Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Wednesday, July 24, 2013

TALK 'n LIFE

Prolog

Perjalanan yang kujalani, berirama.  Maka aku sangat memahami pepatah "life is never flat".  Jatuh bangun meraih mimpi dan cita-cita, serta menikmati hidup menjadi santapanku ketika teenager.  Aku menjadi wanita yang sangat mandiri kini, karena aku sudah menjalani hidup jauh dari orangtua, selepas SMP.  Hhhmmmmpfft.. itu sisi positifnya.  Sedangkan di sisi lain, aku sudah sangat jauh dari rasa kasih sayang orangtua.  Kebetulan, aku tumbuh di keluarga yang tak hangat.  Kami jarang berkumpul untuk menanyakan apa saja yang telah terjadi dalam hidup anak-anaknya.  Mereka hanya akan memberiku materi, jika aku berlari meminta 'sedikit' perhatian.  Uang memang segalanya buat Ayah.  Mungkin, hanya Ibu yang sangat bisa memahamiku.  Namun, jarak antar pulau yang memisahkan, membuat komunikasi kami amat terbatas.  Yaa... begitulah.  Karena dalam hidup, kau tak akan mendapatkan semua yang kau inginkan kan?  Yin-yang... filosofi itu yang memang benar adanya.  Ada dualisme dalam hidup.  Suka-duka, tawa-tangis, sedih-bahagia, dan seterusnya.  Jadi.... kematangan berfikirku merupakan tempaan permasalahan.

Perjalanan hidup itulah yang kemudian membuatku memilih Bandung sebagai pelabuhan terakhirku.  Aku memang petualang sejati.  Ibnu Battuta.. memang sangat menginspirasiku.  Penjelajah muslim ini lebih 'keren' dari Colombus yang banyak dikenal jutaan anak muslim di negeri ini. 
Aaarrgghh.. mengapa??
Hampir seluruh penjuru Indonesia telah kujelajahi.  Ayah yang berprofesi peneliti, membuatku memiliki pengalaman tinggal di daerah yang berbeda setiap 3 tahun.  Yaa.... kami menyebutnya sebagai "siklus 3 tahun".  Hmmm... hal ini sempat membuatku bosan, karena selalu berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lainnya.  Hampir selalu beradaptasi dengan banyak teman.  Tapi lama kelamaan itu menjadi hal yang membahagiakan saja.

Kekagumanku pada Bandung, memang dilandasi oleh sifat dan sikap penduduknya.  Aku memiliki banyak teman yang berasal dari kota ini.  Ehmm... cukup moderat jika memandang kedudukan wanita dalam kehidupan masyarakatnya.  Aku suka itu.  Aku memang bukan feminis.  Tapi juga kurang suka jika wanita dibatasi langkahnya.  Baik di dunia perkerjaan, pendidikan atau hal yang lainnya.  Yang berbeda hanyalah wujudnya.  Fisiknya saja.  Setuju kan??  Selanjutnya, persentase penggunaan perasaan.  Jujur, wanita terlalu banyak berdiri atas realitas perasaannya, sedangkan laki-laki pada rasionya.  Maka, seharusnya keduanya bisa bersinergi dengan baik, saling melengkapi.  Seperti rel kereta api saja.  Tak pernah bertemu, namun mengantarkan jutaan manusia pada tujuannya.  Kebaikan. 
Dan itu dibuktikan oleh waktu.   

I'll find my missing rib.. and you'll be mine!

Dan di sinilah aku.  Semenjak kuliah di salah satu universitas negeri, sambil menikmati proses interaksi dengan penduduknya.  Belajar bahasa dan budayanya.  Yaa... hidup adalah perjuangan.
Dan kini tak terasa, aku sudah menyelesaikan studi lanjutan di tempat yang sama dengan tempat perjumpaanku dengan Ika, Neu, dan Isti yang menjadi sahabat kepompongku.  Atau dengan Aa yang meninggalkanku demi kekasih baru.  Hahahahaa... masa muda dan kuliah itu memang menyenangkan dan membahagiakan.. yaa??  Maka... nikmati saja semua proses pendewasaan itu. 

Karena waktu adalah kesempatan yang tak pernah kembali.[]

------------------------------------
Perjalanan Waktu

Pagi ini terasa berbeda.  Kesendirianku di kost, karena teman-temanku tengah mudik menghabiskan liburan membuatku terjebak di kesepian.  Walau pun aku tak terlalu akrab dengan mereka, tetap saja tak ingin sendiri.  Tapi.. sudahlah.  Dengan kesibukan yang membunuhku kini, aku tak bisa mengelak dengan tanggungjawab pekerjaan yang menumpuk.  Di hari biasa pun aku memang selalu pergi pagi pulang malam.  Besar di jalan..... kata Mbak Anis, melihat pola hidupku... hahaha...

"Vie.. coba deeh, jadwalmu diatur yang benar.  Jaga pola hidup dan makanmu... kay?"
"Iiyyaa... Mbak, makasiihhh... tak bosan ingatkanku.  Masalahnya.. aku memang 'moody'.  Jadi itulah masalah terbesarku."  Memeluknya dengan hangat.
"Just take care.." Mbak Anis tersenyum mengusap kepalaku dengan rasa sayang. 

Bahagia bisa memilikinya, di antara banyak orang yang kukenal.  Ketulusannya... selalu mengingatkanku pada Ibu, yang memang tak tinggal di sini.  Aku adalah single fighter, dan kini.. aku tengah berjuang menyelesaikan pendidikan Master melalui program beasiswa.  Cita-cita yang ingin kuretas semenjak 4 tahun lalu, tinggal selangkah lagi.

Pesan-pesan Mbak Anis ini mengingatkanku pada seseorang.  Yang pernah mengisi ruang hatiku.  Yang kemudian meninggalkanku, karena guru spiritualnya mengatakan aku tak cocok buatnya.   Terlalu jauh untuk direngkuh dan terlalu tinggi untuk diraih.  Dan kemudian menghilang ditelan bumi.
Hhhmmmmmhhh.... aaiihh, pedih nian jika mengingatnya.  Perjalanan yang menyakitkan, dan kini harus kualami lagi.  

Ingatanku kembali terfokus pada lalu lintas yang ada di hadapanku.  Jalanan yang penuh sesak, oleh pendatang yang menghabiskan liburannya.  Memang cukup menghambat aktifitasku, karena harus menghitung jarak dan waktu tempuh yang kuperlukan, dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
Ehhhmm... well, time management.  Kilasan ingatan yang sesaat melintas, membuatku menarik nafas panjang.  Membiarkannya tertiup angin saja.  Berlalu bersama perjalanan waktu. 
Perjuangan ini harus selesai.
Yang lalu.. biarkanlah berlalu.  Aku tak ingin tahapan akhir ini tak penah selesai, hanya karena masalah hati.   Aku akan dikenai penalti jika studi ini tak 'tepat waktu'.
Ganbatte.... ganbatte... ganbatteru... Vie!

Hari ini aku memiliki janji dengan Usi, yang ingin membagi buku yang dimilikinya.  Ingin mengosongkan rumah ibu, katanya.  Waah... anugrah yang indah buatku, karena buku adalah hidupku, denyut nadiku.
Sepulangnya dari Paris, ia memang berencana banyak hal.  Sama sepertiku, yang oportunis, kami memiliki segudang rencana masa depan yang memenuhi kepala.  Golongan darahnya A, sehingga salah satu hobinya adalah membersihkan rumah, teratur, disiplin dan cerewet.  Hiihihihi...
Kami berdua sampai harus dilarang dosen untuk berkomentar, dan harus memberikan kesempatan pada teman lain.  Yaa... aku dan Usi, bagai kepompong.  Maka di awal kepergiannya bersama keluarga ke Paris, cukup memukulku telak.  Aku kehilangan 'bahu' untuk menangis.  Dia memang sangat mengerti aku.  Tak banyak teman yang bisa mendekati dan menjabat hatiku.  Yaa.. memang aku tak mudah 'percaya', terlalu menjaga hatiku yang memang sudah (penuh) luka.

"Heeyy... menepilah dulu."
"Kemana.. Ceu?"
"Nguupii.. nguupii."
"Tapiii....."
"Aaaah... sudahlah....... Hayuu...." Usi menggamit tanganku dan aku pun bagai kerbau yang dicocok hidungnya.  Mangikutinya dari belakang.  Mengambil posisi di sudut  ruangan dengan sofa yang nyaman.  Ehhmmm... memang tempat yang nyaman.  Aku hampir tak pernah bisa menikmati waktu.  Karena semua habis tersedot oleh kesibukanku dengannya.  El memang sangat posesif.

"Ada apa?" Usi membuka percakapan dengan hati-hati.
"Maksudmu..."
"Sudahlah.... Vie.  Aku melihat kau terduduk di pojok kelas tadi.  Airmata itu kulihat.  Kau bisa menipu teman-teman lain, dengan keceriaan yang kau tampilkan ketika presentasi.  Tapi aku ga..."

"hhmmmhhhfftt... Ceu."  Aku gamang memulai cerita tentang apa yang aku alami hari ini.  Pukulan telak yang dilakukan tanpa dasar, menjelang tugas presentasi yang harus kujalani bersama Usi, Arfi dan Epul.  "Dia ga percaya.. kalau aku dan Epul hanya teman biasa.  Tuduhannya menyakitkan.  Kesibukan kita mempersiapkan makalah, dianggapnya alibiku biar bisa main.....Dan itu baru sebagian kecil kesakitan hatiku.. Ceu.  Aku ga bisa ungkapkan semua.. maaf yaa.... Terlalu sakit...."

Drrrrtttt...drrtttt.... dering 'silent' HP memotong percakapanku.  Kulihat namanya.

"Ceu...."  Aku memandang Usi dengan wajah bingung dan panik.
"Sudah... angkat saja.  Bilang kita belum selesai.."
"Tapiii..."
"Vie... sudahlah.. ga apa-apa.  Kamu juga berhak atas dirimu dan waktumu.  Santai dulu deehh.. tenangkan dulu dirimu."  Ia menguatkanku.

"Hallo.."
"Kamu di mana?" tanya El dengan nada marah.
"Masih kerja kelompok.. di kost-an Arfi."
"Pulang jam berapa?"
"Secepatnya.. setelah selesai..."

Percakapan itu langsung diputusnya tanpa basa-basi.  Aaaahh... ia memang begitu, jika keinginannya tak dipenuhi.  Dan kini.. kucoba untuk berdiri.  Berani menentukan sikap.  El cukup kaget.. karena selama ini aku hanya menjadi mainannya yang manis.  Yang selalu menerima perlakuannya, walau sering mengorbankan perasaanku.

Perjalanan waktu bergulir sangat cepat.  Hatiku yang resah, mulai tenang.  Dan kekuatan diri itu kembali kumiliki.  Aku harus bisa menentukan sikap.  Bukan jadi wanita yang lemah.  Bukan pula jadi wanita diktaktor.  Semua sesuai porsinya saja.  Tak ada yang sempurna.  Jika ia inginkan itu dariku, maka aku bukan wanita yang dicarinya.  Aku hanya ingin mengembangkan wawasanku, ilmuku.  Resiko pekerjaan saja.  Bukan demi gengsi, status atau ingin menaklukkan laki-laki.  Eemm... tak penah terlintas itu.  Siapa pun yang akan mendampingiku, akan kuhargai dan hormatinya, karena kutahu memang itu yang harus kulakukan.  Laki-laki adalah imam.  

Setahun berlalu, ketika perjuangan tesis bersama Usi bergulir.  Kepergiannya menyisakan luka buatku.  Aku  memang teramat 'takut' sendiri.  Tapi perjalanan waktu akhirnya membiasakanku.  Hanya dengan tenggelam di banyak aktifitas.  Membunuh waktu.  Hingga pulang ke kost-an di malam hari dalam kondisi lelah, dan langsung terlelap. 
Dalam hatiku.. bilur-bilur luka itu memerah dan semakin berdarah.  Perlakuan-perlakuan irrasional dari El, kutelan bersama tangis.  Seringkali, aku berusaha keras menyamarkan sembab di mata melalui make up, ataupun kini seringkali kugunakan kacamataku.  Walau, jujur aku tak pernah menyukai benda yang satu itu.  Seharusnya sudah kugunakan itu semenjak SMP.  Tapi.. aku senang aktifitas alam, sangat mencintainya.  Hingga kacamata akan sangat mengganggu gerakanku memanjat tebing, mendaki gunung, dan banyak lagi.  Hhmmmmhh... kini, kacamata amat membantuku menyamarkan perasaanku.  Seperti kulit kedua.  Topengku.  Aarrgghh... mulai tak jujurkah aku pada dunia?  Tanya yang selalu kutepis.  Aku hanya tak ingin mengumbar apa yang terjadi.  Bukan untuk konsumsi orang yang tak peduli.
 
Gee..I just need a shoulder to cry on..! Cengengnya aku kini.... dan ringkih.
Dan tak bisa sering kulakukan itu pada Mbak Anis dan keluarga kecilnya.  Kesakitan ini harus kubawa pergi sandiri.  Terlalu takut terjebak dan mengambil keputusan ekstrem.  Takut menyakiti, walau aku sudah amat tersakiti olehnya.

Dan kini di sudut restoran fast food sebuah Mal yang menjadi salah satu ikon di Bandung inilah tepian kami.  Dan cerita itu pun mengalirlah.  Tak terbatasi oleh waktu yang bergulir tajam.  Sesekali, perlahan dan dengan gerakan yang sangat halus, mengusap airmata yang menitik tak tertahan.  Mungkin Usi melihatnya.  Hanya berpura-pura tak terlalu membahasnya.  Dulu.... ketika aku sedang mengalami hal yang berat, ditepikannya aku di kafe.  Dan tumpahlah semua perasaan itu.  Kembali pulang dengan hati lapang.

"Jeng.. kalau sudah tahu itu kebiasaan buruk, harusnya bagaimana?."
"Yaa... diubah.. Ceu.."
"Ga harus saling menyiksa kan?"
"Hmmmm... mungkin aku yang sedang tak ingin mengerti.  Atau mungkin aku ingin sendiri."

Percakapan itu terjadi ketika awal perjumpaan kami.  Aku membuka cerita dengan pedih yang kurasakan.  Hanya untuk melegakan perasaanku saja.  Karena perjalanan itu telah 'usai'.  Menurutku.  Dalam semua yang kutuliskan di lembar kertas maya.  Aku ingin sendiri....

Tepian waktu yang mengalir, membuatku tak bisa berkonsentrasi di persiapan mimpiku ini.  Aku ingin berada di sini.  Di hatiku sendiri.  Menghabiskan waktu untuk berkomunikasi.  Mungkin aneh untuk sebagian orang yang tak mengerti, namun itulah duniaku.  Sisi terang untuk banyak orang yang kukenal, dan sisi gelap kesedihan itu milikku sendiri.  Aku tak ingin terlihat rapuh.  Aku tak ingin ini menjadi konsumsi orang-orang yang bahkan tak peduli.  Sesederhana itulah aku.

Melihat hasil yang masih belum bisa mencapai target.  Aku panik luar biasa.  Membaca cerita perjalanan waktu ketika menyusun langkah, hampir menyurutkan niatku mewujudkan mimpi ini.  PhD Scholarship yang ingin kuraih.  Pasrah tertunduk dalam do'a khusyuk yang panjang, menggulirkan airmata tak terbendung.

Yaa... Rabb, biarkanlah waktu menjawab langkah yang harus kutempuh.  Berikanlah saja aku kekuatan.  Dekatkanlah jika ini memang menjadi kebaikan, dan berikanlah (lagi) kekuatan hati untuk menerima apa yang menjadi keputusanMu..

Tak sengaja bertemu Nana di sini, karena aku sudah membatalkan janji itu dengannya.  Aku tak ingin kegundahan ini, buatnya tak mampu berkata, walau jujur... aku ingin bicara.  Dan mungkin... itulah jalanku..  Jawaban dariNya, agar aku tak terjebak pada kepedihan yang terlalu panjang.

"Is that worthed when I loss everything to chase my dream?" mataku berkaca ketika Nana menanyakan kelanjutan apa yang kurasakan. "Should I stop?"
"No.. dear, I thought that your dream?"
"Yeeaa... sure."

Ia memeluk menguatkanku.  Tak mampu berkata-kata.  Nana memang pendiam.  Mungkin sebenarnya ia pun memiliki banyak permasalahan, yang tak mampu diungkapkannya pada kami.  Kulihat sekilas airmatanya.  Maka dengan susah payah, aku kendalikan perasaan hati yang teraduk-aduk. 

"Aaah... sudahlah.. Say, aku akan baik-baik saja.  Gini niiihh..., makanya aku ga ingin kita jalan-jalan.  Karena aku pasti ingin menangis di bahumu.  Yuuuk.. aku pulang duluan yaa..."

Aku pamit meninggalkannya tetap di kampus.  Pergi menghampiri Dy, sahabatku yang telah menunggu di lobi.  Aku memang ingin tepikan waktu ini bersamanya dulu.  Menenangkan hati yang terkeping.  Dan.. hhmmhhh..inipun, harus dengan pengendalian diri yang 'super'.  Karena aku selalu ingin memeluknya.  Menangis di bahunya kini.  Meringkuk dalam pelukannya, dan bisa mendengarkan detak jantungnya, adalah kenyamanan yang tak bisa terungkap dengan kata-kata.  Damai dan menenangkan.  Bersamanya, aku selalu merasa amat disayangi dan dicintai.  Perasaan yang tak pernah kumiliki sebelumnya.

Membayangkan kesendirian itu teramat menakutkanku.  Aku pernah tenggelam sendiri.  Melepaskan mimpi.  Merangkainya kembali menjadi potongan-potongan gambar kolase baru yang lebih berwarna.
Maka... panggil aku dengan Vie.. janjiku manakala semua pulih.
Airmata yang kembali mengalir dan mengulang cerita yang pernah terjadi dulu.  Telah kulepas cinta itu... dan benar-benar 'lumpuh' otakku karenanya.  Tak ingin mengingatnya.  Membuka lembar baru saja.  Meninggalkan El dengan kekacauan fikirannya sendiri.  Terus melangkah, meretas mimpi. []


--------------------------------
deJa Vu

Sebenarnya aku bukan orang yang mudah bergaul, walau terlihat cepat berteman dengan banyak orang.  Itu karena aku pernah sangat tersakiti karena persahabatan.  Dan kemudian selalu mengatakan "I don't believe any friendship or relationship".  Aku tahu mendendam bukan hal yang patut dilakukan, tapi kesakitan itu mengalahkan norma yang lazim di masyarakat.  Aku memaafkannya.  Tapi tidak pernah bisa melupakan apa yang dilakukannya padaku.  Berulangkali ia meminta maaf untuk kesalahan yang dilakukannya, namun kemudian aku meninggalkan Solo dan Surabaya tanpa jejak.  Memutuskan semua kontak.  Dan melupakan bahwa aku adalah bagian keluarga besar alumni SMA itu.  Huuumffft... keras kepala dan pendendam.

"Vie.. maafkan aku.."
"Mar.. yang kau lakukan itu di luar batas... Lo ga seharusnya lakukan itu.  Memfitnah gue.. " Aku beranjak pergi meninggalkan Mary yang masih terisak tangis penyesalan.  Hatiku beku.  Tak pedulikannya
"Viiee... maafkan aku dulu."
"Aku masih bisa memaafkan jika yang melakukan ini Yani atau Nia.. Mar.  Tapi.. kalau dirimu? Gosh... gue sudah anggap lo keluarga gue.  Lo nusuk gue dari belakang."

Aku meninggalkan potongan kejadian masa lalu itu dalam album yang tak ingin kukenang.  Belasan tahun berlalu.  Lima tahun yang lalu, suaminya pernah  menghubungiku terlebih dahulu.  Mary selalu ketakutan menyapaku.  Pernah ia mencoba dan kuterima telfonnya.. dan mengobrol kaku.  Setelah itu.. tak pernah lagi kuangkat telfonnya.  Ketika ke Yogya, pasti disempatkannya mampir sowan pada Ibu.  Tapi... semua tak mengubah perasaanku walau sedikit.  Aku sangat amat terluka, karena fitnahannya teramat keji. Menurutku.  That's my bad!

Ini pun terulang kembali.  Kesakitan itu.  Ketika dilakukan El untuk yang kedua kalinya.  Kedua kali.  karena sebelum ini, aku pernah diusirnya.  Dihinanya.  Memperlakukan aku serendah-rendahnya.  Bukan masalah harga diri saja yang terluka.  Sebagai orang yang mengaku mencintaiku dengan segenap jiwa, harusnya ia mampu merengkuhku dalam komunikasi yang indah.  Mengayomi aku.   
Well.... lupakan... tidak!  Tak kuizinkan hatiku untuk melupakan kesalahannya kali ini.  Aku bukan barang, yang tak berjiwa.  Hingga ia bebas pergi dan kembali semaunya.  Tanpa kata 'maaf'?

Aku seringkali insomnia, setelah apa yang kualami.  Maka jelang terlelap aku harus menggunakan headset, memutarkan lagu.  Vie dan Musik itu memang pasangan sejati.  Hahaha.. itu julukan dari Mbak Anis dan Mas Pranoto, ketika melihat kebiasaanku.  Dan aku selalu terhenti lama mendengarkan  lagu "Lumpuhkan Aku-Geisha" menjelang tidur.  Benar merasuk dalam alam bawah sadarku.  Kini yang kurasakan... aku kehilangan rasa itu.  Setiap kulihat wajahnya, kini tinggallah wajah teman biasa.  Tanpa asa dan rasa manis  yang pernah kusematkan dulu.

Kegalauan yang diakibatkan El dalam hidupku, yang tengah meretas mimpi menghadirkan rasa sakit yang luar biasa.  Memudarkan kembali kepercayaanku pada sosok pria dalam hidup.  Dulu.. aku pernah amat mencintainya.  Jujur kuakui itu.  Hanya.. pada akhirnya, komunikasi kami selalu ada di kebuntuan.  Kufikir, aku telah mencintai pria yang tepat dengan kelembutan hati.  Karena sejujurnya, hanya itu yang kuinginkan dari seorang pria yang kucintai.  Yaa.. kelembutan hati.  Pengalamanku tumbuh di keluarga yang hanya mengutamakan materi dan bukan sentuhan kasih sayang, membuatku teramat merindukan itu.  Karena yang kuyakini, seharusnya segala sesuatu, bisa dikomunikasikan dengan baik dengan kasih sayang.
That's the essence of communication.

Tapi... aku memang tak pernah mendapatkan itu dari El.  Aku sering tak mengerti, kenapa ia tak mampu berkomunikasi dengan manis dan lembut padaku.  Apa salahku sebenarnya?  Tanya yang selalu terjawab dengan kebisuan.  Aku tak ingin marah pada masa lalu yang mempertemukan aku dengannya.  Jalani sajalah... Berdamai dengan masa lalu itu teramat indah.  Maka seringkali kuredam gejolak hati yang ingin pergi.  Berusaha memaafkan saja...

Tak bisa kubayangkan.. kepedihan  hati melepaskan cinta yang telah kutautkan bertahun-tahun.  Cinta yang berawal dari pandangan pertama.  Cinta pada sosok impian ideal remajaku dulu tentang sosok pria.  Namun kesakitan menuntunku pada sebuah pemahaman "lebih baik dicintai, dari pada mencintai".  Mungkin itulah yang terbaik... fikirku.  Dan itulah yang terjadi.  Semua tak pernah lagi sama.  Tak mampu kuuraikan kesakitan-kesakitan itu, karena jika bisa kau buka hatiku, bilur-bilur luka itu masih berdarah.  Bahkan sebagian mulai bernanah, tak pernah kering.  Dan ternyata... itu baru awalnya saja.

Tahun-tahun selanjutnya.. adalah penderitaan perasaan yang hanya mampu kupendam sendiri.  Dan kini mulai beranjak ke titik kulminasi. Titik jenuh.  Aku ingin berlari....
Tapi... juga menuntunku pada jalan yang tak kumengerti.  Aku banyak membuang waktu di dunia maya.  Memiliki banyak teman.  Fake friends.  Jujur... itu yang kurasakan.  Ga ada ketulusan di hubungan yang mereka tautkan. In the end they always talk about sex.  Just it.. and I don't really like it much.  Make me feel like a slut.  Oh my God... what kind of insane that I've done.. It's really not me.

Pertengahan Maret ini, dan terjadi perubahan besar yang mungkin baru kusadari kini.  Perlahan dan pasti, aku terbawa dalam sebuah komunikasi yang cukup intens dengannya.  Membuang banyak sisi negatif yang kutaburkan sebagai duri dalam hidupku sendiri.  Perjalanan waktu yang cukup panjang untuk menyadari kesalahanku.  Kehadirannya memang terasa bagaikan kesempatan kedua.  Pernah kulihat wajah itu.  Tatapan, senyum dan ketulusan itu.  Teramaaat lekat.  Hanya kulupa... kapan dan di mana. 
Aku hanya ingat.. senyuman, tatapan, dekapan serta ciumannya yang begitu mesra dan hangat.

Kufikir.. inilah Tangan Tuhan yang terulurkan bagiku, melalui dirinya.  Seperti apa yang pernah kubaca.. dalam novel yang kutemukan tiba-tiba.  Dan kutemukan lagi duniaku.  Membaca dan menulis.  Menepikan waktu dengan cara yang lebih positif.  See.... always a reason behind something!

Pertemuan yang instens ini, dimulai dengan hubungan kerja saja.  Ada tawaran untuknya.  Pertemuan yang biasa awalnya.  Formal.  Tapi jujur... jika ia tahu, itu kali kedua aku duduk dengan jarak yang teramat dekat.  Lompatan energi positif bercampur euphoria yang tiba-tiba kurasakan.  Awalnya terasa canggung dan kaku, karena kami hanya biasa berbincang akrab di dunia maya.  Dan kini, harus berbicara 'live'.
Gee.. tak bisakah ini.. natural?  Desahku dalam hati.   
Then.. like the answered prayer, mengalirlah percakapan itu lepas tanpa jarak.  Pertama kali, kusentuh tangannya, untuk meyakinkannya.  Semua akan baik-baik saja.  Hhhhmmfft... sentuhanku hanya sekilas.  Segera kutarik tanganku.  Karena rasanya ada aliran energi lain yang ikut mengalir dalam nadiku. 

Lompatan waktu itu memang belum kuingat.  Yang kutahu.. setelah kecelakaaan motor banyak memori yang menghilang dari ingatanku.  Banyak hal yang tak tiba-tiba menghilang dalam ingatanku.  Yaa.. selama aku masih ingat jalan pulang ke rumah.. tak apalah.. hehehehe...
Hanya.. mengenai Dy, selalu menjadi tanya tanpa henti.  Karena bisa kuasakan kedekatan itu, melebihi yang seharusnya, jauh sebelum kualami kini.  Hhhmmhhhh... biarlah waktu menjawabnya dalam hening.

"Bisa ga... sedikit ga ribet?  Ga usah berdebat panjang kan?"
"Aiiihh... Dy, kalau ga ribet bukan diriku kalii... " Aku tersenyum lebar, mendengar keluhannya.  Aku memang seringkali menanyakan hal yang sebenarnya sudah kuketahui dan dengar jelas.  Ehhmm.. memastikan saja.  Merepotkan memang.  Tapi buatku memastikan ketulusan itu menjadi 'penting' dan harus!
Maafkan untuk itu.....Dy, bisikku dalam hati, menjawab keraguanku sendiri.

Perjalanan waktu yang membawa kami di Mal yang bersebelahan dengan kampus ini, bermula dari keinginanku membaca buku.  Rasa sakit yang teramat menekan perutku, mulai sangat menggangguku.  Mencengkeram lambungku.  Hingga akhinya aku sesekali meringis, menahan sakit. Hal itu memang tak luput dari perhatiannya.  Aaahh... andai saja.... ssshhh, tak kulanjutkan fikiranku ini.

"Kenapa... Vie?"
"Perutku kram.."
"Kita duduk aja.. atuuh."  Terlihat jelas kekhawatiran dirinya.  Wajah itu memang mengguratkan rasa sayang yang nampak tak berbatas.  Rasa syukur... tak pernah terhenti mengalir karena percakapan dan pemahaman kami sudah ada di zona yang ternyaman.  Buat kami berdua.  Sahabat hati. Sahabat sejati.

Pandangan nanar selalu kulemparkan jauh ke pemandangan di depanku.  Hanya bisa memalingkan wajahku sejenak darinya.  Aku tak ingin begitu 'terbaca' dalam kegundahan.  Tapi.. rasanya, ia selalu tahu itu.  Karena setiap selesai melakukan itu, aku melihatnya sedang menatapku dalam.  Kulihat kekhawatiran bergayut di sana.  Nyata terlihat. 
"Ada apa?"  Pertanyaan yang sering diungkapnya.

Sambil mengusap pahanya, dan punggungnya, kuyakinkan bahwa aku baik-baik saja.  Walau seringkali kuyakin Dy tak mudah percaya dengan apa yang kukatakan.  Hhhhmmmmhh... maafkan aku.. Sayang.  (bolehkah kupanggil kau dengan itu..??)  Tak ingin terlalu merepotkanmu.  Ditemanimu melepaskan kegelisahan.. adalah anugrah yang selalu kusyukuri tanpa henti. 
Di setiap usapan yang kulakukan... aku harus menahan banyak perasaan yang membaur seperti warna pelangi di lazuardi.  Bagai semburat merah di sunset Pantai Senggigi yang ingin disaksikannya bersamaku.

Kita pasti bisa pergi ke sana yaa... Dy?

Maafkan Dy..
Karena selalu ingin kupanggilmu 'Sayang'.. untuk melukiskan kedekatan perasaanku padamu.  Yang tak perlu kau khawatirkan adalah ini hanya ekspresiku saja.  Ingin memanggilmu demikian.  Karena kutahu, sudah kau miliki mimpi dan kehidupanmu sendiri.  Dan jika kukatakan "I love you.." pun.. maknanya takkan sesempit apa yang menjadi kelaziman pemahaman yang ada di masyarakat.  
Harus kujelaskan ini... karena harus.  tak pernah mampu kuhindari perasaan 'dekat' padamu.  Percaya.  Aku sudah mengenalmu jauh sebelum masamu.  Mungkin.  Samsara itu ada.  
Maka.. sahabat hatiku,, tetaplah.. berjalanlah pada hidupmu..

Hmmmhhm... desah nafas panjang yang selalu kulakukan, ketika menghabiskan waktu dengannya.  Tetap juga membuatnya tetap selalu bertanya hingga kini, "Kenapa..".."Ada apa... Vie."
Dan banyak tanya lagi yang intinya selalu mengkhawatirkan diriku.  Mungkin, tak pernah ia tahu, bahwa bersamanya pengalaman baru itu mengalirlah.  Aku tak pernah merasa disayangi, diperhatikan dan dicintai sebesar ini.  Thanks.. God, untuk pertemuan kembali dengannya. Kesempatan kedua yang Kau berikan ini.

Lompatan waktu itu langsung kembali di dua tahun yang lalu.  Hari ini..., aku memang tengah disibukkan memberikan quiz bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhinya.  Pemantapan karakter dan pengembangan yang kuajarkan, harus dinilai. Kelas ini. Hhhmmmhh.... Di tempat inilah, aku dan Dy bertemu di kesempatan kedua.  Baru kini kufahami, itu merujuk pada sebuah kesempatan kembali.

deJa Vu....

"Aaaah.. ketemu lagi.." sapa hampir seluruh kelas padaku.  Komunikasi yang pernah terjalin di sini memang sangat akrab.  Aku mudah berteman dengan siapa saja. 
Sambil melemparkan pandangan ke seluruh kelas, mengingat pertemuan pertama dengan kelas ini.  Hmmmmh.. wajah itu.  Terhenti di seraut wajah yang mengingatkanku pada masa laluku.  Sorot mata yang teramat kukenal.  Tapi... entah di mana.  Berdesir darahku.  Kutarik nafas pelahan dan berusaha menentramkan jantung yang tak menentu.  Aiiih...

Kulihat ia duduk di bangku kedua, yang berjarak hanya sekitar 50m saja dariku.  Hhhmmhh... wajahnya masih tergurat kelelahan.  Dan baju kantornya, sebenarnya cukup rapih siihh.....  Tapi.. rasanya, ia bisa tampil lebih 'chick' versi usianya.  Ssshhhh... sudahlah Vie.. nanti sajalah jika kau sudah akrab benar dengannya.
Come on..Vie!  Konsentrasi...

Awal pertemuan kami terjadi satu semester sebelum ini.
"What's up... guys..?"
"......"
"......"
"Well, I mean... how are you... guys?.  Ingat yaa... I said 'guys' not 'gays'." Menyapa dengan candaan yang menginginkan cairnya siatuasi kelas menjadi lebih natural.  Ini pertemuan pertama yang selalu membutuhkan waktu mengenali satu sama lain.
"I'm fine...." jawaban itu serentak menyeruak membelah keheningan yang kumulai dengan senyuman hangat.
"Hmmmhhmm... harusnya kalian sudah memulai dengan cara yang 'berbeda' jika menggunakan bahasa Inggris yaa...? not only... how are you? then answered by 'I'm fine thank you.. and you..?" motivasiku mengawali materi.
Aku melemparkan pandangan ke seluruh kelas.  Dan terhenti pada seraut wajah.  Tampan dan innocence. Jaraknya masih 100 m dariku.  Mengamatinya dari depan kelas.  Kepalaku tiba-tiba pening. Wajah itu.... wajah yang terasa tak asing bagiku.  Degup jantungku tak menentu.  Mencoba mengingat di mana pernah bertemu dengannya.
Hhhhmmmfft.... gee..paaraah, ingatanku 'blank' di saat yang tak tepat.  Aku berkeluh kesah dalam hati, sambil berusaha tetap profesional di sini.  Menyelesaikan tugas sesempuna mungkin. 90 menit ini terasa lama... karena mau tak mau aku harus bisa melibatkan semua dalam tahapan-tahapan yang telah kusiapkan.

Pertemuan-pertemuan berikutnya..
Komunikasi yang terjalin cukup akrab pun terbangun dengan keterbukaan yang kuciptakan.  Aku memang tak pernah 'jaim' di mana pun.  Aku adalah aku.  Bagaikan buku yang terbuka, yang bisa tebaca dengan jelas.  Namun, tetap kumiliki satu ruang gelap dalam hatiku.  Ruang rahasia tempat kuberlari dari kepenatan jiwa.  Menyandarkan lelah yang mendera.

Sepanjang semester ini, banyak kuhabiskan waktu mengamatinya. Namanya Fidy.  Tapi lebih nyaman buatku untuk memanggilnya dengan Dy.  Dan kini dia sedang ada di depan kelas, gilirannya mencoba presentasi.  Ehhmm... kuamati gayanya.  Pemalu dengan senyumnya yang khas.  Teramat manis. 
Ssshh... yang harus kau evaluasi itu, adalah materinya.. Vie, bukan subjeknya.. otakku berontak mengoreksi fikiranku sendiri.  Hhahaha.. keajaiban!  Dan kujadikan itu titik.

Tapi.. semua kembali buyar kembali.  Begitu aku harus berhadapan dengannya lagi.  Hhhmmhh... hela nafas yang panjang, seolah mampu melepas semua kepenatan yang akan kujalani (lagi).  Baiklah... aku akan profesional dan tak ingin mencampur-adukkan perasaan yang berlompatan dari hatiku. Aku akan berusaha berjalan dan bersikap normal.  Menenangkan hati yang ingin mengatakan banyak hal manis padanya.  Bayangan kenangan lama, yang kabur melintasi perasaan yang merasa mencintainya sepenuh hati.
Sssssttt.... Vie, you must stop it.. right now! kay? []


----------------------
TALK AND LIFE

Ternyata itu hanya masalah selera roti kami yang berbeda.. hehehe..
Dy memilih roti "bicara" dan aku memilih roti "hidup".  Yaa... jika digabungkan memang perpaduan yang menarik bukan?
Kita akan tetap hidup jika mau terus berbicara (baca: komunikasi)...
Jadi benarlah.. always a reason behind something happened.  Tak ada kebetulan itu.

Paagiii...
Jika kau ingin menjalani hari dengan semangat, maka tak berhentilah membaca dan menulis.  Hatimu akan mengalir bersama waktu.  Hidupmu akan terpandu oleh benderang pelitanya.
Pagi itu asa dan harapan.  Maka jika tetap bisa kau rasakan semangat pagi, sepanjang hari tetap akan indah.  Mataku terbuka dengan malas, menyambut sinar matahari yang menerobos korden di kamarku.  Arrggh... haruskah aku pergi?  Tanyaku gamang.  Tiba-tiba langsung meloncat dari tempat tidur, karena aku ingat janji dengannya.  Eehhmm... aku ga boleh berbaring sepanjang hari, membuang satu kesempatan bertemu dengannya.

Hari ini kujalani dengan bahagia saja.  Karena di setiap mataku terbuka di hari baru, terlantunkan syukur "Terimakasih yaa Rabb, atas sebuah kesempatan (lagi) menjalani nafasku bersamanya..."

Fikiran yang menerawang jauh, melintasi batas ruang dan waktu, mengantarku padanya.  Sahabat yang telah menjabat hatiku dengan sangan erat.  Tanpa jeda.  Hampir tak bisa kupisahkan waktu tanpa kehadirannya.  Baik di dunia maya, nyata atau mimpi.  Perjalanan waktu telah menepi bersamanya.

deJa vu...
Itu yang kurasakan ketika menatap matanya 3 tahun yang lalu.  Merasa pernah mengenalnya.  Sangat dekat dengannya.  Apakah di masa itu memang aku menjalin persahabatan yang menembus ruang hati?  Entahlah.... namun komunikasi kian terjalin baik selama hampir 5 bulan ini, bagaikan hujan sehari yang menghapus kemarau 1 tahun. Mengalir dengan begitu indah.  Bertahap, tanpa memaksakan diri menjalani fase-fasenya.

Kunikmati benar iramanya.  Indah...

"Eeeh... lo belum pernah gue cium yaa..," celetukku ketika benar-benar merasa gemas dengan tingkahnya.
"Viee....!" .

Wajahnya memerah bagaikan apel Ana kesukaanku, karena Dy memang pemalu.  Sifatnya sangat berbeda denganku.  Bagaikan langit dan bumi.   Tapi perpaduan persahabatan yang terasa indah, bagaikan kue lapis hijau dan abu-abu, seperti warna jaket favoritnya.  Manis.  
Aku pribadi yang extrovert, ceplas-ceplos, talk active, ga jaim dan apa adanya.  Seringkali siapa pun yang sedang bersamaku, terjebak oleh malu.  Hahahahaha.... akhirnya mereka pura-pura ga kenal aku.
Yaa... itulah aku.  Yang selalu terjebak rasa merindukannya.

Dy adalah pribadi yang introvert, pemalu, pendiam, penyayang dan penyabar.. Dan sebenarnya, jujur... aku tak begitu mengertinya, walau belajar memahaminya, karena di banyak perlintasan waktu yang kulalui Dy jarang bercerita.  Yaa... sudahlah.. pendengar yang baik.  Tapi.. bisakah kau mulai membuka dirimu.. Dy, satu saat nanti.  Harapan ini kutiupkan di semilir angin pagi, di antara embun yang ada di permukaan daun.

Aku tahu,  Dy punya kehidupan sendiri.  Demikian pula denganku.  Walaupun situasi kami sangat berbeda.  Aku seperti akan beranjak pada fase kehidupan lain, sendiri lagi....  Perjalanan yang sangat ingin kuakhiri saja.  Karena selalu terluka.

Sedangkan kehidupan Dy, adalah fase yang mungkin amat membahagiakan dirinya.  Meretas mimpi-mimpi yang terbukukan rapi, menunggu realitasnya.  Kami memang berada di banyak perbedaan.  Dan kalimat yang dituliskannya untukku, memang membuatku terhenyak.
Jujur.... aku amat bersyukur bertemu dengannya, ketika terpuruk dengan teman-teman 'palsu'.

Aku sangat belajar darinya.  Kesabaran, ketulusan dan  aaahh... rasanya tak mungkin kusebutkan satu persatu, karena teramat banyak.  Dan kini.. perjalanan waktuku seringkali menepi bersamanya.  Dengan cinta.  Karena buatku, mendampingi seorang sahabat, haruslah dengan cinta.  Cinta dengan kesediaan melihat Dy bahagia dengan hidupnya.  Yaa.. itulah aku dan cintaku.  Sederhana saja.  Hanya ketulusan yang selalu aku harapkan dari setiap orang yang mengenalku.   
Real communication.. not the fake one..!

Perjalanan itu mengalirlah....

"Aku pulang yaaa.... Vie..," pamitnya malam itu.
"Yaa... take care." lepasku sambil mendekapnya.  Timbul rasa isengku untuk menggodanya.
"Eeeh..... Dy, kudengar degup jantungmu berbicara padaku."
"Apa..?"
"Begini... detak yang kudengar.. berbunyi "love you... love you.... love you..." gitu...."

Aku langsung terduduk dan kemudian tertelungkup menahan tawa yang teramat lepas, sambil memegang perutku.  Terpingkal geli.  Itu karena kulihat ekspresi wajahnya yang luuuccuuuu....  
Aaaiiihhh... Dy, betapa ingin aku menciummu nyata juga, fikiranku pun menjadi bergulir semakin 'tak' beraturan.  Sentuhan yang terjadi antara kami, membuatku mati rasa.  Degup jantungnya jelas terdengar indah ketika bersandar di dadanya.  Sulit memang buatku mengakhiri malam itu.  Membiarkannya pulang.  Jika diizinkan, ingin kuhabiskan malam ini dengannya.
Dan, ia pun ikut terduduk dalam diam.  Pun juga menahan tawanya.  Mungkin, selama ini tak pernah dikenalnya wanita "selugas" diriku.  Hhhmmmmmmhh.... aku memang terlalu banyak berinteraksi dengan budaya barat yang membiasakan diri untuk "terbuka".  Open minded... that's me..

"...."
"...."

"Aaaahh... maaaf atuuh, Dy."  Aku pun akhirnya mampu menghentikan tawaku.
"......"
"......"
Hening cukup lama menghentikan komunikasi kami.

"Dirimu ada-ada saja.. aaahh... Vie.  Malu aku jadinya..."  Wajahnya masih tersipu.
"......."
"Itu mah bisa-bisanya aku kali... Dy.  Tapi serius daa... aku memang seperti mendengar itu."  Aku masih menggodanya.

Dan itu kulakukan, untuk bisa sebentar menahannya di sini.  Menemaniku.  Maaffkan... aku yaa.. Dy, jika aku masih ingin menghabiskan malam bersamamu.  Dan waktu itu memang berjalan seperti yang kami inginkan.  Percakapan yang semakin hangat terus menemani hingga ujung pagi menjelang.

"Aku pulang yaa..."
"Okay..."  Melepasnya kini dengan perasaan bahagia. "makasiihhh... untuk berkenan menemani malam ini."
"Yaa..."

Saling belajar mengerti.  Mendekap erat karena enggan waktu beranjak.  Mengecupnya ringan di pipi.  Dan kembali mendekapnya.   
Hati-hati di jalan... sahabatku.  Kukatakan 2x karena ada hatiku di sana.
Kalimat ini pernah kuucapkan padanya.  Dulu.. dan ia tertawa.  Mungkin tersipu.  'ntahlah... tak kulihat wajahnya karena hanya melalui pesan singkat.

@my_room

Begitu pesan itu kuterima, barulah aku bisa tertidur.  Kalimat yang memastikan Dy baik-baik saja.  Telah tiba di rumahnya dengan selamat.  Tak pernah kukatakan padanya, betapa aku selalu mengkhawatirkannya.  Hanya terbiasa berharap, ia mau mengerti.  Yaa... agar bisa melegakan hatiku.  Bagaimana pun... telah kujabat hatinya erat.  Teramat erat.  Hingga seringkali, kami terhubung dengan kontak batin saja.

Novel yang kubaca kini, memang kujadikan judul hatiku.  Tatapanku menanar.  Melemparkannya ke luar jendela bis kota yang mengantarkanku ke tempat kerjaku.  Aku sedang malas siaran.  Maka, tadi pagi kukatakan pada Mbak Anis, minta izin.  Baiklah... Vie, take your time. 
 Two Lovely Hearts....
Perjalanan cinta dua anak manusia, yang menembus batas perbedaan.  Dengan setting Aussie.  Mahasiswa penerima Scholarship.  Cerita yang teramat manis... walau endingnya tak (harus) manis.
Well....memang kebahagiaan itu tak identik dengan perjalanan indah.  Bisa berjalan berdampingan dan saling menemani pun sudah menjadi tautan yang indah kan?  Ketulusan itulah kesejatian dari kebahagiaan.

Proposalku belum mengerucut.  Aarrrgghh... ingin menyelesaikannya.  Selalu ada yang menghalangiku.  Perjuangan yang tak mudah, tapi pasti ada ujungnya.  Seperti pendakian gunung yang sering kulakukan.  Semakin menantang jika banyak rintangannya kan?  Maka, Bismilah...
Yaa Rabb, beri aku kekuatan untuk menyelesaikan semua perjuangan ini.... tinggal selangkah lagi.

Maka tulisan yang ada di novel menuntunku pada airmata:

"Angin, terbangkan aku ke langit, sembunyikan aku dalam pelukan awan.  Hilangkan aku dalam ketiadaan.  Aku lelah....."

Jujur..
Aku hanya punya Dy.   Walau tak pernah kukatakan itu padanya.  Rasanya aneh.  Karena aku bisa merasa sangat dekat padanya dalam waktu yang sesingkat ini.  Ia pun sering mengungkapkan itu padaku.  Memang waktu bukan patokan kedekatan kan?
Tapi selama perjalananku meretas mimpi yang sangat tinggi ini.  Sejak kumulai prosesnya.. Dy ada.  Memberikan kekuatan, pertimbangan keputusan.. dan.. kenyamanan perasaan yang seringkali terombang-ambing oleh badai permasalahan.
Kenapa... Dy??? Aaahh... biarkanlah... jawabku,  biarkan waktu menjawabnya.

Kini... Proposal yang akan menuntunku pada sebuah impian telah selesai, bersamanya.  Ditemaninya.  Tak terhitung airmata yang mengiringi perjalanan panjang ini.  Aku bukan wanita yang mudah menangis di depan siapa pun.  Itu janji yang sudah kulepaskan.  Aku belajar jujur saja menjalani hidup.  Maka kini... aku bagai buku yang amat terbaca oleh Dy.  Hanya bisa mengucap "makasiiihh..." walau itu takkan pernah cukup untuk semua pengorbanannya.
Meretas mimpi ini memang terasa sangat ringan, karenanya.  Selalu ada untukku.  Hanya menemaniku, mengetik atau menjadi pendengar yang teramat baik untuk semua keluh kesahku.  Hingga jika kini... ia telah terlelap di pangkuanku.  Kunikmati perjalanan waktu ini.  Menepikannya pada batasan cintaku.
Mengusap kepala dan rambutnya lembut.  Mengusap dan mengecup pipinya perlahan.
Ehhhhmmm... bolehkah kukecup bibirmu... Dy?  Sebentar saja... untuk melepas kerinduanku ini.
Fikiranku menerawang jauh, melintasi waktu.  Kutatap wajahnya.  Damai pun juga menyelinap di hatiku.


Aku pernah memilikinya.... menjalani kehidupan cinta dengan kasih yang tak terbatas dengannya.... entah di masa yang mana....
Betapa perjalanan 4 hari 4 malam di acara "night camp" ini membuktikannya.   Nyata, kedekatan itupun membukakan ruang-ruang rindu dalam hati kami.  Bunga-bunga yang terus bermekaran di taman hati menebarkan aroma yang sangat harum.  Jika malam menjelang, pendar cahaya kunang-kunang menuntun kami di kegelapan perasaan, menjadikannya terang benderang.

You have me.... You've already had me... kubisikkan itu, ketika ia terlelap.  Hhmmmhh... masih jam 9, aku tak pernah tidur secepat ini.  Aku memang sering baru terlelap di tengah malam.  Berbeda dengannya.  Hidupnya lebih teratur dan sehat.  Sejurus kemudian aku mengecupnya lembut.  Menyelimutinya, meninggalkannya sesaat untuk mandi.

Badanku yang lengket, perlahan bergeliat ringan ketika air dingin mengguyur.  Hhhhmmm... tak ada yang bisa menenangkanku melebihi air dingin.  Memudarkan semua kelelahan fisik dan hati bersama aliran air yang akan mengaktifkan ujung-ujung syaraf.  Kembali tenang, perasaan yang sama jika kuteguk secangkir kopi.  Membalurkan minyak kayu putih membuat hangat badanku, mencampurkannya dengan aroma parfumku yang akan menenangkanku dengan perasaan 'cantik'.  Jiiiaaahh... hahahaha... Ritual yang cukup panjang dan melelahkan...Buat orang lain mungkin.  Menjelang tidur..
Tapi tidak denganku. :) 

Biasanya.. setelah ritual mandi dan pernak-perniknya, selanjutnya aku akan mengecek email yang masuk.  Pekerjaanku memang banyak bergantung pada komunikasi di sini.  Berselancar di dunia maya, memang selalu menjadi bagian di keseharianku, semenjak aku 'terpaksa' tersandera dalam kebisuan di kebuntuan komunikasi dengan dunia sekitarku.  Menulis diary di lembaran maya, akan membuatku tetap 'waras'.  karena bisa mengalirkan kegundahan yang selalu menyesakkan dada. 
Tapi malam ini tak ingin kulakukan bagian ritual itu.  Karena di sampingku.. ada Dy.  Kejutan yang luar biasa kusyukuri.  Memandangi wajahnya sedekat ini, jujur membuatku tak mampu berkonsentrasi.  Degup jantung yang mulai tak beraturan, eehhhhmmmmhm...  Hela nafas yang panjang kulepaskan, untuk menenangkanku.
Kulihatnya masih terlelap.  Lebih baik aku membaca saja.  Rambutku pun masih basah..  Secangkir kopi panas menemaniku, membaca buku.  Membaringkan diri di sampingnya.  Hhhmmm... menatap dulu sejenak wajahnya yang damai.  Lalu membenahi letak selimutnya.  Karena tadi kulihat ia mengubah posisi tidurnya.  Sangat perlahan saja, semua gerakan yang kulakukan.  Aku tak ingin mengganggunya lelapnya.  Dan takkan kuizinkan seekor nyamuk pun melakukannya.

Ada tiga novel yang sedang kubaca.  Pillow Talk, Two Lovely Hearts dan Infamous.  Jika kau percaya... maka memang benar tak ada kebetulan itu.  Semua cerita yang tersaji di sini bagaikan perjalanan hidupku.  Yang sudah kujalani ataupun yang akan kujalani.  Perlahan... tapi pasti... pintu-pintu itu pun terbuka.  Akhirnya, ketika aku memperhatikan wajahnya lagi,  tak mampu kubendung keinginanku melakukan hal yang amat kusuka.  Mewakili perasaanku.
Kubisikkan "I love you..." di telinganya, pelan dan lembut, dalam nada do.  Lalu, mengecup pipinya.
Matanya terbuka... "Hmmmm.. ada apa??"
"Gaa.. I love you... tidur sajalah lagi.."  Aku mengusap pipinya.. Perlahan... matanya menutup kembali, sambil memelukku..... :)

Tepian waktu itu... teramat membekas dalam ingatanku.  Selalu bisa kulihat wajah dan senyumnya, dimanapun aku melemparkan pandangan.  Bahkan jika aku melepas tangis dalam gelap, kulihat ia mengulurkan tangan, menghiburku.  Sungguh teramat manis.. semua yang terjadi ini.  Jujur.. belum pernah aku mengalami kejadian yang teramat indah dan manis sebelumnya.  Belum pernah aku merasa teramat disayang dan dijaga seperti yang Dy lakukan.  Kenapa..?? tanya yang terjawab di hening waktu.

Dan waktu... menepilah...
Pintu lain telah terbuka buat aku dan Dy.  Tak pernah disadarinya.  Maknanya dalam hidupku lebih dari apa yang kujalani dengan Usi dan Nana.  Pastinya, karena sahabat-sahabatku itu tak bisa menjabat erat hatiku, seperti yang dilakukan Dy.  Mungkin karena mereka pun telah sangat terikat dengan kehidupan yang mereka jalani sendiri.

Dan, sebenarnya Dy pun sudah memiliki kehidupan sendiri juga.  Entah kenapa..... Ia selalu ada buatku.   Tetap ada di sini, menemani langkahku meretaskan mimpiku.  Menjagaku ketika mimpi-mimpi buruk itu hadir.  Atau bahkan meminjamkan bahu dan terus menggenggam tanganku agar tak limbung.  Arti hadirnya.... Melebihi semua kumpulan mutiara, permata dan mutu manikam yang ada di muka bumi ini.
Hingga kini takkan pernah cukup semua untaian kata yang terangkaikan dalam kalimat untuk mengungkap rasa terimakasih, untuk semua waktu yang berkenan terbagi untukku.
Walau ingin tahu... hampir tak pernah kutahu jawaban dari "Mengapa...??  Kenapa"
Selalu terjawab hening.. dalam hari di siang atau malamku.
Namun.. biarkanlah saja.  
That's the Talk 'n Life... 

Dalam hitungan malam yang singkat itu... banyak cerita yang tertulis dengan sangat indah dan teramat manis..
Mungkin banyak tanya yang kuhadirkan.  Kufikir... apakah (hanya) aku yang merindukan semua yang telah terjadi?  Kulemparkan tanya itu sepanjang perjalanan pulang membelah malam sendiri.  Dan dijawab dingin oleh angin malam.  Jika kudapatkan jawaban itu, maka ingin kudekap dirinya teramat erat, seerat perasaan yang pernah kumiliki dulu padanya.  Di kehidupanku yang lain.  Dan tak akan kulepaskan lagi.[]

--------------------------

EPILOG

Dalam hidupku, aku hanya ingin kesederhanaan.  Itu yang selalu ingin kubagikan pada orang-orang yang mengenalku.  Mencoba mensyukuri dengan ketulusan.  Merasa 'cukup' tanpa ingin 'lebih'.
Tetap menggantungkan impian pada Bintang di langit, namun tetap menjejakkannya ke bumi.
Selalu instropeksi dan tidak menghakimi.

Mimpiku tinggal menunggu di ujung tepian waktu....
Perjuangan 7 bulan, akhirnya selesai dengan sempurna.. Dan selalu ditemani Dy.  Perjalanan panjang ke Jakarta pun memang menjadi perjalanan yang berbeda.  Kurasakan benar kekhawatirannya.  Karena kutahu.. Dy memang amat menjagaku.  Mungkin lebih dari ia menjaga dirinya sendiri..
Geer.. hahaha..  ✿♥‿♥✿

Proses meretaskannya yang teramat kunikmati.  Tepian-tepian waktu itulah kesejatian dari semua perjalanan ini.  Jatuh bangun menjalani hidup memang hakiki...  Perjalananku di ujung kesendirian, memang terwarnai oleh tangis yang banyak tertahan.  Aku tak ingin terlihat terlalu rapuh dan merepotkan.  Maka jika pun ada, kujadikan itu do'a di tepian gelap dini hari.. kala bersimpuh padaNya.  Hidupku, matiku... semua memang ada di tanganNya.

Dan... Dy,

Kau membuat semuanya terasa mudah.  Kau tak mendesakku untuk langsung percaya--kau menunggu.  kau tak berjanji akan membuat luka di hatiku benar-bena sembuh, tapi kau bersedia menangis dan merasakan sakitnya bersamaku.  Tak perduli sebanyak apa aku menyangkal arti dirimu, kau tetap di sini bersamaku.

Aku tak bisa membayangkan hidup tanpa dirimu.
Aku tak bisa membayangkan hari-hari tanpa senyummu.
Bagaimanakah rasanya hidup tanpa suara tawamu?
Aku tak tahu.  Aku tak ingin tahu.

Jadi, beri aku sedikit waktu.
Aku akan berusaha semampuku sampai bisa mencintaimu sebesar kau mencintaiku.
Sedikit waktu lagi sampai aku layak mencintaimu..... (@The Pilot's Woman)

Novel-novel yang kupinjam dari Bapusipda, tempatku menenangkan diri seringkali menghadirkan kejutan-kejutan hidup yang amat tak terduga.  Jika kau belum percaya bahwa selalu ada alasan atas sebuah kejadian.  Belajar percayalah... karena aku telah banyak mengalaminya.

Ketika kubutuhkan jawaban... kutemukan "The Answered Prayer" yang menguatkan hatiku.
Saat kurasakan cinta.. kubaca "Pillow Talk" dan menuntun kejadian-kejadian indah tak terlupakan..
Di perjuangan kuretaskan mimpi... kudapati "Two Lovely Hearts" sebagai penerang.
Pada ketidakpercayaan diri... kudalami "Infamous" untuk mengingatkan makna persahabatan..

Dan kini...
Dalam "The Pilot's Woman" kupelajari perjuangan kekuatan ketulusan cinta yang menembus batasan.
Yang kemudian menuntunku dalam "Samsara".

Saat takdir menghampiri, mampukah manusia menghindari Samsara?
Samsara adalah lingkaran kehidupan yang berkesinambungan dan tidak terputuskan.  Tiada awal.  Tiada Akhir.  Takdir, hidup, mati, dan jodoh adalah... SAMSARA.

Tumpukan buku dan novel yang selama ini teronggok, seolah tak berjiwa.. semua mulai mengajakku berbincang.  Menjelaskan bahwa aku tak pernah sendiri menjalani hidup.

Persis seperti apa yang dituliskan Dy padaku:

Jangan pernah berfikir bahwa kau sendiri...
Karena aku (slalu) ada untukmu.
Datanglah padaku di saat kau merasa kesepian..
Aku ada... ada untuk menemanimu,

Karena bahagiaku (bukan) saat memilikimu...

Tapi saat aku bisa melihat Senyum dan Tawa bahagiamu... #tulus

Menitikkan tangis ketika melepas malam (baca: kegelisahan) memang hampir selalu kulakukan.  Aku memang takut sendiri... karena itu yang seringkali kurasakan.
Dan 'rasa' yang telah hilang dalam hidupku, mengantarkanku pada 'titik' tanpa 'koma'.
Namun...  'Samsara' kehidupan memang tak akan terputuskan.
Lembar baru yang menantiku untuk menuliskan cerita dan menggoreskan lukisan di kanvas kehidupan itu memang telah ada.

Tebaran tawa yang kulepas di perjalanan pulang bersama Dy.. memang terdapat berkas kerinduan yang tak terbukukan.. selalu menjebakku dalam ruang kerinduan tanpa batas ruang dan waktu.
Catatan hati ini...
Kurangkaikan dari serpihan cabikan kolase-kolase perjalanan yang tak selamanya indah.  Karena aku memang bukan wanita sempurna.  Dengan keterbatasanku, kuinginkan kedamaian hati dalam kesederhanaan hidup.  Agar lukisan baru itu terlihat indah, kuhiasinya Bintang dan Kunang-kunang, dengan pipi merahnya
(。♥‿♥。).

Tak perlu terbebani olehku... Dy.  Jangan (pernah) merasa begitu.  Karena aku hanya minta kau temani.  Jalani hidupmu senormal dan seindah mungkin.  Sama seperti sebelum kehadiranku didalamnya.  Seperti pesan yang kututupkan siang ini: "Baik-baik yaa.. Ayy, always take care..!"

Terhatur maaf tanpa jeda.. #Promises

Di ujung malam ini..
Aku bersimpuh untuk kebahagiaan yang terengkuh buatmu,
Di ujung gelap ini..
Aku memohon ampunanNya atas semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu,
Di akhir tulisan ini..
Aku menuliskan cerita hati tanpa henti untuk mengurai benang merah denganmu,
Karena yakinlah pula.. aku pun ada untuk temani gelisahmu yang berselimut ketegaran.
Tetap jadilah.. dirimu sendiri.[]

Jika boleh kumohon:

Tetaplah temani aku...
Tinggallah di hatiku selamanya....
@Dy

Sunday, July 14, 2013

@11/07

Maafkan aku..
Maafkan aku..
Dan maafkanlah aku... untuk semua yang telah terjadi,

Maka, maafkanlah aku (lagi) dan lagi...
Jangan pergi dan menjauh dariku... 
#takut

Pagi ini memang perasaanku cukup campur aduk.  Lelah menanti.  Aku memang masih sering melupakan janjiku untuk selalu berfikir positif. Yaa... aku memang wanita biasa kan?
Salahkah aku untuk apa yang telah terjadi?  Jika kejujuran dan ketulusan itu tergadaikan dengan harga mahal, maka tak kan kumaafkan diriku untuk ini.  Aaaarrgghh... sambil terbaring, aku mengabaikan telfon yang menjerit-jerit.  Kulihat nomernya.  Tak kukenal.  Kubiarkan saja, dan akhirnya berhenti.

Kubalikkan badan, menatap tembok dan langit-langit yang mulai menguning (maaf.... ya Dy, kupinjam kata-katamu, bisikku dalam hati).  Ugh.. lamanya waktu berdetik.  Tak kunjung berbalas.  Masih terlelapkah kau?
Kaki kiriku tiba-tiba teramat sakit jika digunakan berjalan.  Rencana yang semula kususun, berkeping.
Sudahlah... 

Terhenti di titik ini..
Aku harus belajar lebih bersabar.  Karena seringkali angan dan fikiran ini bergulir liar tak terbendung.  Walau sejak kepindahanku ke kota ini, aku selalu belajar be positive.  Mengambil hikmah dari sepahit apa pun yang terjadi di hari yang terlewati. 
Mengawali pagi dengan " Thanks God.. for giving me chance one another day to be happy with him".  Namanya selalu ada dalam setiap hembusan nafas dan do'a.  Dy..
Tak terhenti menyebut namanya...
Maaf yaa... Dy, jikalau seringkali terhubung denganku dan perasaanku.  Mudah-mudahan kau tak keberatan dengan itu.

Well, akhirnya kuputuskan saja membuka komputer jinjingku.  Bersama novel-novel yang belum satu pun selesai kubaca.  Tak apalah..
Nafsu makanku menurun drastis.  Kembali tertekan oleh keadaan perasaanku.  I'm moody person.  Maka semua kejadian, akan terhubung langsung dengan perasaanku.  Melow.  Dan seringkali kukuatkan diri. Come on... woles... Vie!.
Ini adalah hari ke 2, Ramadhan yang teramat berbeda kujalani.  Jujur, yang terindah yang pernah ada dalam hidupku.  Di awali dengan sahur dan buka dengan Dy.  Belum pernah aku merasakan keindahan Ramadhan seperti ini.  Keindahan dan keajaiban cintakah itu?  Sssstttt... sudahlah, biar hatiku yang menjawabnya yaa..

Mungkin, kalian seringkali bertanya.... mengapa selalu kusebutkan namanya di hembusan nafasku.  Siapakah dia?  Hhhmmmhhh... kukatakan jelas di setiap kuterima pertanyaan itu, Dy adalah sahabatku.  Sahabat terbaikku.  Sahabat yang menjabat erat hatiku.  Yang selama hampir 5 bulan ini menemani langkah-langkahku, kala aku merasa benar-benar terpuruk.  Masa yang tak bisa kukatakan indah atau nyaman.  Karena tersiksa secara mental dan fisik.  Mengalami kesulitan tidur yang akut.  Dan penurunan berat badan yang drastis.  Ehhmmm... diet yang praktis?  Fikiran nakalku.. terus menggoda.  Ssshhhh.. don't be,  just take care your own health, Vie.. nasehat Mbak Anis yang selalu mengingatkanku untuk makan.  Demikian pula dengan Dy.  Pesan singkatnya setiap pagi selalu mengingatkan "sudah sarapan?" atau "tetap jaga makanmu yaa...."
Nyaman yaa.. jika ada yang memperhatikanmu, di dunia nyata.  Bukan adegan sinetron semata.  Tadinya kufikir potongan perhatian itu hanya ada di dunia dongeng atau dunia sinetron dan FTV.  Karena memang aku tak pernah mengalami sebelumnya.  Tapi ternyata dugaanku itu salah total.  Masih ada keindahan dunia perasaan yang belum pernah kusentuh, dan kudapatkan itu bersamanya.  Bersama Dy...

Akhirnya.. selesai juga.  Proposal penelitian yang ingin kukirimkan.  Di antara kegalauan perasaanku, semua menemukan ujungnya.
Kuambil HP dan kukirimkan beberapa pesan singkat.  Memastikan apakah akan terluangkan waktu di ujung hari ini.  Selalu merasa kurang nyaman, karena terasa banyak menyita waktu Dy.
Hhmmmhh.. terganggukah kau?  Pertanyaan itu yang hampir selalu kukatakan padanya.
Iiihh... ribet mode on deeh... Gini yaa.. kalau terganggu, aku pasti bilang kok.  Jawaban  itu pula yang selalu kudapatkan.

"Yaa.. akan ke sana."

...........
...........

Hening.  Aku tak ingin mengganggunya.  Pekerjaannya mungkin menyita waktunya.  Nanti pasti akan menghubungi aku.  Mandi sajalah...  Bersiap-siap.  Karena walau kakiku masih terasa sakit, ingin rasanya bisa menikmati hari di luar.
Langit mendung... waaahh,  mudah-mudahan tak hujan, risauku.
Sayangnya... do'aku tak terkabul.  Hujan mulai deras mengguyur.

Kalau hujan... kita buka di rumah.  Masak saja yang ada.  Pesan yang dikirimnya.
Gee.... aku pun bergegas mengeluarkan kembali apa yang sudah kubereskan.  Aku memang bukan ahli masak.. hingga hanya memasak ala kadarnya, bukan ala chef, hahahaa..
Aaiihh.. mudah-mudahan enak.

Terpaksa berjalan dengan menyeret kaki yang terasa kaki.. memang bukan hal mudah.  Terkadang kutahan sakitnya, karena memang mengundang pertanyaan banyak orang.
"Kunaon... neng.." tanya asisten rumah tangga tetanggaku.  Wanita yang berusia lansia itu masih giat bekerja.
"Aah.. teu sawios-wios.. Mak."  aku tersenyum, sambil menahan sakit karena setelah itu berusaha berjalan biasa.

Dan..
Itu terus berlanjut hingga Dy datang.  Walau akhirnya.. menyerah.  Pijatannya pun meredakan nyeri itu.
Wuiih... lembut yaa.. Hanya terdiam menerima perlakuan manis itu.  Makasiihh... Dy, ujarku.
Kemudian menyiapkan takjil karena waktu berbuka telah dekat.
Hujan masih mengguyur.

"Nanti dirimu pulang?"
"Yaa.. aku kan punya rumah..," sahutnya ringan.

Terasa perih.. yang tiba-tiba menyeruak.  Namun tertahan.  Aku sangat tahu kenyataan itu.  Tak adil buatnya, jika kuminta semua waktunya kan?  Mamanya pasti bertanya-tanya... kemana putra terganteng dan ter'unyu'nya menghilang sejak awal sahur hingga kini.  Hhhmmmmppphhf.....

"Kenapa... Vie?"
"Ga apa-apa.. nanya doang kali."  kututupi kegalauan itu dengan tawa.

Perbincangan itu mengalirlah.  Kuceritakan rencanaku, untuk melengkapi berkas-berkas persyaratan.  Yaa.. Dy memang suporter utama.  Hingga malam beranjak dewasa.

"Pulang jam berapa?  Eeeh... bukan ngusir yaa... Ga ingin khawatir, jika dirimu pulang terlalu malam."
"Hhmmm... boleh ga temanimu lagi, malam ini?," tanyanya tiba-tiba.
"Katanya...."
"Ssttt...."  telunjuknya menutup mulutku. "Aku ga bilang mo pulang jam berapa kan?  Jadi aku akan pulang seperti biasanya saja.  Akan kutemani dirimu.  Tidur sana...."

Mataku berkabut tipis.  Kutahan tangis karena haru.  Dan malam berlalu dengan perjalanan waktu yang indah.  Melihatnya tertidur di sofa ruang tamu.  Menemaniku.  Menyelipkan perasaan yang teramat indah.  Tak perlulah banyak kata yang harus diungkapkan, jika bicara tentang kasih sayang dan cinta sebenarnya.  Tunjukkan saja dengan sikap.  Lakukan saja yang terbaik, bagi orang yang kau cintai.  Tulus dan ikhlas saja.  Banyaklah memberi, bukan meminta.
Karena sesungguhnya... yang terjadi kemudian adalah keindahan yang tak pernah kubayangkan dalam hidup kami.  Waktu yang menjawab tanyaku, tentang deJa Vu itu.  Kami memang pernah saling memiliki, menyayangi dan mencintai.  Kesempatan kedua yang tengah dijalani ini... akan kumanfaatkan untuk memperbaiki kesalahan yang kulakukan padanya dulu.
Memang, kini... tak bisa sepenuhnya kumiliki Dy.  Karena kini ia telah memiliki rencana untuk meretas mimpinya sendiri.  Bersama orang terkasihnya tentu...  Bukan aku.
Tapi... jika pernah kau baca puisi tentang Cinta Sederhana... maka kalian akan benar memahami.

Cintaku sederhana saja,
Bagai kata yang tak sempat dikatakan kayu pada api yang menjadikannya abu...
Cinta itu adalah kesediaan untuk melihatmu bahagia... 
Karena buatku,  sudah cukup melihat pendar bening kebahagiaan itu di matamu.

Dy..
Di mana pun kau kini... 
Percayalah... perasaan yang dititipkan padaku ini, takkan mengganggumu.  Bisa menikmati hari denganmu, di sela-sela kegiatan dan pekerjaanmu saja... sudah menjadi anugerah terindah dalam hidupku.  
Lanjutkan saja mimpimu...
Aku akan tetap jadi teman hidupmu.  Selalu begitu... Hingga waktu berlalu di titik nadir...
Ingatlah saja malam ini tanpa henti..
Gambarkan keindahannya di kanvas fikiranmu dengan warna pelangi.
Rindukanlah..
Rindukan aku...
Bolehkah??

Keindahan tanpa jeda, dengan Cinta Putih..
@VD





Monday, July 8, 2013

DAN WAKTU.. MENEPILAH,

Lelah yang begitu menggelayut, membuatku langsung terbaring di tempat tidurku. Ugh.. rasanya damai jika ada kesempatan mendekapnya kini.  Jarak yang terbentang ini.. begitu menyisakan kegundahan yang hanya terjawab dalam kebisuan dan keheningan.  Melepaskannya bersama angin dan awan di langit yang membiru indah.

Novel yang kupinjam di Perpustakaan, langsung kubaca.  Tak ada lelah, jika aku membaca atau menulis.  Membaca akan membukakan mata hati dan fikiranku.  Dan menulis adalah gabungan fikiran, ide dan rasa hati.  Sejauh apapun aku akan melangkah, dalam buku dan tulisankulah, aku akan kembali untuk diriku.

Tak terasa.... airmata ini mulai menitik, menetes perlahan.  Melemparkan ingatan pada perjalanan sepi yang sudah terjadi setengah tahun ini. 

"Aku mungkin bukan wanita seperti kau inginkan... El.  Hanya Vie yang biasa, koreksiku dalam hati.  Tak banyak yang kupinta darimu selama ini kan?  Karena aku memang tak menginginkan apa-apa.  Aku hanya ingin kau terima aku apa adanya... Temani aku."
".........."
"Aku hanya ingin kita bisa bicara secara dewasa.  Tanpa bentakan yang biasa kau lakukan."
"........."
"Baiklah... jika itu yang kau inginkan..........."

Aku beranjak meninggalkannya yang terus terdiam.  Semua perkataan dan pertanyaanku, memang selalu dijawabnya dalam hening.  Tanpa suara.  Dulu... aku terus memaksanya untuk bisa menjawab dan menyelesaikan apa yang terjadi secepat yang kubisa.  Perbedaan karakter yang kami miliki, terkadang memenjarakan kebisuan dalam rentang waktu tanpa tepi.  Namun, kini aku tak ingin memperpanjang apa yang diinginkannya.  Karena biarkanlah.. waktu yang akan menjawab.
Kukuhkanlah kekuatan hatiku.. Yaa Raabb..  doa yang selalu kupanjatkan di setiap sholatku.  Tak bisa kupaksakan El berfikir positif terhadap semua yang kulaku dan perjuangkan ini mati-matian.  Di ujung waktu... aku hanya ingin, ia bisa menyadari.. semuanya buat kebaikan kami.

Dan waktu itu...menepilah
Inilah yang kutuliskan ketika memulai cerita ini.  Memulai perjalanan persahabatanku bersama Dy.  Di pameran buku, pada awal April tahun ini.  Aku pernah membaca, bahwa di setiap perjalanan tak pernah ada 'akhir'.  Karena ketika sampai di titik itu, akan selalu ada 'awal' baru kan..? 

---------------------------------------

Haiii... Jeeeng.  Kapan kita ngupi-ngupi laagii....

eeh.. woow, ada 4 pesan singkat yang masuk di HPku.  Aku memang hampir tak pernah menyentuhnya, ketika sedang terlibat interaksi komunikasi dengan mahasiswaku.  Komitmenku.
Aku hafal... bahasa ini.  Apakah Usi sudah datang kembali dari Paris?  Sahabat kentalku ini.... Hhhhmmmmh, aku amat merindukannya 4 bulan.  Selalu bersandar dan menepi padanya, ketika komunikasiku dengan El mengalami kebuntuan.

Dirimu sudah kembali ke Bandung kah...??
Yup.. kemarin.
"....."

Aku tak lagi menjawab pesan itu.  Hari ini aku memang sudah memiliki janji.  Menepikan hari bersamanya.  Besok sajalah.... kulihat jadwalku untuk membagi waktu dengan Usi.

"Dy... boleh mampir ke Baranang Siang kah?  Pengen beli molen.."
"Yaa.." jawaban dengan backsound yang menjadi ciri khas Dy.  Sangat kusuka.
"Makasiiihh.. " kupeluk dirinya.  Sahabat yang baaiiiikk... deehh."
"iiiiiihh.. biasa aja kalii.." wajahnya tersipu.  Dan juga kusuka itu.

Destinasi kami hari itu, hanya menepikan waktu berbincang dengan makan sate padang.  Kegemaran yang kutularkan padanya.  Geli... karena ketika kami bisa bersama di malam minggu, memakan sate ini adalah pengalaman pertamanya.  Yaa.. percayalah, ketika jabat hati itu kian melekat, perubahan dalam diri itu pasti ada.  Saling mempengaruhi.  Maka, kunikmati semua alunan irama perubahan ini dalam sisi positifnya saja.  Juga kukatakan pada Dy, always be positive.. 

Adzan Maghrib berkumandang.  Dan di bawah rintik hujan, kami bergegas menuju Masjid UNPAD.  Berpisah untuk menuju bagian yang berbeda.  Berbincang sesaat, untuk membicarakan sedikit rencana esok.  Walau pun buat kami, rencana itu selalu mendadak dan tiba-tiba. On the spot sajalah...

"Eeeh... Dy, dirimu kayak orang yang sedang wirid deh.  Goyang kanan kiri," sapaku setelah memperhatikannya dari kejauhan.
"Yeey... dateng-dateng komentarnya gitu.."
"Habiiss.... lucu tahu.."
"Setelah ini kemana.. Vie?"
"...."
Menunjuk ke arah tempat yang pernah kami datangi.
"Heyy.. ga bisa bicara yaa.." Dy protes karena aku tak menjawab pertanyaannya.
"Iyyyaa... ke Koffie Opa... yuuk."

Dy mengangguk dan menggamit tanganku.  Melangkah bersama.
Ugh... ga bisa dapat sofa euuyy..  Tempat nyaman serta menjadi favorit kami berdua.  Terasa lebih santai.  Tapi.. tak apalah.  Selama dengan berdua.. kemana pun akan tetap menarik, menyenangkan dan membahagiakan.  Itu yang selalu kami katakan, pada masing-masing kami jika terjebak dalam keluh kesah.  Selalu sepakat tentang itu.

Dan, kupilih kursi di pojok ruangan.  Dy memilih duduk di seberangku.  Sejenak menatapku.
"Pindahlah.. ke kursi yang di sini..," aku menunjuk pada kursi di sebelahku.
"Yaa... nanti."   Arrgghh... jawaban itu.  Selalu menggemaskan.  Ingin.... sstttt, nantilah kukatakan padanya.

Pesanan kami datang.  Woow.. keereen.. Mas.  Komentarku ketika melihat gambar yang ada di permukaan Chocolate Hazelnut milik Dy.  Sementara ada Teddy di Hazelnut Latteku.  Serasa membayar sepadan waktu yang cukup lama menanti pesanan itu.  Dan sengaja kupilih "hazelnut" di antara 2 minuman yang kami minum.  Ingin terasa...... (maaf yaa... Dy, rasa ini kusimpan sendiri)

"Lihat... Dy, kuambil sepotong hatimu.  Menjadi milik Teddyku.  Hehehehe... Dan.....pas!,  kusuapkan foam ke mulutku, Cobaa... deehh.  Jadi ga pahit.. kopinya.  Kita memang saling melengkapi kan..?"

Hhmmmh.. ciri khas kafe ini memang di kemurnian kopi yang diraciknya.  Tempat yang sangat tepat buat penikmat kopi sejati sepertiku.  Rasa pahit itulah...

"Yeey... ," dengan tertawa geli Dy pun  melakukan hal yang kulakukan.  Tertawa karena mendengar candaku dengan rayuan ala kadarnya.

Malam yang semakin larut, melengkapi suasana hati kami yang sering berbicara dalam hening.  Tak perlu banyak kata untuk mengerti.  Dekapan erat tangannya yang melingkar di pinggangku.  Beberapa kali ia lakukan itu.  "I missed you... atau I love you..."  bisikan yang terlontar ketika Dy memelukku, tak begitu jelas terdengar.  Biarlah... aku pun sudah tahu perasaannya.  Kulempar pandangan nanar pada langit kelam.

"Ada apa.. Vie," tanyanya tiba-tiba, membisik di telingaku.
"Ga apa-apa...." aku masih mengelak, tak ingin membuka rasa pahit hatiku.
"...."
"...."
Hening... dan akhirnya kuputuskan menceritakannya.   Kukatakan aku memilih untuk bahagia, tanpa terbelenggu kekerasan.  Karena memang itulah aku.  Tough outside.. but fragile inside. 
Kepahitan itu kulepaskan di malam pekat ini kembali... walau hanya di jawab dalam kebisuan yang teramat panjang.

"Makasiihh yaa.. ayy, untuk semuanya," aku memeluknya erat.
Mengakhiri pertemuan dengan manis.   Aku sekarang sudah sangat terbiasa dengan panggilan itu.  Panggilan yang selalu buatku tenang dan omenjadi orang yang paling bahagia, jika dilakukannya.

"Boleeeh....," tanyanya lembut.
"......" aku mengangguk saja, mengiyakan.

Dan kecupan lembut itu pun mendarat di pipiku.  Ia selalu takut melakukan itu, tanpa seiizinku.  Takut ditonjok atau ditampar.  Ugh.. aaarrgghh, tak mungkinlah aku bersikap senegatif itu padanya.  Maka walau telah berulang kali kukatakan,  Dy selalu ragu.
Eeehhhmmm... lakukanlah Dy.  Sesering yang kau mau... bisikku dalam sepi.
Semua itu akan memendarkan cahaya kecil, dalam hidupku.  Bagai kunang-kunang.  Tak perduli sekecil apapun itu, cahaya itu tetap penting buat kehidupan milikku yang sering ada di kelam malam, walau siang sekali pun.  Dan..... aku pun melakukan hal yang sama.  Hanya dengan sangat halus dan lembut.  Mungkin ia pun takkan pernah menyadari itu.  Seperti dulu.... hhhmmmmhh... biarlah.

Ternyata dugaanku benar.  Dy tak menyadari itu.  Hal manis yang kulakukan untuknya.  Waah... rupanya aku harus melakukannya with his permission.  Tertawa geli... namun memang menjadi tertantang ketika membaca pesan singkatnya semalam.

"Aaahh... kau pun hanya terdiam saja.  Ga merespon.."
"Aaiihh... ga sadar yaa.."
"Ngga.." tegas Dy, dan kemudian terlelap.

Hhhmmmhh... ugh.. baiklah, tunggu besok.. Dy, janjiku dalam hati.


----------------------------


I'm blue.... (baca: aku sedih).  Ungkapan itu mungkin sangat tepat menyamarkan perasaanku.  Tak banyak yang fahami itu.  Kekerasan itu... aargghh, aku ingin itu berubah.   Yaa Rabb, beri aku kekuatanMu.  Melalui perjalanan ini dengan iramanya.  Life is never flat.

"Vie... sudah sarapan?" tanya Dy.  
Hal lain yang kusuka darinya adalah membagi kedisiplinan makan.  Hal yang teramat butuh 'energi' bagiku.

"Ini sedang sarapan.. Dy.  Nasi kuning.  Kemarin kan seharian ga makan nasi.  Karbo-nya dari jenis makanan lain."
"Good job......"
Yaa.. jika kau tahu, aku sangat menjaga asupan makanku.  Walau memang kurang teratur... hehehehe...  Teman SMA, kuliah... selalu ilfil jika sudah kuceramahi tentang hal ini.

Vie, come on.. kayak badan lo sebesar apa siyy.  Sok diet segala.
Yee.. bukan diet atuuhh... saayy.  Ini mah 'makan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.'

Itulah aku.  Vie yang sederhana dalam rasa.  Ribet dalam tindakan.  Yaa.. tapi, apapun itu yang ingin kau katakan, untuk gambarkan diriku.. whatever!  Senyum tetap mengembang.   
It's still me.. happy go lucky person.
 
Haayyy.... listeners, laaamaa ga ketemu Vie yaa??  Kangen siiyyy... maka nikmatilah "Ruang Rindu-Letto". Ga apa-apa kan...

Akhirnya,  pagi ini aku kembali bisa siaran juga.  Mbak Anis dan Mas Pranoto, memang mengizinkanku untuk menenangkan diri.  Selama yang kumau.  Take your time... Vie.  Itu pesan mereka dulu.  Posisiku digantikan sementara oleh penyiar freelence lainnya.
Sssttt... walau akhirnya berujung ketidakpuasan pendengar.  Ingin Mbak Vie yang siaran.. Mbak Anis.. begitu SMS yang banyak masuk.
Yuup... walau aku sloppy, suaraku tetap empuk loohh... Seperti Terderloin Steak.  Jiaaah... hahahahaha..
Tapi benar kok.... Aku memang selalu dinanti pendengar-pendengar setiaku.

"Dy.. sudah selesaikah?"
"Vie.. sepertinya ga jadi pulang cepat.."
"Ok.. ga apa-apa.. Dy.  Aku ke Usi yaa... kalau butuh aku kontak saja."
"Baiklah... tetap jaga makanmu yaa.."
"Ok.. bersama Usi, makanku pasti terjaga.. aayy."

Pesan yang manis dan penting.. bagi orang sepertiku.  Yang sering melupakan pentingnya makan.  Dengan lompatan aktifitas yang padat.  Itu yang selalu kupelajari dari Dy.  Keberadaannya memang penting.

Kulompati waktu dengan cerita yang panjang dengan Usi.  Dari judul proposal penelitian, hingga masalah yang kuhadapi kini.  Aku pun belajar darinya.  Aku memang senang belajar dan 'open minded'.  Belajar dari siapa pun dan apa pun yang ada di sekitarku.  Rasanya tak akan pernah cukup waktu bagi kami...

Mo ikut ga?  Tiba-tiba Dy mengejutkanku dengan SMS.  Aku bingung.
Maksudnya?
Aku bisa pulang cepat.. tapi harus ke Pasteur dulu..
Jadi..
Mo ikut ga?

Kutatap Usi yang masih asyik bercerita, menjelaskan perjalanan waktunya di belahan Eropa itu.  Tempat teromantis di dunia ini.  Oohh....hhmmmm, well, I love you.. Dy and Usi also, maka... aku harus membaginya secara adil.. gumamku lirih. 

"Eeemm, mo ketemu ga?"
"Dy, aku pengen ketemu.  Tapi bisa ga.. dirimu selesaikan dulu ke Pasteur.  Ketemu di TSM." putusku.
"Baiklah.. choose the place.. k?"
"kay... ayy."

Begitulah.. waktu yang semakin memenjarakan kami di kebersamaan yang sangat indah.  Tepian waktu yang kupilih memang yang memiliki Bandung's Night View.  Sedang ingin melepas semua rasa di ketinggian.
Kami tetap mendapatkan tempat favorit kami.  Ada bangku panjang.  Kakiku kemudian kuangkat ke atas, karena dingin.  Dan itu tak berlangsung lama, karena sejurus kemudian sudah kutumpangkan di pangkuan Dy.

Ada getar HPku.  Dy mengingatkanku.
"Vie.."
"Ga.. aku sedang ga ingin angkat itu," tegasku.

Kulakukan itu karena kulihat nama El yang tercantum di sana.  Aaah.. jika cinta ibarat air, maka aku pun memiliki hak untuk menghentikan alirannya agar tak sia-sia.  He should be forgotten, not forgiven.

Ugh.. sekejam itukah diriku kini.  Yang kuinginkan....
Aaarrgghh.. 'ntahlah, aku tak tahu apa yang kuinginkan kini. kutatap nanar kilauan lampu yang perlahan menyala satu per satu.  Bagai sekelompok kunang-kunang.
Setelah itu.. kutatap Dy.

"Kenapa?" tanyanya kikuk, karena  tatapanku.
"Gemess... lo belum pernah gue cium yaa..?  May I kiss you.. Dy?" 'innocent'... aku langsung meluncurkan kalimat itu.
"Iyyy... apaan siiihh, Vie?"
"Yee... kulihat pipi merah di sini..."  Kupegang pipinya dengan kedua tanganku.  "Dirimu bilang kemarin, aku cuma diam saja.  Tak merespon apa-apa ketika kau lakukan itu kan?" berondongku lancar.
"Emang dirimu ga melakukan apa-apa.. kok."
 lah.."  aku katakan itu dengan terus menatap wajahnya.

Jiaaahh... bukan hanya memerah, tersipu... atau apa pun itu...  Dy benar-benar mati kutu!

"Waah.. skak mat deeh gue.."  katanya kemudian.
"ck" hahahahahahah.... aku tertawa lepas.
"Aku seriiiusss.. Dy."
"......"

Setelah temaram senja, masih berbincang hangat dengannya.  Tiba-tiba.. Dy menelungkupkan wajah di pangkuanku.  Aku memang sedang meletakkan kakiku di bawah kaki meja.  Satu tanganku memegang wajah dan menelusuri setiap lekuknya.  Sementara tangan lainnya, tetap membelai rambutnya.  Hmmmm...aku sangat menikmati momen itu.  Selalu menyukai dan menuliskannya di setiap tulisanku... kan?
Akhirnya..

"...."
"...."

Hening saja.  Hanya terdengar suara pengunjung lainnya.  Mungkinkah ia tertidur? tanyaku.  Dan kubiarkan itu. 

"Hmmm.... enak Vie.  Nanti.. aku mo tidur lagi di pangkuanmu."
"Eeeh.. tadi beneran tidur?" tanyaku tak percaya.
"Yaa.. sempat terlelap, daa.."
"really?"
"Iyyaa.."

Dan sepanjang malam itu, Dy terus menyatakan keinginannya itu sebanyak 5 kali.  Begitu tegasnya keinginannya itu.  Baiklah... kau boleh lakukan, kapan pun kau inginkan itu.. Dy, bisikku padanya.

Hingga saat yang kuimpikan itu tiba. Sejak semalam, aku berkata pada diriku,"Dy.. if you give me the chance, I'll kiss you..really."

Melepasnya pulang, mendekapnya erat.  Ketika dikatakannya "boleh..?" seperti biasa.
"..." heningku, mengangguk saja.

"May I......"
"Yaa..." jawabnya seolah tahu apa yang ingin kulakukan.

Hmmmhh.. akhirnya mampu kulakukan itu.  Tetap dengan lembut.  Itulah sebenarnya aku.  Seolah terbang melayang sesaat.  Berusaha keras tak terjatuh.
Ini.... nyata lohh!  Aaiiih.. sekejap aku terkesiap.  Phobiaku... Ugh, ternyata.. tanpa sengaja aku melakukannya terlalu dekat dengan...  tidak tepat di pipinya.  Tapi.. jujur, kusuka!
Yaa.. sudahlah..  Nanti aku akan minta maaf padanya.  Takut tak berkenan di hatinya.

Hhhmmmmmmhh... hela nafasku yang panjang.
"Nite.. Dy.. Take care yaa.."
"Hahaha.. kayak habis lari siiihh, meni narik nafas panjang giituu.." ledeknya.
"Aah.. sudahlah... hati-hati!"

Aku melangkah ringan.  Impian itu melambunglah... walau aku belum terlelap.

Paagiiii..
Ketika kutuliskan ini, rambutku masih basah.  Terpekur sejenak, mencerna apa yang terjadi.  Maka kuketikkan maaf padanya.  Dan tahukah....

"Aku menikmati semua momen yang terjadi hari ini... Vie."
"Really... Dy?"
"Yaa... Sangat suka dengan setiap momennya."

Eehmmm... Dy, tahukah kau..
Jika kaki ini mulai menapak di tepian waktu.  Semua memang 'nyata' terjadi.  Perjalanan ini adalah pelangi rasa yang amat kusyukuri.  Kerinduan yang selalu kau ungkap jika batasan ruang dan waktu membelenggu, pun sama terjadi.
Hanya... hening dan diamku, karena kutahu...
Kita memang 'sahabat hati',  dan kufikir perasaan kita telah sangat dekat.  Hampir semua kita bagi di keseharian.  Cerita, rasa, dan bahkan rahasia.  Mungkinkah kini terbagi sayang, kasih dan cinta itu?  Memang tetap bertahan saja dan tak perlu harus termiliki.

Jika kutanya Bulan dan Bintang yang sering menemani... di langit kelam, ataupun pesawat yang selalu menjadi bahan candaan kita.  Semua akan menjawab dalam keheningan.  Terjawab di kebisuan saja.

Maka benar yang ingin kukatakan kini.. Dy,
Dan waktu itu... menepilah.






Wednesday, July 3, 2013

SURAT UNTUK SAHABAT HATI (LAGI)

Menembus batas ruang dan waktu

Di hening malam ini aku masih terjaga..
Menemaninya terlelap di pangkuanku.  Kantuk yang mulai menyergap, tak bisa mengalahkan kedamaian hati untuk sebuah kesempatan melihat wajahnya yang damai.  Sesekali ku usap rambutnya.  Perlahan dan lembut saja, karena takut bisa membuatnya terjaga. Kutahan lama hasrat mengusap pipinya.  Pun juga keinginan untuk mencium pipinya.  Dan kemudian berbisik mengatakan oyasuminasai.. ureshii yume dan aishiteru...
Nanti sajalah..

Gee..
Wajah inilah yang selalu membuatku tak bisa berhenti memikirkannya.  Begitu mataku tertutup pun, sekelebat wajahnya langsung hadir nyata.  Bagai kunang-kunang yang terus menemaniku.  Menembus pekat malam cita-cita.  Melesatkannya di ketinggian angkasa mimpi.  Memendarkan cahaya yang terang, di jalan kehidupan yang kumiliki.
Hampir tak pernah kulepaskan waktu tanpanya.  Malam inipun, aku hanya ingin menemaninya.  Mendekapnya.  Seraya berupaya keras menggenapi kesempatan yang ingin kurengkuh.  Kehadirannya kini, benar menguatkan langkah kakiku.

Masih jelas terasa, hangat dekapannya kala menepi di tepian sawah.  Menatap kilauan lampu-lampu di kejauhan.  Kecupan lembut di pipiku, pun terasa teramat manis.  Ketulusan.  Kedamaian.  Sederhana saja rasa ini.  Selalu kutemani, bisiknya di setiap waktu, di telingaku.  Selalu tergiang hingga kini.

Dy..
Sahabat hatiku ini, terpulas dengan tenang.  Teramat tenang. Itu pula yang membuatku banyak belajar dengan pola komunikasi yang digunakannya.  Hanya di nada do hingga fa.  Maka kelembutannya itu pun kian terasa nyata.  Ketika terkadang menemui kebuntuan.  Namun memang itu hampir tak pernah terjadi.
Hhhhmmmmmhh... hela panjang nafasku sedikit kutahan.  Takut membangunkannya.  Kupegang tangannya, sementara tanganku yang lain terus mengalirkan kata dalam tulisan ini.  Aaaiih.. walau masih terpulas, tanganku pun digenggamnya.  Makasihh.. Dy, untuk semua kesempatan dan waktu yang terbagi bersamaku.

Dy,
Di antara lelapmu kini, di tengah mimpi yang kau punya, kutuliskan ini.  Hanya untuk menguraikan kegelisahan yang terlihat benar padaku malam ini.  Walau hanya sesaat, dan terketik dengan satu tangan.  Itu takkan mengurangi apa yang ingin kuungkap.
Memang selalu tak mudah buatku, mengungkapkan secara langsung.  Bertahun-tahun semua tertelan di keheningan dan kebisuan hari.  Terpendam sendiri.
Yang kutahu, sebelum pindah ke kota ini, aku tak begitu.  Maka biarkan saja aku belajar darimu kini, bagaimana menyampaikan apa yang kurasakan kembali secara lugas dan langsung.

Sahabatku,
Izinkan kutitipkan sejenak lelah yang kumiliki, pada angin malam, langit kelam dan titik-titik embun yang mulai membulir saja dulu.  Aku hanya tak ingin membebanimu dengan apa yang kurasakan.  Biarkan sejenak aku menikmati  tepian hari ini, dengan perasaan ringanmu.  Tanpa tatapanmu dengan kabur yang samar kulihat.  Kini.. lebih ingin duduk dan bercerita ringan saja.  Boleh yaa..??

Menemanimu tertidur kini, benar membukakan mata hatiku.  Menyadarkanku.  Bahwa di banyak tepian waktu yang kita lewati, sebagian besar kau lalui untuk mendengarkanku saja.  Good listener.  Itulah dirimu.  Hampir tak pernah kudengar keluh kesahmu.  Ceritamu.  Kau selalu sebarkan cahaya saja.  Seperti kunang-kunang.  Tanpa lelah dan letih yang menggelayut.  Kalau pun ada, kau hanya lepaskan itu dalam hening.
Katakanlah.. jika itu menjadi salahku.  Karena mungkin terlalu banyak waktu bicara yang terambil olehku.  Yang menjadi tanyaku kini... Apakah kau nikmati waktu yang terlewati, jika hanya mendengarkan aku yang sibuk mendominasi pembicaraan?
Aaarrrgghhh.... sesal itu mulai menyesak.  Walau sejurus kemudian, aku pun berfikir, bisakah ku sedikit terdiam mendengarkan?  Huuuft... Come on.... Belajarlah segera.. Vie.

Vie... harusnya kau temui dokter.  Tak seharusnya kau forsir waktu dan tenaga untuk menenggelamkan masalah yang kau rasakan.  Fisikmu dan fikiranmu pun butuh tidur dan istirahat.  Tergiang pesan itu dari Ibu.

Dy,
Mungkin itu salah satu fakta yang tak pernah kuungkap padamu secara gamblang.  Memang kuberitahumu tentang apa yang kualami.  Hanya... beberapa kusimpan sendiri.  Tak berniat buruk, aku hanya ingin melepaskan apa yang kurasakan ini, bersama dengan waktu.  Maafkan untuk itu....
Obat itu ada di dalam diri dan fikiranku.  Percayakah dirimu...jika bersamamu kudapatkan penyembuh non medis.  Dan itu sebenar-benar penawarnya.  Lebih mujarab dibandingkan obat yang dokter yang kuminum.

Maka jika pesan singkatmu "Mau ketemu hari ini?", akan selalu bingung kujawab.  Kenapa?  Buatku, pertemuan denganmu, sesingkat apapun itu, akan memangkas ranting penyakit dan gundah yang kurasakan.   Selalu membuatku senang.  Tapi.. aku tetap tak bisa menghendaki itu,dan terus mengikatmu dalam aliran hidupku tanpa henti.

Dan ketahuilah... Sahabatku,
Jantungmu.... nafasku.  Adalah sebuah alasan, kenapa itu selalu kulakukan jika ada kesempatan di dekatmu.  Mendekapmu.  Ku ketuk itu... agar tak henti berdetak.  Eeeeww.... jika kau tahu, tanganku selalu bergetar ketika melakukan itu.  Dan.. hal itu sangat kusuka.

Jutaan detik, ratusan ribu menit, puluhan ribu jam.... berlalu dengan tepian yang indah.
Membatasi waktu dengan cerita yang terkenang di dalamnya
Kehangatan jabat hati yang ada... mulai menyerap dalam pembuluh darah dan merasuk dalam sunsum.  Berdiri dalam sebuah kenyataan itu, mulai menegaskan kekuatan hati yang akan dibutuhkan nanti......

Dan waktu pun terasa berlari......

Sahabat hatiku,

Kegelisahan itu hadir di hati.  Menyusup di lipatan kalbu.  Akan mengantarkanku terdiam di batasan waktu.  Terdekap di ruang rindu.  Hingga terduduk di di teras jiwa.  Menuliskan ini dalam keheningan dini hari.  Ditemani kucingku dan sepi.  Terkadang.. memang selalu kugigit jariku.... untuk kurangi rasa itu.
Hhhmmmmhh... untung tak dilihatnya kebiasaanku itu (lagi).

Kuhentikan ketikanku sesaat.  Memandangi lagi wajahnya.  Betapa.... ingin kukatakan itu.
Hmmmmh... masih terpulaskan dirimu.  Dan perlahan.. kuraih bantal di dekatku.  Memindahkan kepalanya sangat perlahan. Eeww.. ia bergerak.. dan kuusap perlahan punggungnya.. agar tetap terlelap.
Huufft.. syukurlah..  Tak tega membuatnya terbangun.  Kuluruskan kaki.  Kesemutan.
Kemudian,  aku merebahkan diriku sesaat di sampingnya.  Kembali memandangi wajahnya.  Ceeess.. kedamaian terasa menyusup di relung jiwa.  Sejuk.  Bagai embun di pagi hari.

Yaa Raabb... betapa tak terhingga berapa kali....kupertanyakan ini pada-Mu, untuk titipan rasa yang semakin lekat kini.  Masih tak mampu membuka mata hati, menerobos ilmu-Mu.  Menguak tabir rahasiaMu.

Sesaat..
Ingin memejamkan mata.  Masih berbaring di sampingnya.  Menatapnya sejenak sebelum menutupkan kelopak mata.  Tetap terbayang wajahnya, walau terpejam.  Mencoba mencari ide untuk mengalirkan tulisan di proposalku.  Bukan tertidur.  Aku selalu melakukan itu sejak kecil.  Hingga kemudian... ide atau lukisan itu muncul di alam bawah sadarku.  Lalu biasanya aku akan terbangun, meneruskan kembali apa yang sedang kukerjakan.  Dan... suuperr.  Hasilnya pasti sempurna.   Selalu kukatakan itu pada mahasiswaku, ide dari sidratul muntahaa.  Alloh SWT memang Maha Pemberi Ilmu, bagi hambanya yang teguh mencarinya. Tak berputus asa.

Man jadda wajada... wa man saaro 'alaadharbi washola..

@ 02.30 dini hari,  aku membuka mata.
Yayy! Membuka lembaran formulir yang harus kuisi.  Menatap (lagi) wajah damai yang masih terlelap menemani.  Duuuh... makasih Dy, untuk kesediaan terus menemani, bisikku lirih.  Hal mahal yang tak pernah kudapati.  I'm single fighter.
Nampaknya tak mungkin pula kuretas proposal itu.  Memundurkan langkahku sejenak, untuk bisa mengambil nafas, dan meneruskannya sambil berlari maju.
Fikiranku tengah mengembara di lautan tak bertepi dan hutan belantara yang teramat lebat.  Tak mampu aku berenang (karena memang tak bisa gaya renang apapun, kecuali gaya "batu".. hehhehe), ataupun menebas ilalang setinggi badanku, membuka jalan setapak ide.

Yang ingin kulakukan kini, hanyalah mendekap badannya.  Menghangatkan pikiranku.  Mengisi energi tubuhku, untuk mengurangi rasa sakit di perut sebelah kanan.  Terasa seperti tersayat silet.  Mungkin benar, nasehat adikku, sebaiknya aku harus menyisihkan waktu untuk memeriksakan serius kondisiku.  Baiklah... akan kulihat jadwalku, janjiku dalam hati.

Dan... Dy,
Percayalah..
Yang kurangkaikan ini, (hanya) untuk coba mengurai benang kusut kegelisahan yang memenuhi hati.  Hal yang aku sendiri belum bisa memahaminya.  Hingga selalu kelu untuk bisa berbincang denganmu langsung.  Satu yang pasti...
Jika aku bisa terduduk sendiri, terdiam..   Kalimat itu mengalir.. tanpa "ini" dan "itu"... "begini" dan "begitu".  Kerumitanku.. seperti yang kau keluhkan.  Bukan dirimu saja yang melakukan itu.  Pembimbing Akademikku pun melakukan hal yang sama.  Begitu kegelisahan menyeruak muncul di permukaan, kecepatan bicaraku tertinggal jauh dengan kecepatan berfikir otakku.
Yaa.... menyederhanakan fikiran itu mungkin selalu tak terlalu mudah kujalani.

Mungkin...
Karena sebagian besar fikiranku, menolak untuk membagikan keresahan yang kurasakan padamu.  Karena setiap melihat wajahmu,  selalu kulihat kabut menyaput tipis di matamu.  Teramat tipis.  Yang kuyakini, sengaja kau sembunyikan itu, karena tak ingin merepotkan siapa pun.. Kutahu,  kau pun selalu berbicara di keheningan pula.  Kesunyian jiwa.  Melemparkan resah di pekat malam atau langit kelam.  Membuangnya di antara keindahan sunrise atau sunset yang menjadi destinasi kita. 
Menerimanya dengan kelapangan hatimu.  Kesabaranmu.  Dan itu yang banyak kupelajari darimu.
Pola komunikasimu benar membuatku tenggelam di kedamaian fikiran dan jiwa yang luar biasa.

Sahabat hatiku,
Sudah hampir satu minggu, tiada malam yang terlewati tanpa mimpi tentangmu.  Hampir tak pernah mampu kuceritakan kembali padamu secara utuh.  Rangkaian ceritanya.  Maaf kembali untuk itu... yaa..
Yang terasa.. kehangatanmu, baik di mimpi-mimpi atau nyata.  Sebagian lagi.. terdapat perjuangan.  Yaa... Kehidupan itulah perjuangan.  Dan dalam hidupku, di alam sadarku, kau pun ada di ruang itu.
Di ruang lain, selain ruang rindu.
Mungkin.. baru kemungkinan..  kehangatan yang kau bagi, selalu terasa menembus derasnya hujan, ataupun dingin malam.  Tertinggal di dalam hati, melekat di permukaan kulit, menyerap dalam di kemurnian perasaan. Terasa kembali di ruang mimpi.  Menghadirkan (selalu) kerinduan tanpa tepian waktu.

Dy..
Yakini.. ketika kusandarkan kepala di punggungmu semalam, dua jam sebelum kau terlelap kini, (benar) kudengarkan nyanyianmu.  Entah dari hati, fikiran atau....
Hhhmmmmhhhh... merdu walau mengalun lirih.   Seperti jawaban dari do'a-do'a.  Punyaku.
Dari banyak kesempatan yang kau berikan padaku untuk melakukan itu, tadi memang seperti membukakan misteri yang selalu kutanyakan di keheningan seperti saat ini.

Kesempatan yang kumiliki kini, mengantarku untuk bisa memanfaatkan waktu.  Menutup hari yang telah berganti dini hari, dengan mengecup pipi dan membisikkan lembut "I love you... Dy." di telinganya.  Membuka gerbang alam bawah sadarnya.   Hingga walaupun terlelap, kuyakin ia mampu mencerna dan mendengar barisan sayangku itu secara nyata dan jelas.

Yaa Rabb.. Terimakasih untuk hari ini.  Kesempatan satu hari lagi bersamanya.  Merasakan kemurnian keikhlasannya.  Uluran kedamaiannya.  Dan menyelimutiku dengan kebahagiaan.  Serta izinkanku untuk bisa tersenyum menutup hari, dengan syukur dalam genggaman tangan.  Seiring degup jantungnya, yang menjadi nafas dan kekuatanku.  Amiiinn.

@Dy.... di kebahagiaanku tanpa tepian waktu