang hujan, menuliskan caption yang berasal dari film.
Begitu mencintaimu, hingga harus (terus) belajar bahwa _wherever you are, no matter who is with. Aku selalu ada buat Abang_

Semua kutulis untuk untukmu.
Selalu berharap dalam diam, Abang melihat itu. Memahami rinduku..

Hanya ketika ternyata respon Abang, kembali mengingatkan pada Dy. Pipi dan mataku panas berair..
Kenapa?

Abang tersayang,
Aku telah memilih jalanku, cerita hidup yang ingin kubagi bersamamu.
Dia adalah masa lalu.
Berjalan sendiri-sendiri.

Jika masih boleh aku meminta..
Bolehkah Abang memutuskan tali merah yang selalu dikaitkan pada cerita lalu itu?
Apa yang sudah kutuliskan dalam blog, adalah runutan cerita novel yang ingin kutuliskan. Penggalan cerita.
Dengan setting yang memang sering terinspirasi dengan rasa yang terjadi kala itu. Sebagian besar tentang kesedihan, semua selalu diiringi airmata.

Cerita itu (mungkin) tak bisa terhapus. Karena itu bagian dari kisahku.
Tapi..
Bisakah Abang meyakini, bahwa saat ini aku hanya punya satu mimpi.
Menjadikanmu Imamku, dan perjalananku kali ini akan membawaku bertemu denganmu (lagi) di Syurga.
Dan jika nanti..
Abang belum menemukanku, tolong carilah aku.

Perjalanan bersamamu, selalu membuatku takjub sejak awal.
Dalam mimpi-mimpiku, selalu berharap bisa menutup hari, memeluk lelah saling berbagi cerita. Berdiskusi ringan tentang banyak hal. Hingga lelah, dan saling menggenggam menguatkan karena terlalu banyak cerita sepanjang terpisah di siang hari.
Lalu, bertatapan dan berbisik *_I love you_*.
Mengantarkan mimpi dengan indah.
Saling menjaga..

Itulah yang selalu menjagaku dalam cinta padamu. Kita berusaha untuk jadi diri sendiri. *_I love you what the way you are_*..

Walaupun tak mudah untuk menenangkan debaran jantung, manakala Abang _shouting and yelling_.
That's part of my traumas.. also.

Dari semua taburan cerita itu, ingin kutuliskan bersamamu. Perjalanan kita.
Jika diijinkan..
Mungkin aku akan memilih menemani semua perjalananmu. Hanya untuk menenangkan rinduku. Belajar menuliskan cerita milik kita, di tengah semua kesibukan Abang.

Itulah yang aku lakukan ketika Abang memintaku menemani menyetir mobil matic itu. Psstt.. tak percaya jika itu pertama kali 😁 Dan terus ada disisi Abang hingga semua selesai.


I really love you, falling in love with you..

Kubunuh waktu dengan membaca berita di Line, mencari tempat baru untuk kita, dll.
Seraya sesekali memperhatikan Abang dalam hening dari jauh.


Really proud of you..
You are fighter, struggler, quick learner..
And having good anger management handling complaints.

Ijinkan aku menuliskan semua itu, dalam chapter baru di sini.
Semua tentang kita, RINDU ku padamu..

Miss you so badly.. Abang

...........

Jeng..., bangun Subuh.. bisik Uci perlahan.
Ternyata aku tertidur dalam isak. Belum menyelesaikan cerita, dan masih menggunakan mukena. Tertelungkup di sajadah.

Menyelesaikan semua cerita yang kutulis di blogku. Save, hibernate. Aku harus menyelesaikan semua target hari ini. Harus dikerjakan dengan hati yang ditenangkan.

Melihat jam weker, 04:30..
Bergegas membereskan semuanya. Wudhu, sholat Subuh. Dan menutupnya dengan do'a untukmu. Kembali menyesak..
Tapi teralihkan dengan proofreading yang harus diselesaikan.
Pun membuat pizza. Yang kemarin tetiba salah resep doughnya.

Baru memahami kenapa semua begitu menyesak dan misleading. Semalam bulan purnama ketiga belas. Universe clearity..

Maka maafkan aku jika masih belum bisa melegakan kekhawatiran Abang padaku. Terimakasih, untuk semua kesempatan menemanimu. Aku selalu ingin bisa melakukannya.

Ayo fokus sayang...
Kata-kata yang membuatku selalu tersenyum. Merasakan bahwa Abang selalu ada menemani. Walaupun dalam jarak..

Percayalah Abang..
Saat ini dirimulah yang mengalihkan duniaku. Hanya dirimu.
Berproses dengan semuanya..

Aku merindukanmu utuh, selalu ingin bisa berjalan di sampingmu. Walau mungkin sesekali aku lupa. Dan melesat di depanmu. Merasakan bahwa Abang selalu mengamati langkah-langkahku, yang mungkin grasa grusu. Tersandung batu-batu kecil yang sebenarnya terlihat.

My bad..

Menaklukkan egoku bukanlah hal yang mudah. Membuatku memahami bahwa banyak hal yang sebaiknya kulakukan, tanpa mendebatmu itu adalah kekagumanku.

Beruntungnya aku, bisa memiliki Abang di penggalan waktu ini. Karena itu adalah bukti baiknya Tuhan padaku.

Ingin selalu bisa melakukan semua hal baik yang Abang ajarkan tanpa paksaan. Dan membisikkan: Paagii.. Abang, ini kubuatkan kopi dan pizza..Bukalah matamu, lihatlah ada aku..

Menemanimu..
Menyesap semua cerita dalam kopi.
Aku, menyayangimu utuh..

#mysoulmate #setjangkirkopi #cintadalamjarak

11 vs 22

Selalu ada alasan mengapa kita dipertemukan. Tak ada kebetulan di dunia ini. Semua selalu berjalan dengan ijinNya.
Mungkin, engkau tak pernah tahu bagaimana aku berproses dengan semua penggalan waktu denganmu.
Aku, yang mampu menembus hujan deras di dingin malam.
Dengan sejuta tanya..
Mengapa?

Mengapa?
Pertanyaan itu terus mengusik diamku.
Karena aku belum pernah merasa begitu bahagia bisa berbincang dengan orang lain, denganmu.
Bahkan menutup malam dengan diskusi malam yang mungkin "aneh" bagi orang lain.
Kali ini, sungguh terasa teramat berbeda..
Bersamamu, aku menemukan perjalanan yang teramat aku mimpikan.
Deep talk,
Itu yang mampu menenangkanku di ujung hari. Belum pernah aku menemukan orang sepertimu.
Senyaman bersamamu..

Sosok yang mampu membuatku tertawa lepas, tapi juga mengasah ketajaman pikiran.

Jarang aku mampu bicara jujur tentang apa yang aku rasakan, ketika semua berjarak. Saat HP hening dari sapaanmu..
Aku,
Sangat ingin berlari menjemputmu, membagi semua cerita yang kumiliki hari ini. Lalu.. memelukmu tanpa jeda..
Teramat sedih dan selalu membuat cerita di notes.
Menuliskan semuanya di sana..
Mungkin karena aku tahu, airmata kali ini begitu nyata.
Hingga tak mampu membuatnya terbuka.

Denganmu,
Ikhlas itu begitu menjadi nyata..
Bukan sebatas wacana.
Darimu,
Begitu banyak cerita sayang yang mampu membuatku terhenyak dalam diam.
Like rainbow..
Yang terlihat setelah hujan.

Setelah perjalanan panjang luka, aku dipertemukan denganmu. Tak hanya BW, istilahmu untuk monokrom.
Begitu indah.. Bang,

Masih sedikit cerita yang bisa kutulis tentang kita. Tapi yakinlah.. setelah ini selalu banyak cerita yang kita lalui bersama.
Percayalah..
Aku telah mencintai dan memlilihmu. Selalu menyebut namamu dalam do'a..

Aku,
Ingin bersamamu..
Membagi semua cerita hidup, belajar berdampingan tanpa mengubah.

03:00
Adzan pertama telah berkumandang. Terjemahan yang sedang kukerjakan, telah selesai.
Aku, menatap Aira. Dia terlelap pulas. Cantik.

Bahagiaku bisa memeluknya. Kesempatan yang jarang kuluangkan untuknya.
Aku begitu tergerus oleh pekerjaan, yang menuntut tanggungjawab yang seringkali melupakannya. Meninggalkannya di pagi buta, ketika masih terlelap. Dan kembali ketika ia sudah memeluk Baymaxnya. Mommy, love you sweetie..
Bisikku, sambil menciumi wajahnya ketika masuk kamarnya. Selalu..

Beruntung, aku memliki bi Imas yang mampu menggantikan tugasku. Mungkin sebagian peranku. Karena Aira selalu menunjukkan karya-kayanya selama aku kerja. Atau bahkan sering membuatkan origami. Zenbazuru..
Burung khas Jepang untukku.
"It's for you.. mommy, for your luck. Love you.. always," katanya sambil memelukku erat.
Ketika dia memaksakan menahan kantuk, hanya untuj bisa menemuiku.
Maafkan mommy yaa.. sayang, belum bisa membagikan waktu yang banyak bagimu..

Menatapnya saat ini, mengingatkan pada almarhumah Fira, Bundanya. Mereka begitu mirip..
Tenang disana sahabatku, Aira dan aku selalu mengirimkan do'a terbaik untukmu.
Ia telah tumbuh menjadi gadis cilik yang cerdas. Mewarisi kecerdasanmu.
Maafkan..
Aku mengajarinya aktif berbahasa Inggris, karena aku ingin ia mampu membuka pikirannya untuk sebuah perubahan. Open mind..
Tapi, janganlah khawatir sahabatku sayang..
Aira pun mampu berbicara bahasa Sunda. Itulah kenapa aku mempekerjakan bi Imas. Untuk terus mengajari Aira kearifan lokal leluhurnya. Mm, sesekali ia pun bisa berbahasa Jawa.
Anakmu itu memiliki keterampilan bahasa yang sangat memukau..

Itulah yang tak pernah lupa menghadirkan senyum terbaikku. Atas semua perkembangan Aira saat ini. Mampu mengembalikan semangatku, untuk memberikan yang terbaik baginya.

Tunggu kami di Syurga yaa sahabatku..
Carilah kami jika kau belum bertemu. Aira, kirim Al Fatihah untuk Bunda Fira yaa sayang..
Dan bibir mungilnya pun langsung komat-kamit membaca Al Fatihah yang diajarkan gurunya di sekolah..

Duuh, sayaang 😘 betapa Mommy beruntung memilikimu..
Bintang kecilku, my sweetheart..

02:30

Kembali, sakit mulai menggerus kesadaranku. Tertatih ke kamar mandi. Berusaha untuk bisa tetap tahajjud.
Yaa Robbana,
Terimakasih untuk semua irama hidup yang Kau berikan padaku.
Sejenak..
Melambungkan ingatan pada kilasan ingatan kemarin.

"Sudah beres kerjanya?" Begitu pesan dan shareloc.
Aku masih harus menjelaskan sedikit. Melakukan evaluasi.
Lalu bergegas memesan ojol untuk memangkas waktu.

Kini, tak pernah sedetikpun aku tak merindukanmu.. Abang.
Jarak ruang dan waktu, kuterima apa adanya. Hanya bisa menarik nafas panjang memejamkan mata, bertemu denganmu di ruang rindu. Bukan virtual. Seperti dimensi lain saja.
Membiarkan hatiku menggumam, memelukmu dalam diam.

Miko Mall, siapa yang tahu itu adalah singkatan dari Milan Kopo Mall. Hh.. ternyata aku belum tahu Bandung. Tak mengenal pojok-pojoknya dengan baik.

Da*m..
Kalau dibutuhkan, tetiba Google Maps selalu lola. Seraya berusaha menelpon Abang, mencarinya. Sejurus melemparkan pandangan ke seberang. Menangkap sosoknya. Yang tak pernah henti menghadirkan senyum.

-------

Seharian, hanya mampu terbaring. Panas tinggi. Karena rindu?
Mm.. jeda ruang memang cukup menguras energi.
Aku,
Telah menikahi semua kekurangannya. Jadi tak perlu semua kesah.
Menikmati perjalanan bersamanya dalam keadaan apapun.
Bang,
I always be the best supporter no matter what..
No worries 😊,

Aku,
Memang merindukanmu. Badly..
Bahkan ketika dekat dan tengah mendekapmu. Atau sekedar bersandar di bahumu, aku selalu merasakan tak pernah cukup waktu untuk menyampaikan semua kerinduan padamu.

Dear my hubby,
Yaa..
Aku belum pernah menuliskan betapa rasa syukur atas semua takdir yang mengikat kita kini.
Dalam semua tulisan yang kubuat, mungkin inilah kisah ternyata dalam ikatan sebenarnya.
Pernikahan.
Cinta yang semoga akan mempertemukan kita sebagai sahabat dunia dan akhirat.
Sesurga..
Aamiin yaa Robbal'alamiin 😇😍 💕

Dan jika nanti Abang belum menemukan aku disana, maukah dirimu mencariku?
Tak mudah..
Karena di dunia pun pertemuan kita melalui perjalanan yang teramat panjang.

I love you Abang..
Sakitku kali ini, biarlah menggugurkan semua dosaku.
Aku mendekapmu dalam do'a terbaik,
Di antara sujud..
Sepertiga malam yang selalu membangunkan aku, dalam sehat ataupun sakit.

I miss you so much..
Jarak dan ruang, rasanya akan selalu menjadi penguat semua rasa yang akan dipeluk hangat.
Aku,
Bahagia karenamu. Merasa lengkap dengan semua pertukaran pikiran yang hampir selalu kita lakukan di ujung hari.

Suamiku,
Dekaplah rinduku dan Aira dalam mimpimu. Berdo'alah di dinding waktu..
Untuk pertemuan kita melalui perjalanan kehidupan.
Bersama, selalu bergandengan tangan..
Happily ever after..

PS: ..my Baymax

---

"Vie,  r u okay?", sapa Mas Bono ketiks aki masuk studio.
" ... m okay, Mas, cuma demam sedikit.." jawabku santai sambil menyiapkan materi siaran.
"..merindu berat.. "

"...hahahahaha, bahagia rasanya melihatmu merona merah. Kalau bicara tentang dia," candanya.

".. aaiisshh, meni sakitu na nyaa.. Mas."

"Mmm.. ga apa Vie, you deserve on that. Aira sehat?" tanyanya kemudian.

"Sehat.. Mas, sedang di Yogya sama bi Iyem. Mereka butuh refeshing sejenak. Aku sedang banyak dikejar deadline.." jelasku

"Aah.. Vie, kamu bekerja terlalu keras" kata Mas Bono sambil melewatiku dan mengucap kepalaku lembut.

Duuh.. seperti yang sering Abang lakukan. Aku benar ingin saat ini dia ada. Mendekapku.
Mengatakan "I love you too sayaang 😘💕"
Semoga...

"Kuat yaa Vie.. jangan cengeng," lanjut Mas Bono.

"Ashiiyaaapp.. Mas," aku membalasnya dalam kelakar.

Really miss you so much.. Abang,
Selalu jaga kesehatanmu, untuk aku dan Aira.
Yaa??

#diskusiujunghari #adzanpertama #dalamjarak #kopidanaku #aksarabermakna #pecandusastra

Monday, December 17, 2018

Halaman 17:12

Ini sebuah cerita, dari lembar baru yang masih basah.
Hujan?
Tidak..
Deraian airmata, terus melaju tak berbatas.
Aku menangis untuk ke sekian kali.

Kamar yang gelap..
Aku menyalakannya seraya mengusap airmata.
Shiro dan Gogo, dua ekor kucing yang selalu menemaniku ketika aku benar-benar terpuruk.

Seolah mereka memahami, bahwa aku butuh teman.
Teman yang bisa membatasi aku dengan sebilah pisau.
Sahabat yang akan selalu mengingatkan, bahwa hidup harus dijalani. Bukan diratapi.

Aku,
Disini..
Tetap disini..
Menunggumu Bang,
Menuliskan semua cerita pilu yang masih juga belum beranjak dari hidupku.
Aku benar-benar buta, tak bisa meraba jalan masa depan mana yang hendak aku pilih.
Semua.. sunyi,