Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Tuesday, September 10, 2013

CINTA DI KEHENINGAN



Tuhan,
Pertemuan ini bermula di keheningan malam,
Manakala kelelahan bermuara di peraduan,
Sungguh..
Pertemuan yang [biasa] saja.

Tuhan,
Jika kemudian menjadi pertemuan yang luar biasa,
Yang kuyakini..
Itu adalah takdir yang harus kujalani,
Karena tak saling mencari dan menemukan.

Tuhan,
Izinkan aku bertanya banyak hal,
Kali ini..
Karena kegelisahan ini kian tak bertepi,
Biduk hatiku semakin limbung,
Bagai terkaram di pelabuhan yang tak landai.

Tuhan,
Yang kuinginkan sederhana saja...
Hanya tepian hati dalam bilik ketenangan,
Yang tak terjebak di kesunyian jiwa,
Terus dapat merasakan kedamaian yang memeluk erat.

Tuhan,
Apakah Kau izinkan...
Sahabat Hatiku tetap berkenan menemani langkah hening,
Dengan tangan yang selalu memegang,
Manakala aku kehilangan arah dan tersesat?

Tuhan,
Bilakah Kau izinkan..
Teman jiwaku (selalu) dapat menepis kerinduan,
Yang sering menjebakku di keramaian,
Jika aku tak mengerti perasaanku sendiri?

Tuhan,
Yang kutahu..
Perjalanan waktu sepenuhnya dalam putaranMu,
Pergulatan jiwa ada dalam pengertianMu,

Maka..

Tuhan,
Dapatkah kali ini..
Aku memohon di setangkup do'a,
Kau tepikan masa di kedamaian,
dan muarakan rasa di kesejatian?

Tuhan,
Mampukah aku tanyakan..
Apakah kegundahan ini berasal dari rasa yang serupa,
Kegelisahan yang setara,
di keheningan awal yang sama,
antara Aku dan Dia?

Tuhan,
Ampunilah aku..
Jika kuteteskan airmata,
Memohon kekuatan hati,
Menjalani hidup dalam kelapangan.

Dan..

Tuhan,
Berikanlah kesempatan (lagi) bagiku,
Di setiap ujung hari yang terlewati,
Menemaninya (selalu) dalam dekapan keheningan,
CINTA tanpa rangkaian kalimat,
Namun ADA dan TERASA tanpa jeda,
Walau dalam kebisuan.

<jikapun kau rasakan, dekaplah [aku] erat>
</damaikan>


Sunday, September 1, 2013

[Masih] SURAT UNTUK SAHABAT (lagi)..



Paagii Mentarii....

Tahukah kau... Dy,
(hhmmm... bolehkah kupanggil  dirimu “Ayy” saja??)

Setiap kau ketikkan ini melalui pesan singkat elektronik, selalu menghadirkan getaran rasa yang luar biasa dalam hati.  Membangkitkan semangat kebahagiaan menjalani hari.  Seperti sentuhan-sentuhan lembutmu ketika kita bertemu di sela kesibukan kita beraktifitas, menepikan waktu bersama...
Keindahan tanpa jeda...

Kini...
Aku selalu berlari, berusaha melepaskan diri dari kenyataan pahit.  Tenggelam di kesibukan membaca dan menulis.  Berusaha memahami makna dalam setiap kejadian dengan ketulusan hati.

Ayy,,
Di antara airmata yang kuikhlaskan untuk menjalani tahapan hidup dengan mengalir (hidup tak pernah mudah... katamu dengan bijak, menghiburku).  Sangat ingin menyandarkan kelelahan yang kini kurasakan.  Di bahumu yang menawarkan kekuatan.  Ataupun di dadamu yang membagikan kedamaian dengan irama detak jantungmu yang tenang.

Semua (hanya) ingin kulakukan saat ini, walau ketika terbangun selalu menyadari tepian waktuku bersamamu itu nyata adanya..
Airmata itulah yang kian deras mengalirkan kepedihan.. Ayy.
Ceruk hatiku yang terluka akan (selalu) kembali sendiri di ujung kehidupanku.

Maka,
Catatan hatiku kali ini...
Menjadi goresan hati yang menyatakan keegoisanku..
Ingin (selalu) jadi ke['kasih'] yang dapat menjabat hatimu di antara keterbatasan yang kita miliki... Ayy.

Memang mungkin sempurnakan hidup,  namun bukan itu tujuan yang kucari.
Hanya berharap...
Melangkah dengan ketenangan jiwa dan kedamaian pikiran.

Maafkanlah.. Ayy,,
Jika apa yang kupinta ini, terlalu muluk atau berlebih.
Tetap temaniku saja, semampumu....

Kucoba tuliskan semua dengan bahasa yang indah..
Perjalanan waktu ini.. 
Benar mengguratkan ketulusan di keindahan cinta haqiqi .  
Mengalir bagai air..

Bisakah ini terus mengalir.. Ayy??
(tanya di  sudut kegelapan hati...)
 
Tanpa kata...
Yang memang tak pernah cukup, untuk mewakili hati.

Yang kutahu..
Dalam diam pun, yang tertabur di pekat langit malam, selalu bisa kutemui dirimu yang menerangiku.

Karena kau memang BINTANG yang terus memelukku, di belahan manapun langit yang menaungi.
Dan (tetap) jadi KUNANG-KUNANG yang terus tulus temani dengan terangmu... Ayy,,

Tetap izinkan aku yaa,,
@Merindumu...

TITIK NADIR HATI

Kertas putih itu..
Kembali dalam hatiku,
Terhapuskan dari semua kenangan..
Yang tak (lagi) terasa manis dan indah,

Titik nol itu datang lagi..
Dan aku masih berpegang pada tiang rapuh,
Masih pula menggenggamnya erat...
Walau kutahu seperti segenggam pasir.


Yaa Rabb,
Jika memang harus terkaram..
Berikan kekuatan jika berlabuh di pantai yang tak landai,

Yaa  Ilahi,
Jika beberapa putaran Purnama yang terlalui pedih ini..
Berujung pada pembelajaran pada rasa syukur..
Pada kehadiran kebahagiaan,
Dapatkah..
Ajari aku untuk menerimanya sebagai ketentuanku,

Yaa Tuhanku,
Yang kutahu..
Bahwa aku takkan sempurna..
Masih hina dan penuh dosa,

Namun,,
Masihkah Kau izinkan...
Pasrahkan diri,
Kembali sandarkan hati,
Dan tak ingin terjebak dalam benci,

Agar tak limbung kaki melangkah..
Meneruskan hidup,
Dalam tepian ruang dan waktu,

Kekuatanku..
Hanya pada tumpuan kakiku sendiri..
Karena semua ujung kehidupan..
Kau gariskan kembali di kesendirian dan kesunyian,
Dan aku harus tetap temani mereka,
Dalam retasan mimpi,

Untuk itulah..

Pemilik hatiku yang hakiki,
Jika tak ada ujian yang tak sanggup kulalui..
Termohon keteguhan keyakinan dariMu,
Bahwa di ujung jalan yang belum kuyakini ini...
Keindahan itu (masih) ada,
Tetap sempurnakanku dalam ibadah padaMu. 

Pagi itu masih indah..
Embun itu tetap sejuk..
Angin semilir selalu menghembuskan kedamaian,

Matahari tetap lukiskan asa..
Bulan selalu tawarkan keceriaan senyumnya..
Bintang pun masih akan menerangi jalan masa depanku,

Semuanya,
Kembali....


(#TetapPegangkuErat ....dgn (kasih),
semampumu.. Dy )



Friday, August 16, 2013

ELEGI RINDU

Mungkin tak pernah kau tahu...

Jika terdiam, 
Hampir tak pernah terlewati..
Selalu tersebut namamu, 

Ketika membisu,
Pun membisikkan rindu..
Milikmu,
Yang mungkin tak sedalam yang kurasakan,

Dan,
Jika tak mampu tertahankan,
Malam pekat akan menjadi saksi..
Buliran bening pun mengalir..
Menembus dingin malam yang menamparku keras,

Kau,
memang Bintang..
Aku,
adalah Mentari..

Seharusnya,
Kita memang saling merindukan..

Batasan waktu yang selalu menepikan...
Membuatku merasa selalu sendiri,

Dan,

Hidup yang sederhana tak akan menjadi rumit..
Manakala semua bemuara dalam satu rasa,

Ingin,
Aku berlari menjauh.. 
Menepiskan sepi hati ini,

Namun,
Walau memang tak ingin memilikimu erat..
Karena itu bagai menggenggam pasir..
Seperti fatamorgana,

Elegi Rindu ini tetap mengalun untukmu..
Dalam dingin dinding hati,
yang terus menghitam kelam.

*hugs,tears,kisses*

(Tetap ingat aku yaa... semampumu,) 

Friday, August 2, 2013

(HANYA) SEPENGGAL KENANGAN

Aku tertegun, manakala menyadari badan, fikiran dan jiwaku menolak keras apa yang terjadi malam ini.  Tepian malam yang tenang terusik oleh kedatangannya.  Malam memang belum terlalu larut.  Sayup kudengar ayat-ayat suci terlantun dalam raka'at Sholat Tarawih.  Ketukan pintu kamar, mengejutkanku yang sedang mengetik cerita yang harus terkirim malam ini. 

Kufikir.. yang datang adalah Dy.  Sekedar menyapa dan memberikan kejutan manis.  Ciiee... geer nian kau.. Vie.  namun betapa terkejutnya aku, ketika mengetahui siapa yang datang.  El.  Gee... apa pula yang diinginkannya.  Sambil berusaha tenang, dengan senyum yang tersungging terpaksa, kupersilahkan ia duduk di teras.

"Apa kabar... Vie?  Lama kita ga ketemu dan bicara yaa?," ujarnya tenang.
"Hhhmmhh... aku baik, El.  Seperti yang kau lihat.  Aku baik-baik saja."
"Belum mudik?"
"Entahlah... aku rasa tahun ini ga bisa menjadwalkan mudik.  Aku masih teramat sibuk dengan kontrak yang telah kutandatangani."   Aku tak ingin memberikannya peluang untuk mudik bareng.  Rumah kami memang berdekatan.   Emmm... ga apa-apalah.  Pura-pura sok sibuk, batinku.

"Kok.. bisa gitu?" Seolah ia bisa membaca fikiranku.
"Yaa.. bisalah.  Aku sudah diminta Mbak Anis untuk tetap siaran waktu lebaran.  So I will stay... and keep my promise..!" Tegasku.
"Sebenarnya... apa alasanmu datang ke sini.. El?"
"Memangnya aku sudah ga boleh berteman denganmu yaa.. Vie?"
"Ehmmm... bukan ga boleh. Tapi buatku, mungkin sebaiknya... kita menjaga jarak sajalah.  Ga terlalu nyaman buatku untuk itu."   

Aku memang bukan perempuan yang mampu membungkus kata-kata dengan manis.  Ceplas ceplos memang sudah menjadi trade mark-ku.  Malah seringkali inilah yang menyulitkanku. Itu pula alasan mengapa aku lebih nyaman bersahabat dengan kaum Adam.  Aku terbuka dan apa adanya.  Ga bisa basa-basi busuk.  Aaah... kapan yaa... aku bisa belajar bertutur lembut.  Karena terkadang, apa yang kusampaikan langsung, terasa nyelekit, dan melukai perasaan.  Itu semua terjadi di luar kesadaranku.

"Vie... mbok dicoba.. 'tho, bicara yang lembut.  'ndak selalu ceplas ceplos gitu.  Direm.  Dibatasi.  Karena 'ndak semua masalah bisa dengan cara itu," ingat Mbak Anis ketika aku mengalami clash dengan penyiar magang.
"Lha piye 'tho... Mbak.  Wiwit cilik yoo wis ngene.. ," sanggahku membela diri.
"Iyoo.. tapi sebaiknya kamu juga belajar memahami karakter orang yaa.. Vie.  Meminimalisir konflik gitu 'lho..." ujarnya sambil mengusap kepalaku.
"Sedhiko dawuh... Gusti Raden Ayu Anis...," selorohku sambil tergelak.  "Mbak'e... berasa di mana gitu yaa...  Iya.. iya, aku akan belajar untuk mengerti itu."
"Eeeitss... bukan hanya mengerti.. Vie.  Harus dipraktekkan juga kaalii..."
"Siiiaaapp... Mbak Bro.."  sambil tertawa lepas, aku meninggalkannya.  Ia masih menggeleng-gelangkan kepalanya. Tahu bahwa perubahan dalam diriku harus kumulai sendiri. 

Dan.. untuk kesekian kalinya, aku tak melakukan apa yang Mbak Anis sarankan.  Lelah dan kantuk yang menyerangku, mematahkan alasan untuk belajar memahami perbedaan karakter El.  
Tetap saja straight to the point... aahhh, keluhku.  Menyesali apa yang kulakukan ini.

Kulihat wajah El yang masih terkejut, dengan responku.  
"........"
"........"

Hening malam menambah 'dingin' komunikasi kami.  
Tiba-tiba.. tanpa kusadari, dengan cepat El mengambil tanganku.  
"Vie.... please... lihat mataku." Ia memohon dengan berlutut di hadapanku.   

Aku hanya membisu.  Otakku kram.  Konslet.  Tak mampu berfikir.  Yang berkelebatan dalam fikiranku adalah rasa sakit yang tertorehkan selama 6 bulan lalu.  Yang kuingat hanya kepedihan, karena rencana penyusunan proposal beasiswaku hampir gagal, karena aku terlalu terpuruk dengan kekecewaan mendalam.

"Vie... Vie.... please... lihat mataku." Ia kembali memohon.  Kali ini memegang pipiku.

Aku menolaknya.  Aku tak ingin menatapnya dalam.  Menepis tangannya dan menjauh.  Menjaga jarak.
"Please.. El, don't do this...."
"Vie.. aku masih menyayangimu."
"El, It's over.. kay?  I don't wanna discuss it over and over again."
"Vie... please, aku masih merindukanmu...  Ga bisa berpaling darimu."
"........"
"Vie..."
"........"

Aku hanya terus terdiam dan membisu.  Akhirnya El pun memberanikan diri memelukku.  Aku terhenyak.  Langsung tersadarkan satu hal.  Berontak.  Melepaskan diri dari dekapannya.  Tak ada kehangatan itu.  Tak dapat kurasakan.  Hatiku beranjak melow.. karena perih yang terasa teramat menusuk. Aarrrrgghh... aku dulu amat mencintainya.  Love @the first sight.  Hal ajaib yang pernah kurasakan.  Hal yang banyak disangkal orang-orang, karena tak mempercayainya.  Hmmm.... kenapa semua terasa hambar.  Tak ada lagi getaran yang seringkali kurasakan ketika bersamanya.  Dulu.

"El.. please stop it!"  Tanpa sadar aku mendorongnya dan menjauh.
"Vie.."
"El.. tolong, hentikan semua ini.. kay?  Sebaiknya.. kau pulang saja.  Sudah kukatakan.. kita ga mungkin lagi memulai cerita yang manis.  Semua sudah berlalu."

Aku menjauh, dan membentengi diri.  Airmata yang tertahan ini akan tumpah.  Tak ingin diketahuinya.
"Pulang yaa.. El.  Aku lelah..  Besok ada siaran pagi...  Sudah larut pula.. ga enak sama yang lain,"  mengusirnya dengan halus.
"Vie.."
"......"
"......"
"El... sudahlah.  Aku bukan satu-satunya wanita di dunia ini kan?  Masih baaanyaak... wanita yang mungkin lebih baik dariku.  Cerita kita memang sudah selesai.  Maaf.. kalau mungkin itu karena keinginanmu.."  Aku mengingatkannya.
"Vie.."
"El.. sudahlah.. Pulang saja yaa.. tenangkan dirimu."

Dengan langkah gontai, El akhirnya tak memaksakan lagi kehendaknya.  Kulihat punggungnya.  
Gee.. benarkah aku telah membuang semua rasa untuknya? tanyaku dalam hati.

Jujur, aku hanya mampu merasakan hati yang membeku.  Tak lagi bisa merespons semua sentuhan yang dilakukannya tadi.  Tak ada perasaan yang tergetar.  Semua sudah 'lumpuh'.  Hatiku terus mendebat, mengingatkan otak tentang luka yang tertorehkan selama ini.  

Kemana dirimu.. El, ketika aku terluka oleh sikap dinginmu.  Kau hanya sembunyi dalam bayangmu.  Lari dari kenyataan.  Bergulat dengan ego yang seharusnya tak kau permasalahkan.
Kini... ketika aku sudah bisa bangkit.  Tetap meneruskan mimpi yang kubangun dengan hati remuk yang terserak.  Sakiit.. El.  Teramat sakit.  Karena ternyata.. kau tak pernah mau mengenalku, walau bertahun terlalui bersama.

Maaf, jika aku sudah membuang semua kenangan manis bersamamu.  Semua.  Tak tersisa sedikit pun.  Maafkan untuk itu.  Aku tak ingin hal ini terjadi lagi.  Karena ini bukan yang pertama kau lakukan.  Dan kau tak pernah berubah.  Kurasa... dalam hati dan fikiranmu tak pernah ada aku.  Semua hanya tentang dirimu saja.  Semua terlihat hanya dari sisi yang kau anggap 'benar' sendiri.  Tanpa mempertimbangkan perasaan dan fikiranku.

Aku memang bukan wanita sempurna.  Tapi aku akan selalu berusaha menghargai perjuangan yang mengalir di perjalanan kita.  Dengan airmata dan darah.  Itu semua ada di hatiku.  Hanya tak pernah kau lakukan hal yang sama padaku.  Kegundahan yang membuncah ini, kini memang 'menghapus' dirimu dan tentangmu.  Sudah selesai..!

Kembali... 
Kesalahan itu kau lakukan (lagi)..
Tanpa kata maaf, kau ingin merenda hari (lagi) tanpa pedulikan hatiku yang terkoyak.  
Tak ingin.  Tak mungkin.  
Lebih baik aku sendiri saja (dulu).  Meneruskan petualanganku. 
Ini hanya akan membuka luka lama.
Ini akan selalu berulang.

Dan maaf.. 
Jika kini kuputuskan .... untuk TITIK!

Mengulas perjalanan kilasan waktu di sepenggal kenangan pahit ini, merobek pertahanan yang kubangun.  Buliran bening mengalir tak terbendung.  Aku terisak sambil memeluk bonekaku.  Boneka putihku kini basah.  Boneka yang mengingatkanku pada Dy.  
Ingin memeluknya kini.  Berulangkali kupanggil lirih dan membisikkan namanya.  Ingin ditemani-Sahabat hatiku.  Derasnya waktu yang bergulir mengantarkan mengirim pesan singkat ke HPnya.
"Dy...."

Hanya itu yang selalu kuketikkan, jika merasakan gundah di tengah hariku.  Terurai perlahan.  Walau kutahu.. ini hanya sesaat (mungkin).  Tak pernah berani bermimpi membayangkannya 'pergi'.  Tak jua bisa  membayangkan tangis kehilangannya.

Kubuka emailku pagi ini.  Melihat YM.  Terasa seepii.. kini.  Kuketikkan pesan offline untuk Dy.   Rasanya sudah lama kami tak bercerita di sini, ketika mengetik cerita di tengah malam, atau menemaninya bekerja.  Ingin menanyakannya.  Tapi.. selalu kelu memulainya. Yaa... sudahlah Vie, mengalir sajalah.  Biarkanlah.. waktu yang akan menjawabnya.




Yang kutahu, jika Tuhan tak izinkan sekarang...
Tetap kusyukuri tepian waktu yang terluang untukku...
Makasiyy... untuk semua kekuatan hati yang terbagi,
dalam genggaman tangan dan dekapan,
tanpa jeda di tepian waktu yang mengalir..
@SahabatHati

Tuesday, July 30, 2013

TEPIAN WAKTU: Sahabat Hati (Laa Tahzan.....)

Langkah yang gontai hari ini, menyeruakkan sejuta tanya.  Dan baru kemudian kusadari.  Menemui jawabannya di ujung hari.  Alasan aku pergi sendiri, memang tak bisa kukatakan pada siapapun.  Termasuk pada Dy.  Aku hanya ingin menepikan waktu ini sendiri.  Menenangkan hati dan fikiranku yang selalu berdebat tentang apa yang kuyakini.  Mengusik ketenangan hari-hari.

Kuambil tempat di pojok.  Sofa yang teramat nyaman.  Tempat ini adalah salah satu tepian yang amat menyenangkan.  Salah satu favoritku dan Dy.  Kopi yang disajikan di sini diracik khas Italia.  Maka hanya penikmat kopi sejatilah yang bisa menikmati rasanya.  Sangat kental dan pahit.  Yaa.. itulah 'kesejatian' kopi.  Letaknya yang dekat dengan kampus, tempat kosku dulu, membuatku merasa nyaman di daerah ini. 
Just feel hommy.

Maaf yaa... merepotkanmu..

Apa aku merepotkanmu...??

2 pesan singkat yang masuk pada HPku ini, jujur teramat membuatku sedih.  Aaaahh.... kenapa pertanyaan ini tak pernah berhenti.  Sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini.  Di kota ini.  
Kenapa?  Tanya yang terlempar dalam sepi... hanya dijawab dingin olah angin.  
Kesunyian itu memang menyakitkan.  
Sulitkah untuk menerimaku dengan semua keikhlasan didalamnya?

Mengapa pula... pertanyaan ini hadir darimu... (juga)... Dy? Tanyaku perih.  
Buliran bening tak terasa mengalir perlahan.  Menetes tak tertahan.  Ini yang selalu membuat kacamataku mengembun.  Kubuka sejenak, kuseka dengan tissue yang memang selalu ada dalam tasku.  Lalu kulanjutkan apa yang harus kulakukan.  Aku terus mengetikkan apa yang ingin kutuliskan kini.  
Periih.. nian kini hati yang sebenarnya pergi dengan luka.  Tak bisa kusembunyikan.   Sinar mataku pudar.  Tak ada semangat yang biasanya ada dalam keseharianku.  Kini... aku benar-benar terpuruk dengan tumpukan gundah yang seolah tak bertepi.

Di ujung sana... bisa kurasakan hal yang sama.  Apakah memang kau alami suatu hal.. Dy?  
Hal yang tak ingin (juga) kau ungkap padaku.  Karena kurasakan pula kelelahan hatimu...

Kusesap kopiku perlahan.. Gambar hati yang terlukis di atasnya, seolah mengejekku. Jika bersama Dy, akan kukatakan.. inilah hatiku.  Untukmu.  Ia tertawa lebar.  Walau semu merah di pipinya, semburat menyiratkan kehalusan perasaannya.  Ia memang tak pernah begitu terbuka terhadap apa yang dirasakannya.

Hhhmmmmmhhh... hela nafas panjang kuharapkan mampu mengurangi energi negatif yang kurasakan kini.   Tuna sandwich  menjadi menu buka puasaku kali ini.  Nafsu makanku 'memarah'.  Berat badanku pun menyusut drastis.  Aku tak ingin pulang ke Yogya, dalam kondisi seperti ini.  Tak sanggup melihat tatapan Ibu, yang pastinya akan mempertanyakan hal ini. 

Sesaat, aku terhenti mengetik.. Mengunyah perlahan sandwichku.  Membaca tulisan yang terakhir ada di blogku.  Hhhhhmmmhhh.... kembali menghela nafas.  Lama nian rasanya sudah, tak kutepikan waktu bersamanya.  Aaahhh... bagaimana mungkin 48 jam ini terasa menyakitkan.

Kau yang tak ingin tepikan waktu bersamanya kan... Vie, bisik hatiku.
Yaa.. karena aku tak mungkin menemuinya dalam kondisi seperti ini, sanggah otakku.  Aku akan temuinya esok, walau rinduku terasa 'membunuh'.  Aku tak ingin menjadi beban fikirannya.

Kembali, pergulatan hati dan otak terjadi.  Akhir-akhir ini teramat sering terjadi. Entahlah....
Dy memang tadi menanyakan, apakah hari ini kami dapat bertemu.  
Hari ini banyak yang kulakukan..  itu jawabku.  Alibiku.  #maafkan lah... Dy.

Besok.. yaa, Dy..
Kutepikan waktu (lagi) denganmu...
Setelah kutuntaskan perasaan teramat gundah ini sendiri.

Kulemparkan sejenak pandangan ke sekitar kafe ini.  Hanya ada 6 meja.  Pengunjungnya memang tak banyak.  Beruntung, kali ini aku kebagian sofa.  Jika Dy ada di sini, pastinya sangat kunikmati perjalanan waktu yang mengalir ini.  Ehhhmmmmm.... #maafkanlah... (lagi) Dy.  

You knew... today I said it over and over again, to release my hard feelings of days. 

Tulisanku tentang 'samsara' memang membuktikan pada satu titik.  Rasa yang seharusnya kutepikan.  Kuputuskan segera.  Aaarrgh... semua tak semudah kata-kata, kilahku.  Masih banyak yang harus kupertimbangkan.  Hanya berharap dan menjalani.  Tuhan Maha Tahu, kapan waktu terindah untuk ini.  
Tak apalah.... merasakan musim berganti.
Mentari senja ini masihlah indah..
Walau melihatnya sendiri... (ssstttt.... tetap lebih indah jika kulihat ini bersamamu.. Dy)
Mari melihat lebih baik saja... (berkenankah.. kau, Dy?)

Hari ini akan berakhir, dengan tepian waktu yang kujalani sendiri.  Hanya belajar, melihat lebih baik.  Menjadi diri sendiri.  Menyelesaikan masalahku sendiri dulu.  Menimbang baik dan buruknya.  Setelah kutemukan jawabannya... pasti aku membutuhkan dirimu.  Seperti yang telah kaulakukan selama ini.

Kulihat jam tanganku.  19.30 WIB.  Aku harus segera pulang.  Walau kini.. tak pernah kurisaukan, apakah akan terkunci di luar atau tidak.  Kupasrahkan semua kejadian, kuterima dengan lapang dada.  Ada Masjid yang selalu terbuka untuk backpacker.  Kulipat netbookku. dan segera menyesap habis kopi dan sandwich yang masih tersisa.  Membayar di kasir dan bergegas menuruni anak tangga.  Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an masih terdengar.  Sholat Tarawih di Masjid kampus ini belumlah usai.  Hatiku sedikit merasa nyaman kini.  Itulah aku.. 
Hanya butuh waktu 'duduk' terdiam... membiarkan waktu berlalu..  menghentikan pergulatan hati...

Penumpang angkot yang kunaiki, tak begitu banyak.  Yaa.. sebagian mungkin telah menepikan harinya di peraduannya.  Itu pula yang dilakukan Dy.  Sesekali pesan singkatnya masuk.  Dialing nomernya, karena aku ingin menjelaskan langsung, walau pasti akan diketahuinya.. aku belum menepi di rumah.  Tak apalah..  Hhhmmmhh... di-reject.  Sibukkah kau.. Dy?  Atau kau memang sedang tak ingin bicara?
Pesanmu masuk, menegaskan.. hanya ingin bertanya saja.  

Dy,
Aku memang tak begitu bisa membacamu hari ini.  Karena perasaanku tengah 'tak' murni.  Hanya kegalauan yang kurasakan semakin pekat dengan pertanyaanmu yang tiba-tiba.  Menyesakkan dada. 
Mungkin... kaurasakan pula apa yang tengah terjadi padaku.  Atau memang kita berdua sedang terjebak dengan masalah yang tak terkait.  'Soulmate' itu memang terikat batin.  Hingga kegundahan itu bisa jadi terasakan berdua.  Hanya keterbukaan yang bisa mengurainya.  
Perlahan saja... kabut itu akan pergi.
Yakini saja...

dan Dy,
Tahukah kau... 
aku hampir yakin kau ada di kelelahan hatimu, ketika kau katakan ingin terlelap (dulu).

My pleasure... Dy.  Just take your time as I did today..
've nice sleep and ureshii yume.....

S'moga kau baik-baik saja..
*cemas

Itulah yang terketik, dan tepat ketika sampai di depan pintu rumah.  Masih ada cahaya.  
Pastilah masih ada yang terjaga.   Yaa.... Alhamdulillah.
Mengucapkan salam dan langsung meletakkan tas di kamar.  Tak ingin bicara banyak.  Bergegas ke kamar mandi.  Ingin segera mandi.  Membuat kopi panas.  Aroma minyak kayu putih dan parfum Estee Lauder favorit membaur dan sejurus kemudian menyeruak dari kamar tidurku.

Kembali kubuka netbookku, dan melanjutkan tulisan ini.  Sambil menemani Dy terlelap.  Bisa kurasakan lelahnya.  Yang berusaha ditutupnya.  Wajahnya tetap teduh.  Sesekali mengubah posisi tidurnya, tapi tak banyak. Tak pernah kurasakan kejenuhan setiap kali mendapat kesempatan memandangi wajahnya.  
Selalu ingin membelainya perlahan, mengecup pipi dan membisikkan lembut "I love you.." di telinganya.  

Gee.... baik di dunia nyata atau mimpi, kau tetap tenang... Dy.  
Amat kagum untuk ketenangan dan damaimu ini.. 
Aku harus belajar banyak padamu, tentang pengendalian diri ini...
Ajari aku yaa...

Dy,
Pagi itu akan ada kan?
Di mana setetes embun mengusap pedih hati..
Matahari pagi itu (pasti) terbit kan?
Menerangi jalan gelap gelisah hati...
Yakinkan aku..
Kau tetap ada kan?
Walau sekejap..
Jika terlintas..
Bahkan sekilas...
Bisakah kau pastikan itu kan?
Karena ketika diizinkan..
Kupinta,
Dirimu Sahabat Hati dapat temaniku..

Di pangkuanku, kuingin kau bisa terlelap hingga pagi.  Menyandarkan lelah yang bisa terurai perlahan.  Hadirkan damai di hatiku dan hatimu.  Izinkan saja... kulakukan itu, jika kau (tetap) inginkan itu.  Tanpa jeda, ruang dan waktu.  Seperti selalu kau izinkan, aku meminjam bahumu, genggaman tanganmu.. yang selalu bisa menguatkanku.  

Tahukah kau... 
Malam ini kau tetap temani aku... Walau di alam lelapmu sekali pun.  Jaket yang kukenakan ini, teramat lekat dengan aroma parfummu.  Emotion.... 
Juga selalu kuatkanku manakala rapuh, jelang tidurku...

Makasiyyy....Dy,
Untuk semua tepian waktu yang (telah) dan (masih) terluang untukku..
Izinkanlah....
*hugs, kisses*

Monday, July 29, 2013

SOULMATE: I LOVE YOU...

Perjalanan menuju kampus yang teramat panjang, membelah kemacetan Bandung.  Ini memang hari Sabtu.  Hingga kepadatan lalu lintas akan terasa teramat menyiksa.  Serbuan pelancong dari luar kota.
Hmmm... akhirnya, kuputuskan untuk mengubah setting template HPku.
Kini lebih terasa jiwaku.
Antara ada dan tiada...



Kupandangi wajah yang tengah terbaring dan terpulas di sampingku.  Begitu damai.  Otakku tak henti berhenti berfikir.  Hatiku tak henti merasakan.  Sakit nian perasaan yang terasa kini.  
Perasaan yang kubawa ketika meninggalkan 'Kopi Progo' tempat kami menepi malam ini.  Berulang kali kuusap punggungnya, ketika membelah malam dan kemacetan.  Salah satu kebiasaan yang kulakukan, jika dalam keresahan.  Berulang kali Dy menoleh padaku.

"Ada apa..?"
".........."
".........."

Tak mampu kujawab pertanyaannya karena bingung menguraikan keruwetan perasaan yang tengah kurasakan kini.  Otak dan hatiku tak henti berdebat sepanjang perjalanan pulang.

Otak:   Vie.. tak seharusnya kau membiarkan ini terjadi.... sejauh ini.  Teramat menyiksa...
Hati:    Come on! tak ada yang salah atas apa yang kaurasakan... Cinta tak pernah memilih.  
            Kau tak mencarinya.  Dia pun tak mencarimu.
            Kalian dipertemukan atas kehendak Yang Maha Esa.
Otak:   Tapi... jika benar semua rasa ini, tentunya takkan menyakitkan.
Hati:    Pernahkah kau tahu tentang 'soulmate'?  Kekasih hati... kekasih batin... 
            Sahabat yang menjabat erat hati.  Terikat dengan sangat lekat.  
            Namun hanya bisa dirasakan dengan kemurnian perasaan.

Vie, tak harusnya kau biarkan pergulatan hati ini.  Berhentilah sejenak berfikir, berhentilah sejenak merasakan.  Nikmatilah kesunyian.  Dan 'believe in your heart and you shall never go wrong'.  

Aku memang sedang berada di kamarku sendiri.  Namun ketika memejamkan mata, kulihat Dy tengah terlelap di kamarnya. Hhhmmmh... 'portal' itu terbuka kembali.  
Hela nafas panjang yang selalu kulakukan jika kejadian seperti ini terjadi.  Yaa.. kemampuan ini kumiliki sejak kecil, tanpa kusadari.  Kakekku mewariskannya tanpa kuketahui.  Di masa kecilku, sebagai cucu kesayangannya, aku memang selalu mengikuti kemanapun beliau pergi.  Bakat melukisku pun kudapatkan darinya.  Melukis dengan sukma dan 'jiwa'.

Tak pernah kusadari kemampuanku ini, sebelum ada tetangga yang iseng 'mengerjai' keluarga kami.
Dan... begitulah... 'portal' yang kusebutkan itu, tanpa batas ruang dan waktu.  Sempat kusangkal keras kemampuan ini, karena aku memang tak terlalu ingin.  Tapi... biarlah kini aku berdamai dengannya.  Menikmatinya sebagai 'the gift' dan mencoba membantu sesama.  Tanpa dirasakan mereka...

Kuhentikan ketikanku, termenung.  Memandangnya ketika terlelap adalah sebuah pemandangan yang luar biasa memberikan efek damai dalam hatiku.  

Dy... tahukah dirimu... aku ada di sini, di sampingmu...bisikku lirih.  Di telinganya, dan mengusap pipinya.  Perlahan dan mengecup pipinya.  Ritual yang sangat menentramkan hatiku.  Bersamanya..  baru kurasakan perasaan teramat disayangi. 

Kulanjutkan ketikanku.  Dengan ketukan yang teramat pelan saja, karena tak ingin membangunkannya.  Aku masih di sini.  Di kamarnya.  Sambil duduk di sampingnya, menemaninya terlelap...
Entah... apakah bisa dirasakan olehnya kehadiranku ini atau tidak...

Aku terus mencoba memahami arti 'soulmate' itu.  Kedekatan perasaan yang kurasakan pada Dy.  Yang kini tengah merajut mimpinya. Menyandarkan lelahnya, setelah menjalani tahapan ujian yang memang harus dijalaninya.  Tetap kutemaninya... Karena itulah janjiku.  Janji yang tak kuucapkan, karena itu kucatatkan dalam hati.

Menurut buku yang kubaca, menemukan "kekasih hati", adalah satu kesempatan yang harus disikapi dengan positif.  Kesempatan yang jarang terjadi, walau bukan tidak mungkin.  Ia belum tentu orang yang ada di sampingmu kini, belum tentu orang yang kau cintai atau kasihi di masamu kini. 

Kukatakan Dy sebagai 'soulmate', karena di kehidupan masa lalu aku selalu dapat merasakannya.  Sangat mengenalnya.  Mencintainya sepenuh jiwa.  Kami ditakdirkan sebagai sepasang kekasih yang terikat secara lahir dan batin.. (dulu).  Di kehidupan yang telah lalu.
Namun di kehidupan ini, hanyalah batin yang tertaut.  Kami telah memiliki kehidupan masing-masing, dengan bentangan waktu yang teramat lebar.  Memang adakalanya, garisan takdir Tuhan yang mempertemukanmu dengan "belahan jiwa" mu itu, akan hanya terikat oleh batin saja.
Perasaan itulah yang mempertegas deJa Vu.

 The circle of live.. syukuri saja!

Walau sering terjebak dalam perasaan yang teramat dalam, merasa amat memilikinya, seperti dulu.  Aku selalu tetap berusaha mengandalkan rasioku.  
Aaahh... (jeritku dalam hati)
Jujur... tak mudah Dy..

Hmm...
Hari ini.. sejak pagi, aku sudah disibukkan dengan berbagai urusan yang harus kuselesaikan secepatnya.  Janji adalah hutang... Vie.  Hatiku mengingatkan berulang kali.  Maka segera bergegas secepat mungkin melakukan apa yang menjadi kewajibanku.

Jadi mo ke kampus?

SMSnya masuk di tengah kesibukanku.  Aku tersenyum.  Mungkin ia resah, atau memang belum begitu mengenalku.  Walau terkesan cuek dan slebor, aku memang pribadi yang teramat teguh memegang janji.  Dan... manalah mungkin, aku bisa melepaskan satu hari tanpa bertemu dengannya??  Manalah mungkin pula.. aku tak hadir memberikan support untuk fase yang penting dalam hidupnya.  Itu salah satu janji hatiku.  Sebelum impianku membentangkan jarak yang teramat jauh.

Walau.. tak pernah mampu kukatakan pada Dy, bagaimana tercampur aduknya perasaanku.  Melihatnya masuk, dengan setelan jas dan dasi yang rapih.  Ehhmm.. tampan.  Persis seperti yang terlihat sebelum bertemu dengannya.  Dengan mata hatiku.   Yay! Masa itu semakin dekat.. bisikku dalam hati.  Masa yang tak bisa kubayangkan, nanti di kelulusannya dari kampus ini.   Sesaat.. perih dalam hati terasa pekat.

Well... Dy, masih mungkinkah ada tepian waktu itu bersamaku.. nanti??  

Keresahan tanpa kata yang kulemparkan pada dinding bisu kamar.  Aku langsung mengigil tiba-tiba.  Bukan karena dingin.  Ketakutan yang teramat menusuk-nusuk hatiku.  Tak terasa.. butiran bening itupun mengalir perlahan di mataku, membuat kabut yang menghentikanku mengetik.  Sesaat.  Kubuka kacamataku, membersihkan kaca yang mengembun dan menghapus airmata itu.

Gee... Vie, 
Kenapa tak jua kau belajar untuk menegarkan diri dan menguatkan hatimu.  
Cepat atau lambat....... 

Suara itu muncul tiba-tiba.  Hangat, lembut dan penuh kasih.  Selalu kurindukan sosoknya.  Yang memang tak pernah kasat mata.  Selalu menemaniku, ketika aku terpuruk dan berusaha bangkit kembali.

Eeehhhmmm... tak tahukah kau... Dy, perasaan 'merindu'  ini terasa amat membunuhku kini..
Maka tepian waktu yang terbatasi oleh sejumlah rutinitas yang membelenggu, tak akan dapat menghalangi peluang yang akan selalu kuambil untuk menemuinya.  Satu hari lagi, kesempatan untuk bisa mendekapnya erat.  Menyentuhnya secara nyata, dan diketahuinya.  Disadarinya.

@campus.  Where r u?

Langsung kuketikkan itu ketika menjejakkan kaki di sini.  Hmmm... ada bazaar dan keramaian.  Tak kusangka akan ada keramaian yang terjadi sore ini.  Tak apalah...
Aku tak pernah menyamarkan kedekatanku dengan Dy.  Tak juga kupusingkan bagaimana orang akan mengomentari itu.  Whatever..!  Karena itu memang tak penting...

"Vie... ngapain di sini?  Ada ngajar? "  Tiba-tiba Nana kaget menemukanku di kampus.  Kupegang lembut bahunya dari belakang, memberitahukan kehadiranku.
"ga..."
"Terus..?"
"Sengaja aja datang.  Yaa.. kan ada bazaar..  terus ada sidang.."

Sengaja menyampaikan pesanku pada Nana secara implisit saja.  Karena di ruang itu banyak orang.  Hhhhmmhhfft... tak disadarinya ternyata.  Biarkan sajalah...
Sahabatku ini, lalu disibukkan oleh percakapan dengan sahabat dekatnya yang lain.  Hingga akhirnya, kuputuskan duduk di lobi kembali.  Sejak awal kehadiranku, aku hanya terduduk di sini.  Ingin menenangkan diri.  Lompatan-lompatan kepedihan dalam hatiku ini harus teredam sebelum aku bertemu dengan Dy.

Sudah selesai. Otw ke G....

Jawaban singkat yang mendadak itu, cukup mengejutkanku.  Eeehh... bagaimana ini, aku belum bisa bernafas dengan normal.  Mengatur hati untuk tak terlalu terlihat 'terbunuh'.
Aaahhh.... hhmmmhhhh,  hela nafas yang teramat panjang pun kulepaskan.  Meringankan perasaan.

Dy melangkah dengan wajah yang menyiratkan kelelahan.  Yaa... aku pun pernah melalui ini.  Tak mudah memang.   Kutatap  wajah itu dalam diam dan teramat dalam.  Melihatnya, mengusap wajah dengan tissue basah yang berasal dari dalam tasku.   Hhhmmppfft.. Dy, tahukah dirimu... Jika tak di kampus, tentunya sudah kupeluknya erat, memberimu semangat.  Mengusap sejenak lelahmu...
Sssshh... Vie, tenangkan dirimu.. kay?

Perjalanan waktu yang bergulir.. mengantarkan percakapan yang cukup menenangkan hatiku sesaat.  Yaaa... sesingkat apapun waktu yang ada bersamamu, sudah teramat kusyukuri.  Menatapmu dalam dan lekat, selalu dapat menghalau kesunyianku.  Menghapus lara..

Dy..
Take care... kay?  
(bukan 'kay....u bakar'..??) yaa...
(sstt.. terkulum senyum, seraya menatap wajahnya).

Terasa teramat berat buatku, kini.... 
Melepaskannya, menatap punggungnya ketika usai mengantarkanku.


Teramat merindukannya...
Kembali mengatakan " I love you..."  or "I missed you.. too.."

Mungkin tak pernah disadarinya, ketika dikatakan itu (dulu)....
"ceeess..." dingin yang meredam kegundahan hatiku.  Menjembatani suka dan duka yang cepat berganti dalam hidupku kini.
Selalu mampu kunikmati perasaan nyaman itu bersamanya.   Merasakan kekuatan dalam genggaman tangannya.  Walau terasa seperti tersengat listrik, setiap ia melakukannya.
Hahaha... tak apalah asal bukan dalam 1000 volt saja.  Jiiiaaahh... nakal nian fikiranku ini...

Namun.. Aku tetap berusaha menerima... apa pun yang diyakininya kini.   

Always respect you.. on what the way you are and believe.. Dy.

Walau...
Jaaauuuh di lubuk sukma,  teramat (sangat) kuinginkan.. di sini,
Kau selalu ada...  
Dan mampu bisikkan "I love you..." untuk kuatkan hati.  
Tulus dan ikhlas saja.  Karena... mungkin tak pernah kau tahu.... dan tak pernah kunyatakan.... Kalimat itu selalu hadirkan energi putih di jiwaku.
Namun, apapun itu...
Tetap mampu mendekapmu erat, dengan kecupan yang tak pernah terlupakan.  Dan selalu meninggalkan jejak rasa yang tak pupus.  Itu pun sudah teramat kusyukuri...


Ini adalah "Samsara".  Kata yang berasal dari bahasa Sansekerta ini, berasal dari kata "Sam" yang berarti "kebersamaan", dan "Sarati" adalah "yang mengalir".   Kata ini mengandung pengertian sebagai lingkaran kehidupan yang berkesinambungan, tak pernah terputuskan.  Tiada awal dan akhir.

Tulisanku kini, kumaksudkan untuk mempertebal kesabaran dan kepasrahan, keikhlasan menjalani hidup.  Hidup dengan segala penderitaan dan kebahagiaannya, menjadi sempurna karena garisan Ilahi.



Pergulatan waktu dan hati yang teramat panjang ini, 
Takkan mengubah semuanya.. kan, Dy??