Nuansa
Berjalan berdampingan di atas segala perbedaan, terasa tak mudah (memang)... Tetap mampu berdiri sendiri, (namun) terasa rapuh jika berjalan tanpamu... Always a reason behind something... #SahabatSejati

Tuesday, September 10, 2013

CINTA MELAMPAUI MASA




ULASAN BUKU:


Buku ini berasal dari kumpulan cerita dari KISAH (Kontes Inspirasi dan Harapan) 2009, yang diterbitkan oleh Esensi (Erlangga Grup) ini dilengkapi prakata yang tersadur dari tulisan Kahlil Gibran:


"Bila cinta mendatangimu, ikutilah dia walaupun jalannya sulit dan terjal dan ketika sayapnya mengembang mengundangmu, datangilah walaupun pedang yang tersembunyi di antara ujung sayapnya dapat melukaimu."


Setiap untaian cerita perjalanan cinta di kehidupan nyata, memang hampir tak selalu seindah dan sesempurna cerita yang sering terlihat di layar kaca.  Hmm... walau hidup tanpa cinta, memang benarlah seperti sayur tanpa garam.  Oleh karenanya, Cinta tetap menjadi harapan di kehidupan manusia.  Dan memang tak selamanya berakhir indah, 'tak harus saling memiliki' dan melampaui banyak ujian. 

Hal yang paling menarik jika anda membaca buku ini adalah keaslian cerita-ceritanya, karena berdasarkan pengalaman nyata yang ditulis apik oleh penulis-penulis baru berbakat.  Di sinilah, anda bisa menggali pengalaman hati agar selalu dapat mensyukuri cinta di kehidupan, apapun cerita yang dibawanya.

Buku ini terdiri 10 Bab:

Bab 1
Tiga Sungai Utama
Andriani S. Kusni
Bab 2
Jejak-jejak Takdir
Made Teddy Artiana
Bab 3
Pasir di Telapak Tangan
Tita Alissa Listyowardojo
Bab 4
Abrasi
Riawani Elyta
Bab 5
Bunga Kaca
Bayu Gautama
Bab 6
Cintamu Tanpa Cacat
Joko Slamet
Bab 7
Hanya Cinta Biasa dari Orang Biasa
Asa Mulchias
Bab 8
Kisah Cintaku Tak Berujung
Isti Kumalasari
Bab 9
Romansa Tiga Dasawarsa
Lia Indriati
Bab 10
Untung ada Bintang
Maria Silvia Merry

Bab 1
Tiga Sungai Utama
Perjalanan pencarian cinta yang luar biasa, berujung pada ‘soulmate’ yang datang dari sisi yang tak terduga, dengan cara yang tak biasa. YM.  Yaa.. dunia maya mempertemukan dua insan yang menjadi belahan jiwa.  Perbedaan usia, masa, dan karakter tak bisa menjadi penghalang.  Karena cinta tak pernah mencari kesempurnaan.  Rekaman jejak perjalanan cinta mereka terabadikan dalam puisi-puisi yang disertakan penulisnya.  Sangat indah dan manis.  Mengharu biru. Yaa.. cinta memang selalu bisa membuat dunia begitu berwarna.

Bab 2
Jejak-jejak Takdir
Kisah cinta sejati Eyang Kakung dan Eyang Putri yang dituturkan oleh cucu mantu.  Perjalanan yang luar biasa.  Menuntaskan perbedaan status yang selalu menjadi ‘tanya’ yang tak berujung.  Bisa menghadirkan kelokan tajam dan onak di satu hubungan.  Kesejatian itu hadir di dalamnya, ketika hanya maut yang mampu memisahkan.

Bab 3
Pasir di Telapak Tangan
Perjuangan seorang wanita yang meretas mimpi dengan menepis keras keinginan ‘terikat’ dalam mahligai rumah tangga.  Namun, cinta tetaplah bunga kehidupan yang indah, hingga mempertemukannya pada perjalanan cinta yang manis.  Hanya jika landasan yang menjadi dasar adalah pasir, maka cepat atau lambat, karamlah perahu cinta itu.  Sikap yang bijak ditunjukkannya dengan mengatakan bahwa ikatan keluarga adalah cinta yang melampaui masa.  Indah kan?

Bab 4
Abrasi
Cinta.. keindahan yang selalu menuntun setiap anak manusia untuk meretas rasa hatinya.  Pengorbanan tentu harus bisa dimaknai dengan ketulusan di semua hubungan.  Dan memang harus dilakukan oleh kedua belah pihak yang terlibat.  Karena jika hanya dilakukan oleh satu pihak saja, maka perlahan perahu itu akan tenggelam dan karam sebelum berlabuh.
Hmm.. perjalanan cinta yang mampu mengajari tentang hidup dan kehidupan.

Bab 5
Bunga Kaca
Perjuangan untuk menemukan orang yang ‘tepat’ sebagai partner menempuh hidup, memang membutuhkan waktu.  Terkadang ada yang tak membutuhkan itu.  Namun sebagian lagi, harus terjatuh dan kembali bangkit memperjuangkan apa yang diyakininya.  Dalam kisah ini, tanjakan terjal dan jalan yang berliku, diretas dengan keyakinan yang teramat kuat, walau pun pecahan bunga kaca cinta itu benar melukai.  Kesabaran jua yang menuntun doa yang dijawabNya.

Bab 6
Cintamu Tanpa Cacat
Banyak yang selalu melihat kesempurnaan manusia dari fisiknya.  Menilai isi buku dari sampulnya.  Kisah ini mewakili sebuah kesempurnaan hati dan cinta Mas Joko untuk tetap berkarya di keterbatasannya sebagai disable.  Cintanya begitu tulus, mampu mengilhami anda yang terpuruk.  Karena bagi Tuhan, semua makhluk diciptakan dengan keistimewaan yang melengkapi ketidaksempurnaan.  Sempurna adalah milikNya saja.

Bab 7
Cinta Biasa dari Orang Biasa
Seringkali kita lebih melihat keindahan yang tak termiliki di tempat lain.  Padahal apa yang telah hadir, adalah sebaik-baik tempat menurutNya.  Kisah ini menuntun anda untuk mengerti bahwa memberi jauh lebih baik dari pada menerima.  Mencari lebih baik dari pada meminta.  Menjadi pahlawan bagi hidupnya, dan pahlawan bagi dirinya sendiri.  Karena kita memang hanya manusia biasa.

Bab 8
Kisah Cintaku Tak Berujung
Perjuangan cinta selama 10 tahun yang harus terpisahkan tanpa ujung bahagia.  Persetujuan orangtua yang menjadi dasar penolakan dan penerimaan pasangan hidup memang harus dijadikan tolak ukur untuk memudahkan perjalanan di masa depan.  Walaupun tanpa ujung, cinta adalah ketulusan.  Hingga jika itu telah hadir, maka keindahan rasa akan tersongsong dengan indah di masa depan.

Bab 9
Romansa Tiga Dasawarsa
Dalam kisah ini, perjuangan seorang gadis dalam meretas masa depan yang lebih baik, mengantarkannya pada kesejatian cinta yang memang harus diperjuangkan.  Tak ada  yang mudah dalam hidup, namun bukan berarti tak bisa dijalani dan dihadapi.  Jika semua rintangan tetap dijalani dengan kesabaran dan senyuman, romansa itu menjasi bunga ‘syukur’ yang indah yang bisa diteladani generasi penerusnya.

Bab 10
Untung Ada Bintang
Memang tak mudah menentukan “soulmate” yang tepat dalam hidup.  Ibarat sedang berada di toko serba ada, seringkali tergoda untuk memiliki semuanya.  Namun hakikatnya, semua pilihan akan terlihat begitu ‘sempurna’ jika hanya berdasarkan emosi sesaat.  Jatuh dan bangun adalah hal yang wajar dalam hidup.  Yakini saja.. selalu ada Bintang yang selalu menerangi jalanmu.

Yakinlah.. jika anda memiliki waktu luang (walau sebentar), buku ini akan memberikan 'makna' yang mampu memompakan semangat menghadapi hari dengan Mentari pagi dengan senyum.
Selamat membaca dengan CINTA di lembaran hatimu!

CINTA DI KEHENINGAN



Tuhan,
Pertemuan ini bermula di keheningan malam,
Manakala kelelahan bermuara di peraduan,
Sungguh..
Pertemuan yang [biasa] saja.

Tuhan,
Jika kemudian menjadi pertemuan yang luar biasa,
Yang kuyakini..
Itu adalah takdir yang harus kujalani,
Karena tak saling mencari dan menemukan.

Tuhan,
Izinkan aku bertanya banyak hal,
Kali ini..
Karena kegelisahan ini kian tak bertepi,
Biduk hatiku semakin limbung,
Bagai terkaram di pelabuhan yang tak landai.

Tuhan,
Yang kuinginkan sederhana saja...
Hanya tepian hati dalam bilik ketenangan,
Yang tak terjebak di kesunyian jiwa,
Terus dapat merasakan kedamaian yang memeluk erat.

Tuhan,
Apakah Kau izinkan...
Sahabat Hatiku tetap berkenan menemani langkah hening,
Dengan tangan yang selalu memegang,
Manakala aku kehilangan arah dan tersesat?

Tuhan,
Bilakah Kau izinkan..
Teman jiwaku (selalu) dapat menepis kerinduan,
Yang sering menjebakku di keramaian,
Jika aku tak mengerti perasaanku sendiri?

Tuhan,
Yang kutahu..
Perjalanan waktu sepenuhnya dalam putaranMu,
Pergulatan jiwa ada dalam pengertianMu,

Maka..

Tuhan,
Dapatkah kali ini..
Aku memohon di setangkup do'a,
Kau tepikan masa di kedamaian,
dan muarakan rasa di kesejatian?

Tuhan,
Mampukah aku tanyakan..
Apakah kegundahan ini berasal dari rasa yang serupa,
Kegelisahan yang setara,
di keheningan awal yang sama,
antara Aku dan Dia?

Tuhan,
Ampunilah aku..
Jika kuteteskan airmata,
Memohon kekuatan hati,
Menjalani hidup dalam kelapangan.

Dan..

Tuhan,
Berikanlah kesempatan (lagi) bagiku,
Di setiap ujung hari yang terlewati,
Menemaninya (selalu) dalam dekapan keheningan,
CINTA tanpa rangkaian kalimat,
Namun ADA dan TERASA tanpa jeda,
Walau dalam kebisuan.

<jikapun kau rasakan, dekaplah [aku] erat>
</damaikan>


Sunday, September 1, 2013

[Masih] SURAT UNTUK SAHABAT (lagi)..



Paagii Mentarii....

Tahukah kau... Dy,
(hhmmm... bolehkah kupanggil  dirimu “Ayy” saja??)

Setiap kau ketikkan ini melalui pesan singkat elektronik, selalu menghadirkan getaran rasa yang luar biasa dalam hati.  Membangkitkan semangat kebahagiaan menjalani hari.  Seperti sentuhan-sentuhan lembutmu ketika kita bertemu di sela kesibukan kita beraktifitas, menepikan waktu bersama...
Keindahan tanpa jeda...

Kini...
Aku selalu berlari, berusaha melepaskan diri dari kenyataan pahit.  Tenggelam di kesibukan membaca dan menulis.  Berusaha memahami makna dalam setiap kejadian dengan ketulusan hati.

Ayy,,
Di antara airmata yang kuikhlaskan untuk menjalani tahapan hidup dengan mengalir (hidup tak pernah mudah... katamu dengan bijak, menghiburku).  Sangat ingin menyandarkan kelelahan yang kini kurasakan.  Di bahumu yang menawarkan kekuatan.  Ataupun di dadamu yang membagikan kedamaian dengan irama detak jantungmu yang tenang.

Semua (hanya) ingin kulakukan saat ini, walau ketika terbangun selalu menyadari tepian waktuku bersamamu itu nyata adanya..
Airmata itulah yang kian deras mengalirkan kepedihan.. Ayy.
Ceruk hatiku yang terluka akan (selalu) kembali sendiri di ujung kehidupanku.

Maka,
Catatan hatiku kali ini...
Menjadi goresan hati yang menyatakan keegoisanku..
Ingin (selalu) jadi ke['kasih'] yang dapat menjabat hatimu di antara keterbatasan yang kita miliki... Ayy.

Memang mungkin sempurnakan hidup,  namun bukan itu tujuan yang kucari.
Hanya berharap...
Melangkah dengan ketenangan jiwa dan kedamaian pikiran.

Maafkanlah.. Ayy,,
Jika apa yang kupinta ini, terlalu muluk atau berlebih.
Tetap temaniku saja, semampumu....

Kucoba tuliskan semua dengan bahasa yang indah..
Perjalanan waktu ini.. 
Benar mengguratkan ketulusan di keindahan cinta haqiqi .  
Mengalir bagai air..

Bisakah ini terus mengalir.. Ayy??
(tanya di  sudut kegelapan hati...)
 
Tanpa kata...
Yang memang tak pernah cukup, untuk mewakili hati.

Yang kutahu..
Dalam diam pun, yang tertabur di pekat langit malam, selalu bisa kutemui dirimu yang menerangiku.

Karena kau memang BINTANG yang terus memelukku, di belahan manapun langit yang menaungi.
Dan (tetap) jadi KUNANG-KUNANG yang terus tulus temani dengan terangmu... Ayy,,

Tetap izinkan aku yaa,,
@Merindumu...

TITIK NADIR HATI

Kertas putih itu..
Kembali dalam hatiku,
Terhapuskan dari semua kenangan..
Yang tak (lagi) terasa manis dan indah,

Titik nol itu datang lagi..
Dan aku masih berpegang pada tiang rapuh,
Masih pula menggenggamnya erat...
Walau kutahu seperti segenggam pasir.


Yaa Rabb,
Jika memang harus terkaram..
Berikan kekuatan jika berlabuh di pantai yang tak landai,

Yaa  Ilahi,
Jika beberapa putaran Purnama yang terlalui pedih ini..
Berujung pada pembelajaran pada rasa syukur..
Pada kehadiran kebahagiaan,
Dapatkah..
Ajari aku untuk menerimanya sebagai ketentuanku,

Yaa Tuhanku,
Yang kutahu..
Bahwa aku takkan sempurna..
Masih hina dan penuh dosa,

Namun,,
Masihkah Kau izinkan...
Pasrahkan diri,
Kembali sandarkan hati,
Dan tak ingin terjebak dalam benci,

Agar tak limbung kaki melangkah..
Meneruskan hidup,
Dalam tepian ruang dan waktu,

Kekuatanku..
Hanya pada tumpuan kakiku sendiri..
Karena semua ujung kehidupan..
Kau gariskan kembali di kesendirian dan kesunyian,
Dan aku harus tetap temani mereka,
Dalam retasan mimpi,

Untuk itulah..

Pemilik hatiku yang hakiki,
Jika tak ada ujian yang tak sanggup kulalui..
Termohon keteguhan keyakinan dariMu,
Bahwa di ujung jalan yang belum kuyakini ini...
Keindahan itu (masih) ada,
Tetap sempurnakanku dalam ibadah padaMu. 

Pagi itu masih indah..
Embun itu tetap sejuk..
Angin semilir selalu menghembuskan kedamaian,

Matahari tetap lukiskan asa..
Bulan selalu tawarkan keceriaan senyumnya..
Bintang pun masih akan menerangi jalan masa depanku,

Semuanya,
Kembali....


(#TetapPegangkuErat ....dgn (kasih),
semampumu.. Dy )



Friday, August 16, 2013

ELEGI RINDU

Mungkin tak pernah kau tahu...

Jika terdiam, 
Hampir tak pernah terlewati..
Selalu tersebut namamu, 

Ketika membisu,
Pun membisikkan rindu..
Milikmu,
Yang mungkin tak sedalam yang kurasakan,

Dan,
Jika tak mampu tertahankan,
Malam pekat akan menjadi saksi..
Buliran bening pun mengalir..
Menembus dingin malam yang menamparku keras,

Kau,
memang Bintang..
Aku,
adalah Mentari..

Seharusnya,
Kita memang saling merindukan..

Batasan waktu yang selalu menepikan...
Membuatku merasa selalu sendiri,

Dan,

Hidup yang sederhana tak akan menjadi rumit..
Manakala semua bemuara dalam satu rasa,

Ingin,
Aku berlari menjauh.. 
Menepiskan sepi hati ini,

Namun,
Walau memang tak ingin memilikimu erat..
Karena itu bagai menggenggam pasir..
Seperti fatamorgana,

Elegi Rindu ini tetap mengalun untukmu..
Dalam dingin dinding hati,
yang terus menghitam kelam.

*hugs,tears,kisses*

(Tetap ingat aku yaa... semampumu,) 

Friday, August 2, 2013

(HANYA) SEPENGGAL KENANGAN

Aku tertegun, manakala menyadari badan, fikiran dan jiwaku menolak keras apa yang terjadi malam ini.  Tepian malam yang tenang terusik oleh kedatangannya.  Malam memang belum terlalu larut.  Sayup kudengar ayat-ayat suci terlantun dalam raka'at Sholat Tarawih.  Ketukan pintu kamar, mengejutkanku yang sedang mengetik cerita yang harus terkirim malam ini. 

Kufikir.. yang datang adalah Dy.  Sekedar menyapa dan memberikan kejutan manis.  Ciiee... geer nian kau.. Vie.  namun betapa terkejutnya aku, ketika mengetahui siapa yang datang.  El.  Gee... apa pula yang diinginkannya.  Sambil berusaha tenang, dengan senyum yang tersungging terpaksa, kupersilahkan ia duduk di teras.

"Apa kabar... Vie?  Lama kita ga ketemu dan bicara yaa?," ujarnya tenang.
"Hhhmmhh... aku baik, El.  Seperti yang kau lihat.  Aku baik-baik saja."
"Belum mudik?"
"Entahlah... aku rasa tahun ini ga bisa menjadwalkan mudik.  Aku masih teramat sibuk dengan kontrak yang telah kutandatangani."   Aku tak ingin memberikannya peluang untuk mudik bareng.  Rumah kami memang berdekatan.   Emmm... ga apa-apalah.  Pura-pura sok sibuk, batinku.

"Kok.. bisa gitu?" Seolah ia bisa membaca fikiranku.
"Yaa.. bisalah.  Aku sudah diminta Mbak Anis untuk tetap siaran waktu lebaran.  So I will stay... and keep my promise..!" Tegasku.
"Sebenarnya... apa alasanmu datang ke sini.. El?"
"Memangnya aku sudah ga boleh berteman denganmu yaa.. Vie?"
"Ehmmm... bukan ga boleh. Tapi buatku, mungkin sebaiknya... kita menjaga jarak sajalah.  Ga terlalu nyaman buatku untuk itu."   

Aku memang bukan perempuan yang mampu membungkus kata-kata dengan manis.  Ceplas ceplos memang sudah menjadi trade mark-ku.  Malah seringkali inilah yang menyulitkanku. Itu pula alasan mengapa aku lebih nyaman bersahabat dengan kaum Adam.  Aku terbuka dan apa adanya.  Ga bisa basa-basi busuk.  Aaah... kapan yaa... aku bisa belajar bertutur lembut.  Karena terkadang, apa yang kusampaikan langsung, terasa nyelekit, dan melukai perasaan.  Itu semua terjadi di luar kesadaranku.

"Vie... mbok dicoba.. 'tho, bicara yang lembut.  'ndak selalu ceplas ceplos gitu.  Direm.  Dibatasi.  Karena 'ndak semua masalah bisa dengan cara itu," ingat Mbak Anis ketika aku mengalami clash dengan penyiar magang.
"Lha piye 'tho... Mbak.  Wiwit cilik yoo wis ngene.. ," sanggahku membela diri.
"Iyoo.. tapi sebaiknya kamu juga belajar memahami karakter orang yaa.. Vie.  Meminimalisir konflik gitu 'lho..." ujarnya sambil mengusap kepalaku.
"Sedhiko dawuh... Gusti Raden Ayu Anis...," selorohku sambil tergelak.  "Mbak'e... berasa di mana gitu yaa...  Iya.. iya, aku akan belajar untuk mengerti itu."
"Eeeitss... bukan hanya mengerti.. Vie.  Harus dipraktekkan juga kaalii..."
"Siiiaaapp... Mbak Bro.."  sambil tertawa lepas, aku meninggalkannya.  Ia masih menggeleng-gelangkan kepalanya. Tahu bahwa perubahan dalam diriku harus kumulai sendiri. 

Dan.. untuk kesekian kalinya, aku tak melakukan apa yang Mbak Anis sarankan.  Lelah dan kantuk yang menyerangku, mematahkan alasan untuk belajar memahami perbedaan karakter El.  
Tetap saja straight to the point... aahhh, keluhku.  Menyesali apa yang kulakukan ini.

Kulihat wajah El yang masih terkejut, dengan responku.  
"........"
"........"

Hening malam menambah 'dingin' komunikasi kami.  
Tiba-tiba.. tanpa kusadari, dengan cepat El mengambil tanganku.  
"Vie.... please... lihat mataku." Ia memohon dengan berlutut di hadapanku.   

Aku hanya membisu.  Otakku kram.  Konslet.  Tak mampu berfikir.  Yang berkelebatan dalam fikiranku adalah rasa sakit yang tertorehkan selama 6 bulan lalu.  Yang kuingat hanya kepedihan, karena rencana penyusunan proposal beasiswaku hampir gagal, karena aku terlalu terpuruk dengan kekecewaan mendalam.

"Vie... Vie.... please... lihat mataku." Ia kembali memohon.  Kali ini memegang pipiku.

Aku menolaknya.  Aku tak ingin menatapnya dalam.  Menepis tangannya dan menjauh.  Menjaga jarak.
"Please.. El, don't do this...."
"Vie.. aku masih menyayangimu."
"El, It's over.. kay?  I don't wanna discuss it over and over again."
"Vie... please, aku masih merindukanmu...  Ga bisa berpaling darimu."
"........"
"Vie..."
"........"

Aku hanya terus terdiam dan membisu.  Akhirnya El pun memberanikan diri memelukku.  Aku terhenyak.  Langsung tersadarkan satu hal.  Berontak.  Melepaskan diri dari dekapannya.  Tak ada kehangatan itu.  Tak dapat kurasakan.  Hatiku beranjak melow.. karena perih yang terasa teramat menusuk. Aarrrrgghh... aku dulu amat mencintainya.  Love @the first sight.  Hal ajaib yang pernah kurasakan.  Hal yang banyak disangkal orang-orang, karena tak mempercayainya.  Hmmm.... kenapa semua terasa hambar.  Tak ada lagi getaran yang seringkali kurasakan ketika bersamanya.  Dulu.

"El.. please stop it!"  Tanpa sadar aku mendorongnya dan menjauh.
"Vie.."
"El.. tolong, hentikan semua ini.. kay?  Sebaiknya.. kau pulang saja.  Sudah kukatakan.. kita ga mungkin lagi memulai cerita yang manis.  Semua sudah berlalu."

Aku menjauh, dan membentengi diri.  Airmata yang tertahan ini akan tumpah.  Tak ingin diketahuinya.
"Pulang yaa.. El.  Aku lelah..  Besok ada siaran pagi...  Sudah larut pula.. ga enak sama yang lain,"  mengusirnya dengan halus.
"Vie.."
"......"
"......"
"El... sudahlah.  Aku bukan satu-satunya wanita di dunia ini kan?  Masih baaanyaak... wanita yang mungkin lebih baik dariku.  Cerita kita memang sudah selesai.  Maaf.. kalau mungkin itu karena keinginanmu.."  Aku mengingatkannya.
"Vie.."
"El.. sudahlah.. Pulang saja yaa.. tenangkan dirimu."

Dengan langkah gontai, El akhirnya tak memaksakan lagi kehendaknya.  Kulihat punggungnya.  
Gee.. benarkah aku telah membuang semua rasa untuknya? tanyaku dalam hati.

Jujur, aku hanya mampu merasakan hati yang membeku.  Tak lagi bisa merespons semua sentuhan yang dilakukannya tadi.  Tak ada perasaan yang tergetar.  Semua sudah 'lumpuh'.  Hatiku terus mendebat, mengingatkan otak tentang luka yang tertorehkan selama ini.  

Kemana dirimu.. El, ketika aku terluka oleh sikap dinginmu.  Kau hanya sembunyi dalam bayangmu.  Lari dari kenyataan.  Bergulat dengan ego yang seharusnya tak kau permasalahkan.
Kini... ketika aku sudah bisa bangkit.  Tetap meneruskan mimpi yang kubangun dengan hati remuk yang terserak.  Sakiit.. El.  Teramat sakit.  Karena ternyata.. kau tak pernah mau mengenalku, walau bertahun terlalui bersama.

Maaf, jika aku sudah membuang semua kenangan manis bersamamu.  Semua.  Tak tersisa sedikit pun.  Maafkan untuk itu.  Aku tak ingin hal ini terjadi lagi.  Karena ini bukan yang pertama kau lakukan.  Dan kau tak pernah berubah.  Kurasa... dalam hati dan fikiranmu tak pernah ada aku.  Semua hanya tentang dirimu saja.  Semua terlihat hanya dari sisi yang kau anggap 'benar' sendiri.  Tanpa mempertimbangkan perasaan dan fikiranku.

Aku memang bukan wanita sempurna.  Tapi aku akan selalu berusaha menghargai perjuangan yang mengalir di perjalanan kita.  Dengan airmata dan darah.  Itu semua ada di hatiku.  Hanya tak pernah kau lakukan hal yang sama padaku.  Kegundahan yang membuncah ini, kini memang 'menghapus' dirimu dan tentangmu.  Sudah selesai..!

Kembali... 
Kesalahan itu kau lakukan (lagi)..
Tanpa kata maaf, kau ingin merenda hari (lagi) tanpa pedulikan hatiku yang terkoyak.  
Tak ingin.  Tak mungkin.  
Lebih baik aku sendiri saja (dulu).  Meneruskan petualanganku. 
Ini hanya akan membuka luka lama.
Ini akan selalu berulang.

Dan maaf.. 
Jika kini kuputuskan .... untuk TITIK!

Mengulas perjalanan kilasan waktu di sepenggal kenangan pahit ini, merobek pertahanan yang kubangun.  Buliran bening mengalir tak terbendung.  Aku terisak sambil memeluk bonekaku.  Boneka putihku kini basah.  Boneka yang mengingatkanku pada Dy.  
Ingin memeluknya kini.  Berulangkali kupanggil lirih dan membisikkan namanya.  Ingin ditemani-Sahabat hatiku.  Derasnya waktu yang bergulir mengantarkan mengirim pesan singkat ke HPnya.
"Dy...."

Hanya itu yang selalu kuketikkan, jika merasakan gundah di tengah hariku.  Terurai perlahan.  Walau kutahu.. ini hanya sesaat (mungkin).  Tak pernah berani bermimpi membayangkannya 'pergi'.  Tak jua bisa  membayangkan tangis kehilangannya.

Kubuka emailku pagi ini.  Melihat YM.  Terasa seepii.. kini.  Kuketikkan pesan offline untuk Dy.   Rasanya sudah lama kami tak bercerita di sini, ketika mengetik cerita di tengah malam, atau menemaninya bekerja.  Ingin menanyakannya.  Tapi.. selalu kelu memulainya. Yaa... sudahlah Vie, mengalir sajalah.  Biarkanlah.. waktu yang akan menjawabnya.




Yang kutahu, jika Tuhan tak izinkan sekarang...
Tetap kusyukuri tepian waktu yang terluang untukku...
Makasiyy... untuk semua kekuatan hati yang terbagi,
dalam genggaman tangan dan dekapan,
tanpa jeda di tepian waktu yang mengalir..
@SahabatHati